GMFI menerima pesawat Falcon 8X pertama (A-0801) milik TNI AU untuk perawatan di Hanggar 4 pada 6 Oktober 2026, dengan total 6 unit Falcon 8X yang akan menjalani scheduled maintenance melalui program FalconCare hingga 2029, menandai pengembangan kapabilitas baru perusahaan.
GMFI berencana menerbitkan hingga 22,03 miliar saham baru Seri B (nominal Rp19) via rights issue untuk ekspansi usaha dan pemenuhan free float, dengan risiko dilusi maksimal 15%.
GMFI resmi menandatangani perjanjian konsesi 20 tahun dengan CAA Oman untuk mengoperasikan fasilitas MRO di Bandara Internasional Muscat, memperluas jangkauan ke Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.
GMFI mencatatkan pemulihan fundamental yang signifikan dengan ekuitas kembali positif berkat aksi korporasi inbreng lahan dan pertumbuhan laba bersih 26,3%. Diversifikasi ke sektor pertahanan dan pemeliharaan pesawat non-afiliasi menjadi katalis utama yang mengurangi ketergantungan pada grup Garuda Indonesia.
Indeks IDXINFRA anjlok 31,16% YTD akibat pelemahan rupiah ke Rp 17.717 per dolar AS dan kenaikan suku bunga BI sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Pelemahan signifikan ini dipicu kejatuhan saham berbobot besar seperti BREN (-74,85% YTD), TBIG (-50,93% YTD), CDIA (-55,04% YTD), serta penurunan laba bersih TLKM sebesar 20,5% YoY.
GMFI membidik kenaikan laba bersih menjadi US$ 35,1 juta dan pendapatan US$ 542,8 juta pada 2026 didukung diversifikasi lini non-komersial serta ekspansi MRO pertahanan bersama Dassault Aviation untuk proyek Rafale.
GMFI menargetkan laba bersih US$ 35,1 juta dan pendapatan US$ 542,8 juta pada 2026, didorong diversifikasi sektor pertahanan termasuk kerja sama program Rafale dengan Dassault Aviation. Segmen non-komersial perseroan berhasil melonjak 59,9% menjadi US$ 36,7 juta pada 2025 seiring reaktivasi armada Garuda Indonesia Group dan ekspansi Kertajati Aerospace Park.
GMFI menargetkan pendapatan 2026 sebesar US$542,8 juta (Rp9,62 triliun) dan laba bersih US$35,1 juta setelah ekuitas berhasil berbalik positif ke US$114,6 juta berkat inbreng lahan Rp5,6 triliun.
Pengumuman review kuartalan FTSE Russell pada Sabtu (23/5) berpotensi memicu capital outflow jangka pendek yang dapat menekan IHSG menguji level support 5.950–6.000, terutama pada saham perbankan berbobot besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Namun, potensi rebound menuju resistance 6.200–6.250 tetap terbuka jika pemangkasan bobot moderat, didukung rotasi ke saham defensif seperti ICBP dan MYOR.