FTSE Russell Depak HILL, MLIA dan DSSA dalam Reviu Indeks Juni 2026
FTSE Russell resmi mendepak DSSA dari GEIS Large Cap serta HILL dan MLIA dari GEIS Micro Cap efektif per 22 Juni 2026, yang berpotensi memicu tekanan jual dari dana pasif global.
PT Hillcon Tbk
Harga Terakhir
16
Perubahan
0 (0.00%)
Lot
0
Val
0
Avg Val (20H)
0
Penanda ▲/▼ = hari dengan berita bullish/bearish dominan (angka = jumlah berita). Klik chart pada tanggal itu untuk menyorot beritanya.
FTSE Russell resmi mendepak DSSA dari GEIS Large Cap serta HILL dan MLIA dari GEIS Micro Cap efektif per 22 Juni 2026, yang berpotensi memicu tekanan jual dari dana pasif global.
FTSE Russell mendepak saham DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA yang menurunkan bobot Indonesia dari 0,88% menjadi 0,86%, memicu potensi capital outflow dana pasif hingga US$297 juta (Rp5,2 triliun) hingga 22 Juni 2026.
FTSE Russell mendepak DSSA dari indeks Large Cap akibat isu konsentrasi kepemilikan saham tinggi (HSC), serta mengeluarkan DAAZ, HILL, dan MLIA dari kategori Micro Cap efektif 22 Juni 2026. Penghapusan dengan skema harga nol ini dilakukan tanpa adanya penambahan emiten baru asal Indonesia, memicu risiko arus keluar dana pasif.
IHSG naik 1,10% ke level 6.162,04 didorong lonjakan saham tambang seperti MDKA (+24,77%), namun dibayangi net sell asing Rp1,07 triliun serta ancaman outflow hingga US$2,86 miliar akibat dikeluarkannya DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks FTSE Russell. Di sisi lain, SINI bersiap rights issue Rp5.000 per saham untuk akuisisi anak usaha PTRO senilai Rp1,73 triliun.
IHSG menguat 0,93% didorong saham perbankan, menunjukkan sentimen positif di pasar.
Saham DAAZ anjlok ARB setelah dikeluarkan dari indeks FTSE Russell. Sentimen negatif juga mempengaruhi saham sektor terkait.
FTSE Russell mengeluarkan empat saham Indonesia dari indeksnya, memicu risiko arus keluar dana asing jangka pendek. BEI menganggap ini konsekuensi reformasi pasar modal, namun sentimen negatif terhadap likuiditas dan persepsi pasar global dapat menekan saham-saham terkait dan indeks secara umum.
Saham SMCB yang masih disuspensi tetap mengumumkan dividen Rp329 miliar, didukung laba bersih 2025 Rp658,7 miliar dan pertumbuhan laba kuartal I-2026 sebesar 111%. Sentimen positif dari dividen dan perbaikan fundamental dapat mendorong minat beli saat suspensi dicabut, meskipun risiko suspensi masih membatasi likuiditas jangka pendek.
Penghapusan DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS) akan memicu tekanan jual dari dana pasif global yang melakukan rebalancing pada 19 Juni 2026. Masalah fundamental terkait free float, konsentrasi kepemilikan, dan status pemantauan khusus (Papan Pemantauan Khusus) menjadi katalis negatif utama yang dapat menurunkan likuiditas saham-saham tersebut.
Penghapusan empat emiten (DSSA, DAAZ, HILL, MLIA) dari indeks FTSE Russell memicu potensi outflow dana asing dari passive funds hingga Rp 5,2 triliun. Penurunan bobot Indonesia dalam indeks FTSE Emerging Markets dari 0,88% menjadi 0,86% mencerminkan risiko likuiditas jangka pendek bagi saham-saham terkait dan sentimen negatif bagi pasar modal Indonesia.
IHSG menghadapi tekanan jual masif akibat kombinasi arus keluar asing pasca-rebalancing FTSE/MSCI, pelemahan Rupiah ke level Rp17.700, dan kenaikan BI Rate. Meskipun valuasi secara fundamental sudah terdiskon (undervalue), sentimen makro dan risiko kebijakan domestik terus memicu aksi jual pada saham-saham big caps.
Penghapusan konstituen dari indeks FTSE GEIS, terutama DSSA yang didepak dari kategori large cap, akan memicu tekanan jual dari dana pasif (passive funds) yang melakukan replikasi indeks. Mekanisme penghapusan pada harga nol (price of zero) mengindikasikan masalah likuiditas dan transparansi yang serius, yang berpotensi meningkatkan volatilitas pada saham-saham terkait menjelang tanggal efektif 8 Juni 2026.
DSSA dikeluarkan dari indeks FTSE Large Cap akibat masalah konsentrasi kepemilikan (HSC), yang berpotensi memicu aksi jual oleh investor institusi yang melakukan rebalancing portofolio pasif. Sementara itu, penghapusan DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks micro cap menyoroti risiko likuiditas dan kepatuhan terhadap regulasi bursa, memperburuk sentimen negatif pada saham-saham tersebut.
Cum dividen besar PTBA dan ANTM berpotensi menarik minat investor, tetapi harga biasanya terkoreksi saat ex-date. Pekan bursa pendek dapat meningkatkan volatilitas dan risiko salah timing.
Musim dividen Mei 2024 menopang minat pada saham pembagi dividen, terutama emiten tambang. Dampak pasar terbatas; harga saham dapat terkoreksi setelah ex-date.
HILL menganggarkan capex Rp600 miliar, berpotensi meningkat jika dua proyek pipeline diperoleh. Target produksi batubara naik 10% dan nikel 15%–20%; realisasi bergantung kontrak dan eksekusi.
HILL siapkan capex Rp600 miliar, berpotensi naik jika dua pipeline proyek terealisasi. Produksi nikel diproyeksi tumbuh 15%–20%, tetapi prospek bergantung pada kontrak dan eksekusi.
HILL tăng doanh thu 23,89%, lợi nhuận ròng 16,62% năm 2023. Chi phí tăng mạnh kéo lợi nhuận hoạt động giảm 44,93%, báo hiệu áp lực biên lợi nhuận.
IHSG melemah di bawah 7.100, sementara saham unggulan pekan ini melonjak tajam, terutama saham berharga rendah. Kenaikan terkonsentrasi dan suspensi LABA menandakan risiko spekulasi tinggi.
HILL alokasikan capex Rp600 miliar; produksi batu bara diproyeksi naik 10% dan nikel 15%–20%. Potensi kontrak baru menambah peluang pertumbuhan, dengan risiko eksekusi.
HILL bagikan dividen Rp35/saham, naik dari Rp30 tahun lalu. Sinyal positif bagi pemegang saham.
HILL membagikan dividen Rp35 per saham, total Rp103,19 miliar dari laba 2023. Sinyal positif bagi pemegang saham, dampak pasar terbatas.
IHSG naik 1,40% sepekan; kenaikan tajam terkonsentrasi pada saham tertentu. Momentum positif, tetapi rawan volatilitas dan tidak mencerminkan penguatan merata.