Ada Transaksi Jumbo di Saham EMAS
Saham EMAS mencatatkan transaksi jumbo di pasar negosiasi senilai Rp 2,81 triliun (455,11 juta saham) pada harga rata-rata Rp 6.170, memicu koreksi harga regulernya sebesar 3,57% ke level 6.750.
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk
Harga Terakhir
1.625
Perubahan
+40 (+2.52%)
Lot
66.2K
Val
10.76B
Avg Val (20H)
4.21B
Penanda ▲/▼ = hari dengan berita bullish/bearish dominan (angka = jumlah berita). Klik chart pada tanggal itu untuk menyorot beritanya.
Saham EMAS mencatatkan transaksi jumbo di pasar negosiasi senilai Rp 2,81 triliun (455,11 juta saham) pada harga rata-rata Rp 6.170, memicu koreksi harga regulernya sebesar 3,57% ke level 6.750.
IPO emiten baru di sektor emas menambah opsi investasi di tengah stabilitas pasar. Sentimen pasar tetap netral dengan fokus pada rotasi sektor energi.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) berencana menerbitkan surat utang valas hingga US$ 900 juta (sekitar Rp 13,87 triliun) atau setara 112,4% ekuitas untuk refinancing dan ekspansi. Aksi korporasi dalam jangka waktu 12 bulan ini memerlukan persetujuan pemegang saham pada RUPST 30 Mei 2024.
SRTG membagikan dividen Rp22 per saham dengan yield 1,42%, ditopang arus kas dividen kuat meski mencatat rugi bersih akibat penurunan nilai portofolio. Dampak positif terbatas; risiko valuasi investasi tetap tinggi.
Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) mengakuisisi mayoritas saham Brawijaya Hospital dengan target investasi sebesar US$100-150 juta per tahun
SRTG menjadi pemegang saham mayoritas RS Brawijaya untuk memperluas investasi nonkomoditas. Dampak positif terbatas; nilai dan porsi akuisisi belum diungkap.
Dividen Rp298,43 miliar ditopang arus kas dividen dan divestasi kuat meski SRTG rugi Rp10,15 triliun akibat penurunan nilai portofolio. Diskon besar terhadap NAV mendukung potensi revaluasi, tetapi kinerja tetap rentan volatilitas aset.
SRTG membatalkan buyback 75 juta saham atas arahan OJK, menghilangkan potensi dukungan permintaan saham. Dampak terutama pada SRTG; alasan pembatalan yang tak dijelaskan menambah ketidakpastian.
SRTG membagikan dividen Rp22 per saham, turun dari Rp75; yield 1,38% dan rugi 2023 Rp10,14 triliun menekan sentimen.
IHSG turun 0,22% saat asing net sell Rp769,61 miliar; ASII anjlok 9,75%. Net buy TPIA, BBCA, TLKM belum mengimbangi tekanan jual dan pelemahan delapan sektor.
Edwin Soeryadjaya, Presiden Komisaris PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG), membeli 3,3 juta lembar saham SRTG dalam satu pekan, meningkatkan kepemilikan sahamnya menjadi 4,76 miliar lembar atau 35,1%
Kinerja holding kuartal I-2024 beragam: EMTK dan MLPL tumbuh, sementara ASII, BHIT, BRPT, dan BNBR mencatat penurunan laba. SRTG mengurangi rugi, tetapi masih merugi.
Buyback emiten besar memberi dukungan sentimen dan potensi penahan harga, tetapi dampaknya terbatas pada masing-masing saham. Aksi korporasi tidak menghapus risiko volatilitas maupun menggantikan perbaikan fundamental.
GTRA, SRTG, dan GOTO melemah saat IHSG naik 0,47%; SRTG turun paling dalam, 5,23%. Tekanan tampak spesifik saham, bukan pasar luas.
SRTG rugi Rp10,14 triliun dan NAV turun 20% akibat pelemahan nilai investasi. Utang bersih turun 62% dan pendapatan dividen naik, meredam tekanan keuangan.
NAV SRTG turun 20% dan berbalik rugi Rp10,14 triliun akibat koreksi nilai investasi, terutama ADRO dan MDKA. Arus kas dividen dan divestasi Rp3,9 triliun menjadi penyangga likuiditas.
SRTG rugi Rp10,14 triliun pada 2023, NAV turun 20% akibat pelemahan nilai investasi. Tekanan komoditas membebani ADRO dan MDKA; prospek pemulihan masih bergantung pada harga komoditas.
NAV SRTG turun 20% akibat pelemahan ADRO dan MDKA, tetapi arus kas dividen dan divestasi Rp3,9 triliun memperkuat likuiditas.
IHSG turun 0,61% dengan breadth negatif; 7 dari 11 sektor melemah, dipimpin sektor keuangan. Pelemahan mingguan 0,55%, tetapi IHSG masih naik 0,31% sejak awal tahun.