IHSG turun 0,17% ke level 5.925,98 meninggalkan level 6.000. Meski asing net buy Rp561,60 miliar secara keseluruhan, 10 saham mengalami net foreign sell besar dipimpin BMRI (Rp120,07 miliar), TLKM (Rp74,76 miliar), dan BBRI (Rp65,31 miliar).
IHSG merosot 6,96% ke level 6.071 sepanjang September 2026, namun saham SEMA melonjak 319,30% ke Rp478 dan TRUK melejit 203,53% ke Rp2.580 memimpin jajaran top gainer.
PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) milik Haji Isam mendiversifikasi bisnis ke perdagangan BBM, memicu lonjakan harga saham 56% dalam sebulan terakhir kendati valuasinya melesat hingga 90 kali laba.
IHSG sesi I Jumat (9/10/2026) naik 0,35% ke 6.052,51 meski asing net sell Rp32,05 miliar; net buy terbesar SINI Rp15,94 miliar, CUAN Rp12,80 miliar, ARCI Rp9,52 miliar, BBCA Rp9,11 miliar, EMAS Rp8,96 miliar; net sell terbesar GOTO Rp27,91 miliar, BUMI Rp21,98 miliar, BBRI Rp20,63 miliar.
Saham JARR anjlok 6,12% ke Rp3.220 dan PGUN terkoreksi 0,82% ke Rp9.100 setelah pengendali (seperti PT Eshan Agro Sentosa pada JARR) menggadaikan seluruh kepemilikan sahamnya kepada Bank Mandiri (BMRI). Sentimen negatif ini turut menyeret saham afiliasi Haji Isam lainnya, PACK, yang melemah 0,43% ke Rp466 per saham.
Cum dividen besar PTBA dan ANTM berpotensi menarik minat investor, tetapi harga biasanya terkoreksi saat ex-date. Pekan bursa pendek dapat meningkatkan volatilitas dan risiko salah timing.
Musim dividen Mei 2024 menopang minat pada saham pembagi dividen, terutama emiten tambang. Dampak pasar terbatas; harga saham dapat terkoreksi setelah ex-date.
TEBE menyetujui dividen Rp134,9 miliar (Rp105/saham), tetapi menurunkan target angkutan batu bara 2024 di tengah harga melemah. Konversi pelabuhan umum membuka peluang diversifikasi, dengan capex Rp47,6 miliar.