BCA Perpanjang Periode Buyback Saham hingga 23 Oktober 2026
BCA memperpanjang periode buyback saham hingga 23 Oktober 2026, menandakan keyakinan manajemen terhadap valuasi dan memberi dukungan harga BBCA.
PT Bank Central Asia Tbk
Harga Terakhir
5.275
Perubahan
+75 (+1.44%)
Lot
4.34M
Val
2.29T
Avg Val (20H)
1.43T
Penanda ▲/▼ = hari dengan berita bullish/bearish dominan (angka = jumlah berita). Klik chart pada tanggal itu untuk menyorot beritanya.
BCA memperpanjang periode buyback saham hingga 23 Oktober 2026, menandakan keyakinan manajemen terhadap valuasi dan memberi dukungan harga BBCA.
Kepala Ekonom BCA David Sumual mengungkap belanja masyarakat hanya tumbuh 1,4% yoy pada September 2026 (melambat dari 1,8% di Agustus), menunjukkan fenomena lipstick effect di mana konsumsi terlihat baik namun sebenarnya daya beli melemah berdasarkan data 34 juta nasabah BCA.
IHSG rebound 2,38% ke 5.115 ditopang saham bank besar, setelah anjlok total ~15% dalam dua hari akibat ancaman MSCI menurunkan status Indonesia dari emerging market ke standalone market. Saham konglomerat masih tertekan.
IHSG rebound 2,38% ke 5.115 ditopang saham bank besar, setelah anjlok total ~15% dalam dua hari akibat ancaman MSCI menurunkan status Indonesia dari emerging market ke standalone market. Saham konglomerat masih tertekan.
IHSG bangkit 2,92% ke level 5.142 ditopang kenaikan saham big banks (BMRI +5,95%, BBRI +5,12%, BBNI +4,05%, BBCA +2,70%), didorong buyback emiten konglomerat senilai Rp4,5 triliun (BRPT, TPIA, BREN, CUAN, DSSA), pengetatan aturan BEI terkait saham HSC, dan komitmen Danantara menambah kepemilikan saham BUMN.
IHSG anjlok 3,64% ke 4.996,61 dengan asing net sell jumbo Rp1,72 triliun di seluruh pasar. BBRI menjadi saham paling banyak dijual asing senilai Rp1,08 triliun, diikuti BBCA Rp986,87 miliar dan TLKM Rp367,48 miliar.
IHSG ditutup turun 3,64% ke 4.996,61 dengan net sell asing Rp2,28 triliun, namun analis BNI Sekuritas Fanny Suherman memproyeksikan technical rebound ke 5.020-5.160 dengan catatan potensi koreksi lanjutan masih terbuka akibat ketidakpastian MSCI.
IHSG anjlok 3,64% ke 4.996,61 dengan net sell asing Rp2,28 triliun; BEI akan mengeluarkan 83 saham HSC (bobot ~18% IHSG, kapitalisasi Rp3.076,5 triliun) dari perhitungan indeks setelah pertemuan dengan MSCI. DMAS menaikkan target marketing sales 41,83% menjadi Rp2,95 triliun didorong permintaan data center.
MSCI membuka konsultasi reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market, memicu IHSG anjlok 11,6% ke 5.185 (terendah 6 tahun) dengan saham BBCA, BBRI, BMRI turun 15% (batas bawah) dan BBNI turun 13%. Tekanan diperkirakan berlanjut hingga semester I-2027 menjelang keputusan MSCI pada 30 Juni 2027.
Seluruh 11 saham bank besar-menengah kompak menghijau dipimpin BNLI +13,18%, BBTN +7,06%, BMRI +6,55%, BBRI +6,30% saat IHSG rebound >2% setelah ambles 15,93% dalam 3 hari akibat sentimen MSCI. Katalis rebound meliputi aksi buyback emiten, komitmen regulator/pemerintah, dan sinyal Danantara menambah kepemilikan saham BUMN.
IHSG rebound 2,58% ke level 5.125,36 setelah anjlok total ~15% dalam dua hari akibat ancaman penurunan status MSCI. Saham bank besar kompak menguat tebal didorong kebijakan HSC (Halt Sementara Circuit breaker) yang disiapkan BEI.
