IHSG anjlok 3,64% ke 4.996,61 dengan asing net sell jumbo Rp1,72 triliun di seluruh pasar. BBRI menjadi saham paling banyak dijual asing senilai Rp1,08 triliun, diikuti BBCA Rp986,87 miliar dan TLKM Rp367,48 miliar.
Asing net sell Rp1,05 triliun di sesi I dengan IHSG anjlok 5,05% ke level 4.923,26. BBCA menjadi saham paling banyak dilepas asing senilai Rp670,83 miliar, diikuti BBRI Rp515,17 miliar, sementara total net sell di dua saham bank tersebut (Rp1,19 T) melebihi total net sell seluruh pasar.
MilkLife Soccer Challenge di Bekasi (1.261 peserta dari 80 SD/MI) dan Kudus (1.672 peserta dari 100 SD/MI) mengalami peningkatan peserta signifikan, menunjukkan keberhasilan program CSR sepak bola putri usia dini.
BPJPH mencatat lonjakan permintaan sertifikasi halal dari rata-rata 6.000-7.000 menjadi lebih dari 10.000 per hari menjelang implementasi Wajib Halal pada 18 Oktober 2026, menandakan peningkatan aktivitas industri makanan dan minuman.
IHSG terkoreksi 0,75% ke 6.146,72 dengan total net foreign sell mencapai Rp871,36 miliar, namun investor asing tetap memborong sejumlah saham defensif dan komoditas. Aksi beli bersih asing terbesar tercatat pada BBRI sebesar Rp129,58 miliar, disusul ULTJ senilai Rp25,92 miliar dan TLKM sebesar Rp22,26 miliar.
IHSG anjlok 8,35% dalam sepekan ke 6.162, didorong sikap hawkish The Fed, kenaikan suku bunga BI, dan aksi jual asing net sell Rp309 miliar. Technical rebound terbatas diperkirakan, namun volatilitas tinggi dengan support 5.996-5.899. Sektor basic materials dan energi sempat rebound akibat rumor penundaan kebijakan ekspor satu pintu.
Berita ini menyoroti tekanan jangka pendek pada IHSG akibat volatilitas minyak, ekspektasi suku bunga global tinggi, pelemahan rupiah, dan perlambatan domestik. Potensi koreksi menuju level 6.000 dinilai terbuka, meskipun ada harapan rebound setelah valuasi diskon ekstrem.
IHSG menghadapi tekanan jual masif akibat kombinasi arus keluar asing pasca-rebalancing FTSE/MSCI, pelemahan Rupiah ke level Rp17.700, dan kenaikan BI Rate. Meskipun valuasi secara fundamental sudah terdiskon (undervalue), sentimen makro dan risiko kebijakan domestik terus memicu aksi jual pada saham-saham big caps.
TPIA masuk MSCI Global Standard, berpotensi menarik arus dana pasif; TOWR dan SMGR turun ke Small Cap, berisiko tertekan. Dampak jangka pendek cenderung positif bagi saham yang masuk indeks, negatif bagi yang terdepak.
Rupiah lemah menaikkan biaya bahan baku impor emiten konsumer. Harga gula dan gandum yang turun memberi bantalan, tetapi risiko konflik Timur Tengah membayangi.
Cukai minuman manis berisiko menekan margin dan permintaan emiten dengan eksposur minuman tinggi; skema penerapan belum final. Dampak ULTJ dan KINO relatif besar, CMRY lebih terbatas.