Menteri KKP Trenggono menegaskan Indonesia hanya mengimpor ikan salmon, dengan produksi domestik 13 juta ton dan ekspor perikanan mencapai US$6,5 miliar per tahun, didominasi udang dan tuna cakalang. Impor udang telah dihentikan untuk melindungi pembudidaya lokal.
Pemerintah menjamin keamanan ekspor udang dan rempah ke AS melalui sertifikasi SSC bebas Cs-137, dengan KKP telah menerbitkan sertifikasi untuk 95.438 ton udang senilai Rp16 triliun dan BPOM untuk rempah senilai Rp48 triliun tanpa ada penolakan dari AS.
Menteri KKP Trenggono mengumumkan proyek budidaya udang berskala besar di Waingapu, NTT dengan target produksi 52.000 ton dan penyerapan 7.000 tenaga kerja, sesuai arahan Presiden Prabowo untuk menggeser fokus dari penangkapan masif ke akuakultur berkelanjutan. Proyek ditargetkan selesai akhir 2027.
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono membahas upaya mendorong produktivitas budidaya udang dengan nilai ekspor hampir USD 2 miliar ke AS dan China, serta perlindungan nelayan lokal dari tekanan impor perikanan dan penyelundupan benih lobster.
Ekspor udang penaidea Kaltim periode Januari-September 2026 mencapai 1.722,34 ton senilai Rp344,65 miliar, dengan puncak pengiriman 277,33 ton pada April dan tren kenaikan di September mencapai 231 ton senilai Rp48,59 miliar ke 8 negara tujuan utama.
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mendorong penguatan RI sebagai eksportir udang ke-4 terbesar dunia dengan nilai ekspor hampir USD 2 miliar, melalui perbaikan infrastruktur budidaya dan perlindungan nelayan lokal dari tekanan impor.
Menteri KP Trenggono menargetkan pembangunan 40.000 titik budidaya ikan Mini RAS hingga 2029, diproyeksikan menghasilkan 1,2 juta ton ikan/tahun dengan valuasi ratusan triliun rupiah dan menciptakan 80.000 lapangan kerja. Tahap awal 2.000 titik ditargetkan selesai akhir 2026.