Singapura memperluas penindakan terhadap 10 perusahaan Indonesia yang diduga memicu kebakaran hutan, termasuk PT Bumi Mekar Hijau, PT SBA Wood Industries, dan lainnya. Bursa Efek Singapura juga meminta informasi dari 7 perusahaan pertanian terdaftar terkait karhutla, dengan ancaman sanksi finansial dan hukum.
El Nino diperkirakan menguat hingga akhir 2026 dan berlanjut sampai Februari 2027, dengan Indonesia masuk negara paling terdampak, berpotensi memicu cuaca ekstrem yang mengganggu sektor pertanian, perkebunan, dan ketahanan pangan.
Buyback emiten besar memberi dukungan sentimen dan potensi penahan harga, tetapi dampaknya terbatas pada masing-masing saham. Aksi korporasi tidak menghapus risiko volatilitas maupun menggantikan perbaikan fundamental.
Laba bersih BWPT melonjak meski pendapatan dan harga jual rata-rata CPO turun, ditopang efisiensi biaya serta produktivitas. Kinerja positif, tetapi tetap rentan terhadap harga komoditas.
Ekspansi ke EV, infrastruktur, emas digital, dan kanal daring membuka peluang pertumbuhan baru. Dampak masih bergantung pada eksekusi, kebutuhan modal, dan profitabilitas.
Harga CPO berpotensi menguat karena stok Malaysia menurun dan permintaan Ramadan meningkat, meski ekspor melemah tajam. Prospek bergantung pada pembelian India, China, dan Uni Eropa.
Laba BWPT naik 10 kali menjadi Rp177 miliar, didukung turnaround; pendapatan turun 8,08% akibat harga CPO dan PK melemah. Kerugian divestasi Rp214 miliar menekan laba, tetapi bersifat nonoperasional.
Laba BWPT naik 10 kali, terutama berkat manfaat pajak; pendapatan turun 8,08% meski laba kotor naik tipis. Kenaikan laba kurang mencerminkan penguatan operasional.
Harga CPO menguat, didukung permintaan Ramadan dan potensi penurunan produksi. Proyeksi MYR 3.750/ton pada Q1 dan MYR 3.950/ton pada Q2 mendukung emiten sawit, tetapi pelemahan minyak nabati pesaing membatasi kenaikan.
PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menyatakan bahwa sengketa investasi Lembaga Kemajuan Tanah Persekutuan (FELDA) Malaysia tidak melibatkan BWPT dan tidak berdampak material terhadap operasional maupun kondisi keuangannya, dengan potensi kerugian sekitar Rp11,01 triliun