Investor asing melakukan aksi jual bersih sebesar Rp1,97 triliun di sesi I perdagangan, dengan saham BBCA menjadi yang paling banyak dilepas oleh asing.
Danantara menyatakan kesiapan untuk memborong saham BUMN, mendorong IHSG menguat signifikan sebesar 3% dalam satu sesi perdagangan.
Pemerintah Prabowo berencana mencairkan belanja negara sebesar Rp1.300 triliun dalam 3 bulan terakhir tahun ini, menandakan akselerasi belanja fiskal besar-besaran oleh Menkeu.
BSI menandatangani dua kerja sama strategis di ISEF 2026 yaitu Perjanjian Induk Lindung Nilai Syariah dan SiPA dalam rupiah dan valas bersama 16 mitra perbankan, untuk memperkuat Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) dan mendukung operasi moneter syariah.
BCA (BBCA) akan melaksanakan buyback saham pada 19-21 Oktober 2026, dikonfirmasi oleh Presiden Komisaris Jahja Setiaatmadja. Seluruh karyawan dilarang bertransaksi saham BBCA selama periode tersebut sesuai POJK No. 29/2023.
BCA (BBCA) melanjutkan aksi buyback saham pada 19-21 Oktober 2026, sebagai bagian dari program buyback 12 bulan (Maret 2026 - Maret 2027) yang disetujui RUPST Tahun Buku 2025, setelah sebelumnya dilaksanakan pada April dan Juni 2026.
Asing net sell Rp1,05 triliun di sesi I dengan IHSG anjlok 5,05% ke level 4.923,26. BBCA menjadi saham paling banyak dilepas asing senilai Rp670,83 miliar, diikuti BBRI Rp515,17 miliar, sementara total net sell di dua saham bank tersebut (Rp1,19 T) melebihi total net sell seluruh pasar.
IHSG masih terkoreksi 3,53% ke level 5.002,28 namun memangkas pelemahan dari -5% di akhir Sesi I berkat kabar Danantara akan masuk membeli saham BUMN yang jatuh dalam. Saham penopang pemulihan antara lain BSIM, BMRI, AADI, PTBA, DSSA, sementara BBCA, BBRI, BYAN, TLKM, AMMN masih jadi pemberat.
Rupiah melemah 0,17% ke Rp18.030/US$ di tengah ancaman reklasifikasi MSCI dari Emerging Market ke Standalone Market yang memicu IHSG anjlok hingga 5,05% ke 4.923,26, dengan saham BBCA, BBRI, dan TLKM menyentuh ARB 7%.
Akademisi FEB UI Buddi Wibowo menyoroti bahwa MSCI mempermasalahkan tata kelola, transparansi, dan keamanan investasi di BEI — bukan fundamental ekonomi RI. Isu demutualisasi BEI, minimum free float, dan transparansi kepemilikan saham dinilai belum teratasi setelah 8 bulan sejak pertama kali disorot.
OJK tengah mengkaji dampak usulan MSCI untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market terhadap stabilitas keuangan, dengan potensi pembahasan di KSSK jika dampaknya serius. Meski demikian, OJK menyatakan perbankan masih solid dengan CAR 24,10%, NPL bruto 2,11%, dan kredit tumbuh 13,65% YoY per Agustus 2026.
BCA melanjutkan aksi buyback saham pada 19-21 Oktober untuk mendukung stabilisasi pasar modal, menunjukkan keyakinan manajemen terhadap valuasi saham dan komitmen menjaga harga saham.
BCA bekerja sama dengan Sucor Asset Management untuk memperluas akses investasi reksa dana bagi nasabah, memperkuat lini bisnis wealth management BCA.
Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah gejolak global, menunjukkan komitmen intervensi untuk menahan pelemahan mata uang.
Rupiah terus melemah dengan kurs jual dolar di money changer mencapai Rp18.120, menunjukkan tekanan signifikan terhadap mata uang domestik.
Artikel membahas pelajaran dari Pakistan terkait risiko standalone pada saham perbankan, mengindikasikan potensi tekanan pada valuasi saham bank jika risiko serupa terjadi di Indonesia.
