Pemerintah mencatat kebutuhan listrik data center di Indonesia mencapai 20 GW (20% kapasitas existing), dengan rencana pembangunan PLTS 100 GWp dan RUPTL PLN 2025-2034 menargetkan tambahan 69,5 GW kapasitas pembangkit senilai Rp2.967,4 triliun. Batam sudah memiliki 1,47 GW kapasitas data center dan kontrak PLN-DayOne 450 MW.
Kemkomdigi melalui Sekjen Ismail menyatakan kebijakan spektrum frekuensi murah untuk memperluas jaringan 5G, dengan lebih dari 98% wilayah sudah terhubung 4G dan lelang spektrum terbaru menggunakan harga terjangkau untuk mendorong investasi operator.
Menteri ESDM Bahlil menyebut pengembangan pusat data di Indonesia membutuhkan tambahan listrik 20 GW (20.000 MW) dan mendorong pembangunan PLTS 100 GWp serta pengembangan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai hub data center. PLN Batam dan DayOne telah menandatangani PJBTL 511 MVA serta MoU PLTS terapung 200 MWp.
Kemkomdigi menargetkan peningkatan kecepatan fixed broadband dari 67,45 Mbps ke 100 Mbps pada 2029, membuka frekuensi 700 MHz, 1,4 GHz, dan 2,6 GHz untuk perluasan jaringan, serta memproyeksikan ekonomi digital Indonesia naik dari $99 miliar (2025) menjadi $360 miliar pada 2030.
Suku Dinas Bina Marga Jakarta Pusat menertibkan kabel udara sepanjang 1 km di Jalan Senen Raya III, dengan target penertiban 15 km hingga akhir 2026 dan 4,5 km pada 2027, berkoordinasi dengan Apjatel dan operator telekomunikasi.
Menkomdigi Meutya Hafid memaparkan 3 pilar transformasi digital RI di Bali Tech Week 2026: penetrasi internet 81,72% (235 juta pengguna), GMV ekonomi digital diproyeksikan US$99 miliar (tumbuh 14%), dan ekosistem Garuda Spark telah menarik investasi Rp429,5 miliar untuk 80 startup.
Huawei memaparkan strategi '3R' untuk membangun ulang arsitektur jaringan telekomunikasi di era AI pada kongres WBBA di Wina, menekankan pergeseran fokus dari wilayah administratif ke pusat data AI (AIDC) dan integrasi layanan komputasi-jaringan.
Menko Infrastruktur AHY mengingatkan agar konsumsi air industri data center tidak mengganggu kebutuhan air bersih masyarakat, menyoroti potensi regulasi penggunaan air untuk sektor data center di Indonesia.
Menara BTS setinggi 32 meter di Jelambar, Jakarta Barat, dibangun tanpa izin Sudin Citata dan telah dijatuhi SP 1; warga mengumpulkan petisi penolakan dan kelurahan berencana memblokir penerbitan izin.
APJII memproyeksikan kapasitas data center Indonesia akan melampaui 1.000 MW pada 2030, hampir dua kali lipat dari kapasitas operasional saat ini sebesar 540 MW, didorong oleh pertumbuhan ekonomi digital dan permintaan yang terus meningkat.
Menko AHY menekankan pendirian data center harus memperhitungkan dampak lingkungan, terutama kebutuhan air dan energi yang besar, serta tidak boleh menimbulkan kompetisi sumber daya yang tidak adil bagi masyarakat sekitar. Regulasi lingkungan yang lebih ketat berpotensi memperlambat atau menambah biaya pembangunan data center di Indonesia.
Indonesia masuk radar ekspansi data center AI karena keterbatasan listrik di Singapura dan Malaysia, dengan analis CGS International menilai Indonesia berada di tahap serupa Malaysia awal siklus ekspansi DC 2022. Perhatian investor diperkirakan mengarah pada peluang AI Neocloud di Indonesia.
