Investor asing mencatatkan net sell Rp976,66 miliar pada sesi I pasca peninjauan klasifikasi MSCI, memicu IHSG anjlok 1,62% ke 6.002,20 dengan tekanan jual terbesar pada BBRI dan TPIA, meski BREN dibeli Rp107,79 miliar.
Rupiah melemah 2,15% ke level Rp 17.707 per dolar AS tertekan oleh status Indonesia sebagai importir minyak dan lonjakan harga energi global. Sentimen domestik restrukturisasi ekspor oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia turut memicu aksi wait and see investor asing menjelang rebalancing MSCI.
RUPST UVCR menyetujui pembagian dividen tunai Rp 1 miliar dan alokasi program ESOP/MSOP Rp 1,5 miliar setelah membukukan lonjakan laba bersih 52,2% menjadi Rp 5,47 miliar pada tahun buku 2025. Sisa laba sebesar Rp 2,97 miliar dialokasikan sebagai laba ditahan untuk memperkuat kapabilitas teknologi dan ekosistem digital gifting.
Rupiah tertekan 2,15% dalam sebulan ke level Rp 17.707 per dolar AS akibat penguatan indeks dolar (DXY di 99,3), kenaikan harga minyak, serta keluarnya arus modal asing.
IHSG menguat sepekan, tetapi sejumlah saham anjlok tajam; ATLA turun 45,17% dan WIKA 22,55%. Tekanan tampak spesifik emiten, bukan pelemahan pasar menyeluruh.