MSCI rebalancing memicu arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar saham Indonesia, menimbulkan tekanan pada saham-saham perbankan big caps.
IHSG turun 5% di sesi pagi dengan saham bank besar dan konglomerat kompak terkena auto reject bawah (ARB) 7%, menunjukkan tekanan jual masif di pasar.
Rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, mendorong pemerintah dan Bank Indonesia angkat bicara merespons tekanan nilai tukar tersebut.
Bank Indonesia mendorong perluasan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi antarnegara untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang negara ketiga dan menekan risiko gejolak nilai tukar global, seperti yang disampaikan Gubernur BI Destry Damayanti dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia
IHSG ambles 14,91% dalam sepekan ke level 5.185,105 dan sempat memicu trading halt akibat usulan MSCI mendowngrade bursa Indonesia menjadi Standalone Market. Kejatuhan indeks ini terutama diseret oleh koreksi tajam saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan DSSA.
MSCI memperingatkan pasar saham Indonesia berisiko diturunkan kelas dari Frontier Market ke Standalone Market — setara status pasar seperti Zimbabwe — akibat rendahnya partisipasi asing dan likuiditas yang menyusut.
Pemerintah akan melelang 8 seri SBSN/sukuk negara pada 20 Oktober 2026 dengan target indikatif Rp10 triliun, mencakup seri SPN-S tenor pendek dan PBS dengan imbalan 5%-6,87%.
Rangkuman berita ekonomi mencakup OJK memantau rumor akuisisi BCA oleh Haji Isam, target penurunan biaya logistik dari 12,5% ke 8% PDB pada 2045, Pertamina mendatangkan 57,9 juta liter BBM ke Bali, dan pasokan barang pokok di daerah karhutla dipastikan aman.
MSCI mengusulkan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang berpotensi memicu arus keluar dana asing besar-besaran karena Indonesia akan keluar dari indeks MSCI Emerging Market yang menjadi acuan banyak fund global.
Menkeu Suahasil Nazara dan Gubernur BI Destry Damayanti mendorong pembayaran QR lintas negara dan transaksi mata uang lokal (LCT) di pertemuan G20 FMCBG di Bangkok, serta mengusulkan pemetaan regulasi keuangan digital antarnegara.
OJK merespons rumor akuisisi BBCA oleh Haji Isam (Andi Syamsuddin Arsyad) dengan menegaskan akan menilai setiap transaksi perubahan pemegang saham pengendali bank sesuai regulasi, sementara BCA sendiri telah membantah rumor tersebut sebagai tidak benar.
OJK menanggapi rumor akuisisi BCA oleh Haji Isam dengan menyatakan terus memantau dinamika kepemilikan dan aksi korporasi di sektor perbankan, namun belum ada konfirmasi atau tindakan konkret terkait rumor tersebut.
IHSG ambruk 11,57% ke level 5.185 akibat rencana MSCI mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan 812 saham melemah dan hanya 11 saham menguat. Saham pemberat utama adalah BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan AMMN, sementara sektor infrastruktur anjlok 14,3%, material dasar 13,3%, dan kesehatan 13,1%.
MSCI berpotensi menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market langsung ke Standalone Market (bukan Frontier), karena masalah transparansi kepemilikan, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan lemahnya penegakan hukum. Analis Mirae Asset menilai dampaknya sangat signifikan terhadap aliran dana asing, likuiditas, dan volatilitas IHSG terutama pada saham berkapitalisasi besar dengan kepemilikan asing tinggi.
IHSG anjlok 11,6% (679 poin) ke 5.185,11 dipicu ancaman MSCI yang membuka konsultasi publik untuk mendorong Indonesia masuk Standalone Market dari Emerging Market, memicu panic selling dengan nilai transaksi Rp26 triliun.
CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan siap masuk berinvestasi di pasar modal Indonesia di tengah IHSG anjlok 8,01% ke 5.393,92 akibat ancaman reklasifikasi MSCI, menilai valuasi perbankan sudah di bawah 1x PBV dan melihat peluang di sektor infrastruktur serta telekomunikasi.
