BEI akan mengeluarkan 80 saham HSC (18% bobot IHSG) dari perhitungan IHSG, termasuk DCII (Rp472T), BYAN (Rp393T), BREN (Rp388T), MORA (Rp220T), dan DSSA (Rp206T). Kebijakan ini muncul setelah MSCI mengumumkan rencana mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market, memicu IHSG ambles 11,6% dan lanjut turun 3% ke level terendah 6 tahun.
Realisasi investasi Indonesia Q3-2026 mencapai Rp528,7 triliun (tumbuh 7,6% yoy), dengan industri logam dasar menjadi primadona asing terbesar senilai Rp111,6 triliun (41,3% dari PMA) dan pusat data di posisi kedua Rp44,1 triliun (16,3% PMA).
BP Batam mewajibkan pengembang data center di kawasan Batam membangun instalasi air mandiri sendiri, bukan mengandalkan layanan perusahaan air daerah, sebagai bagian dari ketentuan infrastruktur kawasan.
APJII memproyeksikan kapasitas data center Indonesia akan melampaui 1.000 MW pada 2030, hampir dua kali lipat dari kapasitas operasional saat ini sebesar 540 MW, didorong oleh pertumbuhan ekonomi digital dan permintaan yang terus meningkat.
Menko AHY menekankan pendirian data center harus memperhitungkan dampak lingkungan, terutama kebutuhan air dan energi yang besar, serta tidak boleh menimbulkan kompetisi sumber daya yang tidak adil bagi masyarakat sekitar. Regulasi lingkungan yang lebih ketat berpotensi memperlambat atau menambah biaya pembangunan data center di Indonesia.
Indonesia masuk radar ekspansi data center AI karena keterbatasan listrik di Singapura dan Malaysia, dengan analis CGS International menilai Indonesia berada di tahap serupa Malaysia awal siklus ekspansi DC 2022. Perhatian investor diperkirakan mengarah pada peluang AI Neocloud di Indonesia.
IHSG ditutup menguat 1,21% ke level 6.192,93 ditopang lonjakan sektor energi sebesar 4,14% serta penguatan saham BYAN, AMMN, dan GOTO dengan total transaksi Rp10,97 triliun. Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan jual pada BBCA dan BBRI serta lonjakan imbal hasil US Treasury 10-tahun ke 5,307%.
IHSG menguat 1,26% ke level 6.196,09 di akhir Sesi I didorong oleh lonjakan sektor energi sebesar 3,08% dan teknologi 2,1% dengan nilai transaksi mencapai Rp5,62 triliun. Saham BYAN, BBRI, MORA, GOTO, dan DCII tampil sebagai pendorong utama kenaikan indeks.
IHSG melesat 1,01% ke level 6.180,43 pada sesi I ditopang lonjakan sektor energi sebesar 2,5% serta penguatan saham BYAN, BBRI, dan GOTO dengan nilai transaksi mencapai Rp4,03 triliun.
DCII meraih fasilitas kredit investasi hingga Rp 17 triliun dari BCA, sementara ERAL, IFSH, BOAT, CGAS, dan CBRE turut memperoleh fasilitas pinjaman bank untuk modal kerja dan ekspansi.
Emiten seperti DCII meraih kredit investasi hingga Rp 17 triliun dari BBCA, disusul ERAL, IFSH, BOAT, CGAS, dan CBRE yang turut mengamankan pinjaman bank untuk ekspansi di tengah bayang-bayang suku bunga tinggi.
IHSG anjlok 3,46% ke level 6.370,68 dan diproyeksikan MNC Sekuritas rawan melanjutkan pelemahan menuju kisaran 6.084-6.148. Tekanan jual berat dipimpin oleh saham CUAN (-13,33%), MBMA (-11,85%), dan DEWA (-11,82%).
Wall Street menguat, dipimpin saham teknologi megakap setelah kinerja Alphabet dan Microsoft melampaui ekspektasi serta inflasi moderat. Sentimen risiko global membaik.
DCII menganggarkan capex Rp1 triliun untuk ekspansi; kapasitas ditargetkan mencapai 119 MW pada akhir 2024. Prospek pertumbuhan positif, dengan risiko eksekusi dan pemanfaatan kapasitas.
IHSG sempat mencetak ATH 7.454, tetapi turun 0,73% sepekan dan ditutup di 7.328. BMRI, TLKM, AMMN menjadi penopang utama; kenaikan SSIA 50% menambah risiko volatilitas.
Bank big caps memimpin IHSG; saham Grup Barito dan teknologi tertinggal. Rotasi sektor berpotensi berlanjut, dengan peluang penguatan terbatas pada bank.
E1 beroperasi penuh dengan kapasitas 18 MW, Tier IV, dan AI; memperkuat kapasitas serta daya saing DCII. Permintaan sektor vital mendukung prospek pusat data.
Reli membaiknya laba dan prospek Nvidia mengangkat Wall Street, dipimpin Nasdaq. Sentimen AI berpotensi menopang saham teknologi Indonesia, tetapi dampak langsung terbatas.