BEI akan mengeluarkan 80 saham HSC (18% bobot IHSG) dari perhitungan IHSG, termasuk DCII (Rp472T), BYAN (Rp393T), BREN (Rp388T), MORA (Rp220T), dan DSSA (Rp206T). Kebijakan ini muncul setelah MSCI mengumumkan rencana mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market, memicu IHSG ambles 11,6% dan lanjut turun 3% ke level terendah 6 tahun.
IHSG anjlok 1,70% ke level 5.835,14 pada Selasa pagi, memperpanjang pelemahan tajam akibat tekanan jual pada 533 saham khususnya emiten konglomerasi seperti DSSA, TPIA, BRPT, BREN, BYAN, dan MORA.
IHSG ditutup naik 1,04% ke 6.093,76 Jumat (9/10/2026), menguat 0,94% sepekan; 10 saham penopang utama dipimpin MORA (+11,88%, 9,24 poin) dan ASII (+4,10%, 7,71 poin), di tengah net sell asing Rp2,54 triliun.
IHSG melesat 1,01% ke level 6.180,43 pada sesi I ditopang lonjakan sektor energi sebesar 2,5% serta penguatan saham BYAN, BBRI, dan GOTO dengan nilai transaksi mencapai Rp4,03 triliun.
IHSG ditutup menguat 1,21% ke level 6.192,93 ditopang lonjakan sektor energi sebesar 4,14% serta penguatan saham BYAN, AMMN, dan GOTO dengan total transaksi Rp10,97 triliun. Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan jual pada BBCA dan BBRI serta lonjakan imbal hasil US Treasury 10-tahun ke 5,307%.
IHSG menguat 1,26% ke level 6.196,09 di akhir Sesi I didorong oleh lonjakan sektor energi sebesar 3,08% dan teknologi 2,1% dengan nilai transaksi mencapai Rp5,62 triliun. Saham BYAN, BBRI, MORA, GOTO, dan DCII tampil sebagai pendorong utama kenaikan indeks.
Indeks IDXINFRA anjlok 31,16% YTD akibat pelemahan rupiah ke Rp 17.717 per dolar AS dan kenaikan suku bunga BI sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Pelemahan signifikan ini dipicu kejatuhan saham berbobot besar seperti BREN (-74,85% YTD), TBIG (-50,93% YTD), CDIA (-55,04% YTD), serta penurunan laba bersih TLKM sebesar 20,5% YoY.
IHSG dibuka naik 0,55% ke 6.353,09 ditopang penguatan saham big caps seperti BBCA (+1,26%) dan lonjakan MORA (+10,88%), kendati dibayangi kenaikan BI Rate 50 bps menjadi 5,25% serta paparan RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo.
Setelah ditutup melemah 0,82% ke level 6.318,50 tertekan saham BRPT dan CUAN, IHSG dibuka rebound 0,55% ke 6.353,09 didorong penguatan saham perbankan seperti BBCA dan BMRI. MNC Sekuritas memproyeksikan rentang support indeks di 6.148-6.092 serta merekomendasikan buy on weakness untuk AADI, HRTA, dan MBMA.
IHSG anjlok tajam 3,54% (-223,56 poin) ke level 6.094,94 dengan nilai transaksi mencapai Rp18,03 triliun dan 700 saham tercatat melemah. Tekanan jual masif ini dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti ASII, BRMS, BYAN, dan MORA saat bursa Asia lainnya justru mayoritas menguat.
IHSG anjlok 3,46% ke level 6.370,68 dan diproyeksikan MNC Sekuritas rawan melanjutkan pelemahan menuju kisaran 6.084-6.148. Tekanan jual berat dipimpin oleh saham CUAN (-13,33%), MBMA (-11,85%), dan DEWA (-11,82%).
IBST menjual aset fiber optik idle senilai Rp15,7 miliar ke MORA, memberi tambahan kas dan menekan biaya operasional. Dampak terbatas, tanpa katalis makro signifikan.