IHSG ditutup turun 3,64% ke 4.996,61 dengan net sell asing Rp2,28 triliun, namun analis BNI Sekuritas Fanny Suherman memproyeksikan technical rebound ke 5.020-5.160 dengan catatan potensi koreksi lanjutan masih terbuka akibat ketidakpastian MSCI.
IHSG turun 3,64% ke 4.996,61 dengan net foreign sell jumbo Rp1,72 triliun di seluruh pasar, namun asing memborong saham-saham tertentu terutama BBNI (Rp95,87 miliar), INDF (Rp71,78 miliar), dan saham tambang seperti EMAS, MEDC, ANTM, INCO.
MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguat jangka pendek menguji 5.046-5.133 setelah terkoreksi 3,64% ke 4.996, namun waspadai pembalikan ke 4.766-4.846. Rekomendasi Trading Buy untuk AADI di Rp9.900-10.075 dengan target Rp10.400-10.650.
Sembilan emiten perkebunan termasuk PGUN (emiten Haji Isam) merespons permintaan BEI soal karhutla; mayoritas menyatakan tidak ada dampak material terhadap pendapatan, laba, dan aset, serta target produksi 2026 tetap berjalan normal. PGUN mengakui ada karhutla di sekitar area konsesinya di Kab. Paser, Kaltim, namun operasional pemanenan dan pengolahan CPO tetap normal.
PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mengantongi porsi terbesar dari total dividen Rp1,29 triliun yang dibagikan anak usahanya, PT Agro Multi Persada (AMP), seiring kepemilikan TAPG sebesar 94,93%.
Indeks Bisnis-27 dibuka melemah tipis 0,08% ke level 440,74 tertekan anjloknya saham BUMI (-5,41%), TAPG (-4,94%), dan DEWA (-4,76%). Koreksi indeks komoditas tertahan oleh penguatan saham perbankan besar seperti BBRI (+1,97%) dan BBCA (+1,69%) di tengah sentimen ketegangan Selat Hormuz dan penantian rebalancing MSCI.
Kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menciptakan ketidakpastian regulasi dan risiko birokrasi yang menekan margin emiten komoditas. Sentimen ini memperburuk risk premium pasar di tengah tekanan outflow asing dan pelemahan Rupiah, memicu volatilitas tinggi pada saham sektor energi dan batubara.
Ketidakpastian skema satu pintu ekspor menekan sentimen pada emiten batu bara dan CPO; perluasan ke logam serta LNG menambah risiko kebijakan. Investor menunggu rincian implementasi dan dampaknya pada arus dana eksportir.
Laba bersih TAPG pada kuartal I-2026 turun 8% yoy menjadi Rp 767 miliar akibat penurunan produksi TBS ke 698.000 ton, namun kinerjanya diproyeksikan rebound berkat harga CPO tinggi di kisaran MYR 4.200-4.600 dan katalis B50 dengan rekomendasi Buy di target Rp 2.200.
IHSG naik tipis 0,15%, tetapi asing net sell Rp2,02 triliun dan saham melemah lebih banyak daripada yang menguat; reli tampak rapuh. Arus jual terkonsentrasi pada TAPG dan perbankan besar.
IHSG naik 0,15% meski asing net sell Rp 2,01 triliun; tekanan jual terkonsentrasi di TAPG, BBRI, dan BBCA. Sektor teknologi memimpin kenaikan, sementara EXCL dan ASII mencatat net buy asing terbesar.
Musim dividen Mei 2024 menopang minat pada saham pembagi dividen, terutama emiten tambang. Dampak pasar terbatas; harga saham dapat terkoreksi setelah ex-date.
TAPG membagikan dividen Rp1,8 triliun atau Rp91 per saham, payout 140% laba 2023; positif bagi pemegang saham, namun berpotensi membatasi fleksibilitas kas.
Produksi CPO turun 8,25% dan ekspor 26,48% pada Februari, sebagian terkait jumlah hari yang lebih sedikit. Penurunan ekspor berisiko menambah stok; dampak harga CPO campuran.
Harga TBS Riau naik 5,22% ke Rp2.925,16/kg, didorong kenaikan harga CPO dan kernel. Sentimen positif terbatas bagi emiten sawit; dampak bergantung pada harga jual dan biaya produksi.
Risiko cuaca ekstrem dapat menekan produksi dan pengiriman sawit, tetapi TAPG mengoptimalkan pemupukan serta infrastruktur. Produksi hingga Februari masih di atas tahun lalu.
Harga CPO berpotensi menguat karena stok Malaysia menurun dan permintaan Ramadan meningkat, meski ekspor melemah tajam. Prospek bergantung pada pembelian India, China, dan Uni Eropa.
Laba bersih TAPG turun 46,05% dan pendapatan turun 10,91% pada 2023 akibat koreksi harga komoditas, biaya pupuk naik, serta produksi melemah. Prospek 2024 bergantung pada pemulihan produktivitas dan harga jual.
CPO naik 5,09% sebulan ke MYR 4.071/ton, didukung suplai ketat dan prospek permintaan Ramadan. Risiko cuaca serta tenaga kerja menopang harga, tetapi kenaikan biaya pangan dapat membatasi dampak makro.
Penurunan produksi global dan stok CPO berpotensi menopang harga; TAPG menargetkan produksi 223.000 ton pada Q1, dengan perlambatan musiman. DMO menjaga pasokan domestik menjelang Ramadan.
Harga CPO menguat musiman menjelang Ramadan dan Lebaran; pasokan berpotensi ketat akibat El Niño dan rencana B40. Namun, oversupply global dan lemahnya minyak nabati sejenis membatasi prospek harga hingga akhir tahun.
Batu bara naik 5,39–9,02% sepekan; CPO menguat menjelang konferensi industri Malaysia. Prospek positif bagi emiten komoditas, dengan volatilitas harga tetap tinggi.
Harga CPO menguat, didukung permintaan Ramadan dan potensi penurunan produksi. Proyeksi MYR 3.750/ton pada Q1 dan MYR 3.950/ton pada Q2 mendukung emiten sawit, tetapi pelemahan minyak nabati pesaing membatasi kenaikan.