BEI mencabut status High Shareholding Concentration (HSC) dari FILM (MD Entertainment) dan MGLV (NexAI Digital Infrastruktur) karena sebaran kepemilikan saham dinilai sudah tidak lagi terpusat, sementara 19 emiten lainnya masih berstatus HSC.
BEI merilis 19 emiten berstatus High Shareholding Concentration (HSC) seperti SSMS, MTEL, dan TBIG, sementara OJK bersiap melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap saham HSC yang aktif demi mengantisipasi manipulasi harga.
BEI memperbarui daftar High Shareholding Concentration (HSC) menjadi total 80 saham per 13 Oktober, dengan mendepak LUCY, MGLV, dan FILM serta memasukkan belasan emiten termasuk SSMS, TBIG, BMAS, dan PSAB.
BEI dan KSEI memasukkan 10 emiten ke dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC), dipimpin oleh kepemilikan terkonsentrasi sangat tinggi pada SMMT (97,12%), TBIG (96,62%), dan SSMS (95,79%). Masuknya emiten-emiten ini mencerminkan minimnya porsi saham publik (free float) yang memicu risiko likuiditas bagi investor ritel.
Indeks IDXINFRA anjlok 31,16% YTD akibat pelemahan rupiah ke Rp 17.717 per dolar AS dan kenaikan suku bunga BI sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Pelemahan signifikan ini dipicu kejatuhan saham berbobot besar seperti BREN (-74,85% YTD), TBIG (-50,93% YTD), CDIA (-55,04% YTD), serta penurunan laba bersih TLKM sebesar 20,5% YoY.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) berencana menerbitkan surat utang valas hingga US$ 900 juta (sekitar Rp 13,87 triliun) atau setara 112,4% ekuitas untuk refinancing dan ekspansi. Aksi korporasi dalam jangka waktu 12 bulan ini memerlukan persetujuan pemegang saham pada RUPST 30 Mei 2024.
TBIG mengumumkan rencana buyback hingga 396,5 juta saham (maksimal 1,75%) dengan alokasi dana Rp800,8 miliar, sekaligus memperluas lini bisnis dua anak usahanya ke penyewaan power supply baterai menara dan properti.
SRTG membagikan dividen Rp22 per saham dengan yield 1,42%, ditopang arus kas dividen kuat meski mencatat rugi bersih akibat penurunan nilai portofolio. Dampak positif terbatas; risiko valuasi investasi tetap tinggi.
Dividen Rp298,43 miliar ditopang arus kas dividen dan divestasi kuat meski SRTG rugi Rp10,15 triliun akibat penurunan nilai portofolio. Diskon besar terhadap NAV mendukung potensi revaluasi, tetapi kinerja tetap rentan volatilitas aset.
Buyback emiten besar memberi dukungan sentimen dan potensi penahan harga, tetapi dampaknya terbatas pada masing-masing saham. Aksi korporasi tidak menghapus risiko volatilitas maupun menggantikan perbaikan fundamental.
Ekspansi ke EV, infrastruktur, emas digital, dan kanal daring membuka peluang pertumbuhan baru. Dampak masih bergantung pada eksekusi, kebutuhan modal, dan profitabilitas.
Akumulasi pengendali di AKRA, BABY, TBIG, dan TMAS memberi sinyal positif terbatas; penjualan besar di ESSA menjadi sinyal campuran. Konsentrasi kepemilikan dapat mengurangi saham beredar dan likuiditas.
IHSG berpotensi rebound, tetapi tekanan koreksi masih dominan akibat rupiah lemah dan fluktuasi komoditas; support 7.197–7.234 jadi level kunci. Cadangan devisa dapat menopang sentimen jika menunjukkan stabilitas.
Penerbitan surat utang di BEI mencapai Rp11,9 triliun pada pekan kedua Februari 2024, dengan 12 emisi dari 10 penerbit, termasuk PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) yang menerbitkan obligasi senilai Rp2,7 triliun
Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka peluang untuk melakukan rebalancing indeks LQ45 selama tiga bulan sekali, dan empat saham baru masuk dalam indeks LQ45, yaitu MBMA, MTEL, PGEO, dan PTMP