PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyepakati akuisisi portofolio kredit pensiunan dan karyawan senilai Rp19,93 triliun dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN). Nilai transaksi material ini setara dengan 46,3% ekuitas SMBC Indonesia per 31 Desember 2025 dan dinyatakan wajar oleh KJPP independen.
IHSG diproyeksikan rawan melanjutkan koreksi pada rentang support 5.899–5.996 jelang effective date rebalancing MSCI 29 Mei 2026, meski IPOT merekomendasikan buy selektif pada MDKA (target Rp3.000) dan BTPN (target Rp2.530).
IHSG anjlok 8,35% dalam sepekan ke 6.162, didorong sikap hawkish The Fed, kenaikan suku bunga BI, dan aksi jual asing net sell Rp309 miliar. Technical rebound terbatas diperkirakan, namun volatilitas tinggi dengan support 5.996-5.899. Sektor basic materials dan energi sempat rebound akibat rumor penundaan kebijakan ekspor satu pintu.
OJK resmi memberikan izin kepada PT Bank BTPN Tbk (BTPN) sebagai bank kustodian berdasarkan KEP-31/PM.02/2024, yang akan memperkuat ekspansi fee-based income melalui sinergi jaringan global SMBC dan platform Jenius.
Dividen BDMN, SDRA, BBTN, BTPN, dan BTPS memberi katalis positif bagi pemegang saham. Dampak pasar terbatas tanpa informasi dividend yield dan respons harga.
Bank Tabungan Negara (BNT) meluncurkan produk Prospera untuk menarik nasabah ritel dengan saldo Rp 100 juta hingga Rp 500 juta, dan menargetkan tambahan dana sebesar Rp 8 triliun dari luar nasabah eksisting
MRA WIKA senilai Rp20,79 triliun disepakati seluruh kreditur, meredakan tekanan kas dan mendukung kelanjutan proyek. Risiko solvabilitas tetap tinggi; restrukturisasi belum menjamin pemulihan kinerja.
Bank Mayapada Internasional Tbk. (MAYA) akan menggelar rights issue dengan target penggalangan dana Rp 4,01 triliun, sementara PT Bank BTPN Tbk. (BTPN) dan PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. (SDRA) juga akan melakukan rights issue