MSCI mengancam menurunkan kelas Turki dari emerging market ke frontier lebih dulu sebelum keputusan terkait status pasar Indonesia, menandakan tekanan penilaian indeks global terhadap pasar berkembang termasuk RI.
MSCI membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar Indonesia, memicu aksi jual masif hingga IHSG anjlok sekitar 11 persen. Ketidakpastian status klasifikasi berpotensi memicu aliran dana asing keluar dari pasar saham Indonesia.
Review indeks MSCI memicu potensi anjloknya IHSG hingga 11%, memaksa OJK dan BEI menyiapkan langkah antisipasi seperti yang diungkap Wakil Ketua DPR-RI Dasco Marzafri.
MSCI disebut membuat bingung pasar meski baru melakukan pertemuan dengan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia di Bangkok, sinyal kebijakan/review indeks yang dinilai tidak konsisten dengan komunikasi pihak berwenang Indonesia.
IHSG berpotensi mengalami koreksi menjelang akhir pekan, namun artikel tersebut menyoroti potensi cuan pada saham BBCA (perbankan) dan VKTR (teknologi/kendaraan listrik) yang dinilai masih memiliki peluang.
Asing mencatat net sell (net outflow) Rp2,92 triliun pada sesi I perdagangan, dengan saham BBCA sebagai saham paling banyak dibuang oleh investor asing.
Sejumlah bank sudah menjual dolar AS di level Rp18.300, menandakan pelemahan USD terhadap rupiah dan intervensi pasar yang mulai berjalan efektif. Level ini memberikan ruang bagi perbankan dan pasar saham Indonesia.
MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi Indonesia terkait status Standalone Market (separate emerging market), dan OJK menyatakan terus melakukan pembenahan regulasi untuk merespons hal tersebut. Isu ini menentukan aliran dana asing pasif ke bursa Indonesia.
Rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS di tengah sentimen risk-off global, memaksa Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi pasar untuk menahan pelemahan kurs.
IHSG anjlok 8,01% saat pembukaan perdagangan sehingga BEI mengaktifkan mekanisme trading halt (penghentian sementara) selama 30 menit, menandakan tekanan jual ekstrem di pasar saham Indonesia.
Usulan MSCI menurunkan Indonesia ke status Standalone Market memicu kekhawatiran arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar saham Indonesia dan menekan nilai tukar Rupiah. Investor mewaspadai hilangnya status Emerging Market yang selama ini menjadi basis investasi asing jangka panjang di Bursa Efek Indonesia.
IHSG dilaporkan anjlok 11% dan kurs Rupiah menembus level Rp 18.000 per USD — pelemahan tajam yang menandakan tekanan berat pada pasar saham dan mata uang domestik.
IHSG ditutup menguat 1% dalam satu sesi perdagangan, dengan artikel ini menyoroti 5 saham yang berpotensi menjadi pilihan investor pada hari berikutnya.
OJK merespons rumor akuisisi BCA oleh Haji Isam (Andi Syamsuddin Arsyad) dengan menegaskan akan terus memantau dinamika kepemilikan perbankan; BCA sendiri telah membantah rumor tersebut dan menyatakan informasi itu tidak benar. Kepemilikan BCA masih didominasi PT Dwimuria Investama Andalan (54,94%).
Riset Ciptadana Sekuritas Asia 15/10/2026 merekomendasikan speculative buy ARTO (target Rp870), CPIN (target Rp3.190), MYOR (target Rp1.540), dan buy on weakness UNVR (target Rp1.715), sementara IHSG diprediksi bergerak terbatas di 5.887–6.129 dengan kecenderungan melemah di tengah net sell asing Rp1,1 triliun.
IHSG turun 2,16% ke level 5.814,72 dengan net foreign sell Rp182,94 miliar. TLKM paling banyak dijual asing (Rp34,93 M), sementara BBCA paling banyak dibeli asing (Rp104,89 M).
IHSG ditutup menghijau dengan net buy investor asing terhadap 10 saham tertentu, menandakan arus dana masuk (inflow) ke bursa; namun tidak ada rincian nama saham atau nilai beli dalam artikel sehingga analisis terbatas.