IHSG ditutup turun 3,64% ke 4.996,61 dengan net sell asing Rp2,28 triliun, namun analis BNI Sekuritas Fanny Suherman memproyeksikan technical rebound ke 5.020-5.160 dengan catatan potensi koreksi lanjutan masih terbuka akibat ketidakpastian MSCI.
Asing net sell Rp1,05 triliun di sesi I dengan IHSG anjlok 5,05% ke level 4.923,26. BBCA menjadi saham paling banyak dilepas asing senilai Rp670,83 miliar, diikuti BBRI Rp515,17 miliar, sementara total net sell di dua saham bank tersebut (Rp1,19 T) melebihi total net sell seluruh pasar.
Pemerintah memperpanjang masa penahapan kewajiban sertifikasi halal dari Oktober 2026 menjadi Oktober 2028 melalui revisi PP 42/2024, mencakup produk makanan, minuman, kosmetik, obat bahan alam, suplemen kesehatan, dan produk kimiawi, guna memberi waktu kesiapan ekosistem halal dan pelaku usaha.
Indo Premier Sekuritas memproyeksikan kinerja Q3-2026 sektor konsumer beragam: KLBF dan ICBP diperkirakan melampaui konsensus laba, MYOR dan CMRY sejalan ekspektasi, sementara SIDO berisiko di bawah konsensus akibat tekanan margin dari kenaikan harga bahan baku.
Kasus Ebola di Kongo tembus 9.144 dengan 4.410 kematian, wabah sejak April 2026 semakin tidak terkendali menurut MSF, meski WHO telah mengirim 70 ribu dosis vaksin Ervebo.
Pemerintah membebaskan bea masuk (tarif 0%) untuk 6 komoditas bahan baku plastik, menurunkan biaya impor bahan baku bagi industri manufaktur yang bergantung pada resin dan bahan plastik impor.
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan mencatat 8.406 kasus TBC selama Januari hingga awal Oktober 2026, mengimbau masyarakat untuk skrining dan deteksi dini.
IHSG ditutup naik 1,04% ke 6.093,76 Jumat (9/10/2026), menguat 0,94% sepekan; 10 saham penopang utama dipimpin MORA (+11,88%, 9,24 poin) dan ASII (+4,10%, 7,71 poin), di tengah net sell asing Rp2,54 triliun.
Health Summit 2026: belanja kesehatan nasional Rp641 triliun/tahun diposisikan sebagai peluang investasi dan penguat kemandirian industri kesehatan domestik.
Indeks Bisnis-27 dibuka melemah tipis 0,08% ke level 440,74 tertekan anjloknya saham BUMI (-5,41%), TAPG (-4,94%), dan DEWA (-4,76%). Koreksi indeks komoditas tertahan oleh penguatan saham perbankan besar seperti BBRI (+1,97%) dan BBCA (+1,69%) di tengah sentimen ketegangan Selat Hormuz dan penantian rebalancing MSCI.
IHSG dibuka menguat 0,29% ke level 6.179,67 didorong reli saham SCMA (+2,73%), ISAT (+2,44%), dan BBRI (+2,30%). Namun, sektor energi seperti CUAN (-5,63%) dan DEWA (-4,23%) tertekan oleh volatilitas jelang implementasi ekspor komoditas Danantara per 1 Juni 2026.
Kalbe Farma (KLBF) melalui Kalbe International Pte. Ltd. menyepakati pengalihan 49% saham Alliance Pharma Co. Ltd. pada 28 Mei 2024 untuk memperluas pasar obat resep di Thailand. Transaksi strategis ini ditargetkan efektif selesai dalam kurun waktu satu bulan.
Rencana buyback ADRO, KLBF, BBRI, dan GOTO berpotensi menopang harga saham serta meningkatkan EPS. Dampak bergantung pada nilai dan realisasi pembelian.
KLBF dan SIDO membukukan pertumbuhan pendapatan serta laba pada Q1 2024; PEHA merugi, sementara KAEF dan INAF belum melaporkan kinerja. Dolar AS yang melemah berpotensi menekan biaya impor farmasi.
KLBF đặt mục tiêu tăng lợi nhuận ròng 13–15% năm 2024; quý I, lợi nhuận tăng 11,9% và doanh thu tăng 6,22%. Chi phí bán hàng tăng nhanh hơn doanh thu, tạo rủi ro biên lợi nhuận.
Capex Rp1 triliun mendukung ekspansi obat resep dan proyek radiofarmaka; target laba 2024 tumbuh 13%–15% serta dividen Rp31 per saham menopang sentimen KLBF.
Buyback KLBF maksimal Rp1 triliun pada harga Rp1.600 per saham hingga 15 Mei 2025, ditopang kas internal. Aksi memberi dukungan harga dan sinyal keyakinan manajemen, tetapi dampak bergantung pada realisasi.
Musim dividen Mei 2024 menopang minat pada saham pembagi dividen, terutama emiten tambang. Dampak pasar terbatas; harga saham dapat terkoreksi setelah ex-date.
Kinerja KLBF dan SIDO tumbuh kuat pada kuartal I 2024, ditopang pemulihan daya beli dan kesadaran kesehatan; PEHA justru merugi. Sentimen sektor farmasi positif, tetapi tidak merata.
Kinerja farmasi beragam: KLBF dan SIDO tumbuh, sementara PEHA merugi tajam. SIDO paling menonjol berkat pertumbuhan laba 30% dan posisi kuat di obat herbal.
Laba bersih KLBF naik 11,9% dan penjualan 6,2% pada kuartal I-2024. Pertumbuhan laba ditopang pendapatan operasi lain; kenaikan beban pokok melampaui pertumbuhan penjualan.
KLBF mencatat penjualan Q1 naik 6,23% dan laba bersih naik 11,9%; target pertumbuhan laba 15% dinilai berpeluang tercapai. Pelemahan rupiah menjadi risiko bagi kinerja semester II.
Buyback emiten besar memberi dukungan sentimen dan potensi penahan harga, tetapi dampaknya terbatas pada masing-masing saham. Aksi korporasi tidak menghapus risiko volatilitas maupun menggantikan perbaikan fundamental.
Rupiah melemah sekitar 2,5% sepanjang April di tengah penguatan dolar AS dan tekanan luas pada mata uang Asia. Tekanan valas domestik berlanjut; USD/IDR berpotensi menguji resistance Rp16.340.
IHSG turun 0,16% dengan 356 saham melemah; asing mencatat net sell Rp406,99 miliar, meski sepekan masih net buy Rp1,73 triliun. Tekanan jual terbesar pada TLKM, BBCA, dan BMRI.
PEHA, KLBF, dan SIDO menargetkan peluncuran produk baru pada 2024; SIDO juga merencanakan pabrik baru di Yogyakarta. Dampak positif masih bergantung pada realisasi dan kontribusi penjualan.
Bisnis-27 turun 0,48% meski 13 konstituen menguat; INKP memimpin, PGAS dan BMRI tertekan. Pergerakan mencerminkan pasar selektif, bukan pelemahan merata.
Prospek KLBF membaik pada 2024 berkat produk baru, penjualan meningkat, dan biaya input berpotensi turun; laba 2023 masih tertekan oleh margin kotor yang menyusut.