OJK melaporkan kepada Presiden Prabowo akan meneruskan reformasi pasar modal dengan fokus transparansi dan penegakan hukum, setelah menjatuhkan denda Rp2,1 triliun kepada DSSA, BREN, dan CUAN atas dugaan manipulasi perdagangan dan pelanggaran penawaran umum saham. Total sanksi Januari-Oktober 2026 mencapai Rp390 miliar kepada 835 pihak.
BUMI menjadi saham paling sering diperdagangkan di September 2026 dengan frekuensi 1.103.000 kali (naik 8,89% MoM), diikuti CUAN (834.000 kali, +1,58% MoM) dan DSSA (717.000 kali, turun 35,42% MoM).
CUAN menyiapkan dana Rp500 miliar untuk buyback saham pada 19 Oktober-31 Desember 2026 menggunakan kas internal, setelah disorot OJK terkait proses IPO. Buyback dilakukan tanpa RUPS berdasarkan POJK 13/2023 tentang kondisi pasar berfluktuasi signifikan, dengan proforma menunjukkan penurunan ekuitas sebesar US$28 juta menjadi US$610,37 juta.
TPIA (Chandra Asri Pacific) milik Prajogo Pangestu berencana buyback saham maksimal Rp 1 triliun (800 juta lembar atau 0,92% total saham) pada rentang harga Rp 1.250-Rp 3.000 selama Oktober 2026-Januari 2027, menyusul aksi serupa oleh BREN dan CUAN.
Rupiah melemah ke Rp18.035/USD dengan tekanan internal (ancaman reklasifikasi MSCI ke Standalone Market) dan eksternal (eskalasi geopolitik Timur Tengah & Ukraina-Rusia). OJK menjatuhkan denda Rp2,1 triliun kepada DSSA, BREN, dan CUAN terkait dugaan manipulasi perdagangan, sementara BEI menyesuaikan batas ARB menjadi 7% untuk menjaga volatilitas.
OJK menyatakan siap mendukung stabilitas sektor keuangan dan meneruskan reformasi pasar modal, termasuk penegakan hukum terhadap manipulasi pasar setelah menjatuhkan denda Rp2,1 triliun kepada DSSA, BREN, dan CUAN terkait dugaan pelanggaran perdagangan dan penawaran umum saham.
BREN, CUAN, dan DSSA melakukan buyback saham senilai total Rp2,5 triliun setelah terkena sanksi dari OJK, menunjukkan upaya stabilisasi harga saham pasca-sanksi regulator.
MSCI membuka konsultasi untuk menurunkan status Indonesia menjadi standalone market akibat manipulasi free float, diperkuat temuan OJK terkait rekayasa penjatahan IPO BREN, CUAN, serta pelanggaran DSSA yang memicu kejatuhan IHSG 11,57%.
OJK menjatuhkan sanksi atas pelanggaran transaksi saham BREN, CUAN, dan DSSA, sementara manajemen BREN menyatakan menghormati keputusan regulator serta menegaskan operasional perseroan tetap berjalan normal.
OJK menjatuhkan sanksi atas temuan keuntungan tidak sah dalam transaksi saham DSSA serta pemesanan IPO BREN dan CUAN setelah memeriksa 12 direksi perusahaan efek, 15 perorangan, dan 11 badan hukum asing. Sanksi ini menyasar pihak terkait manipulasi perdagangan dan penawaran umum, bukan pada emitennya langsung.
OJK menjatuhkan total denda Rp 2,1 triliun atas kasus manipulasi pasar perdagangan saham DSSA serta penyesatan penjatahan IPO terafiliasi pada saham BREN dan CUAN. Sanksi ini mengungkap adanya pengaburan identitas pemesan IPO demi mengontrol free float dan mengeruk keuntungan tidak sah (illicit gains).
OJK menegaskan denda total Rp2,1 triliun dikenakan kepada pihak terkait yang melakukan manipulasi pasar dan tindakan menyesatkan dalam penawaran umum saham DSSA, BREN, dan CUAN, bukan kepada emiten langsung. OJK menemukan manipulasi pasar terstruktur pada saham DSSA periode 2024-2026 dan konsentrasi saham tidak wajar pada IPO BREN dan CUAN oleh pihak terkait pengendali.
MSCI mengkaji penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market ke standalone market, menyebabkan IHSG anjlok 11% dalam sehari. OJK telah menjatuhkan sanksi Rp2,1 triliun kepada DSSA, BREN, dan CUAN terkait manipulasi perdagangan dan pelanggaran IPO.
OJK memanggil dan memeriksa 5 direksi BREN (Barito Renewables Energy) dan CUAN (Petrindo Jaya Kreasi) terkait indikasi tindak pidana pasar modal dalam proses IPO kedua emiten tersebut.
OJK menjatuhkan sanksi Rp500 miliar kepada pihak berelasi BREN dan Rp100 miliar kepada pihak berelasi CUAN atas dugaan pengaturan penjatahan saham (fixed allotment) IPO yang mengaburkan identitas investor terafiliasi pengendali Prajogo Pangestu, menyebabkan kepemilikan saham terkonsentrasi dan free float terbatas.
OJK memanggil 5 direksi BREN dan CUAN terkait indikasi tindak pidana pasar modal berupa penyesatan pemesanan saham IPO, serta menjatuhkan denda Rp500 miliar kepada BREN, Rp100 miliar kepada CUAN, dan Rp1,5 triliun kepada DSSA. Dari 61 emiten terindikasi high shareholder concentration, 31 diduga melakukan pelanggaran pidana.
OJK menjatuhkan sanksi denda total Rp2,1 triliun kepada DSSA (Rp1,5 triliun), BREN (Rp500 miliar), dan CUAN (Rp100 miliar) terkait manipulasi perdagangan dan pelanggaran penawaran umum saham, sebagai bagian dari penegakan hukum terhadap saham High Shareholding Concentration (HSC) yang menjadi perhatian MSCI.
OJK menjatuhkan sanksi terkait manipulasi pasar saham DSSA (periode 2024-2026) dan pelanggaran penawaran umum BREN serta CUAN, menemukan tindak pidana manipulasi harga DSSA secara terstruktur serta penjatahan saham BREN dan CUAN yang terkonsentrasi pada pihak terkait pengendali dengan identitas yang dikaburkan.
OJK menjatuhkan denda Rp1,5 triliun kepada DSSA, Rp500 miliar kepada BREN, dan Rp100 miliar kepada CUAN terkait pelanggaran pasar modal, serta memanggil 5 direksi BREN dan CUAN atas indikasi tindak pidana IPO dan penyesatan pemesanan saham.
IHSG anjlok 11,6% (679 poin) ke 5.185,11 dipicu ancaman MSCI yang membuka konsultasi publik untuk mendorong Indonesia masuk Standalone Market dari Emerging Market, memicu panic selling dengan nilai transaksi Rp26 triliun.
OJK telah mengenakan sanksi terhadap 835 pihak dengan total denda Rp390 miliar terkait pidana pasar modal. Dari 61 emiten high shareholder concentration (HSC), 31 diduga melakukan pelanggaran pidana, dengan DSSA, BREN, dan CUAN secara spesifik diperiksa atas dugaan pelanggaran UU Pasar Modal.
OJK menemukan tindak pidana manipulasi pasar saham DSSA oleh nasabah perorangan dan institusi, serta memeriksa dugaan pelanggaran pada proses penawaran umum saham BREN dan CUAN. Rapat Menko Airlangga dengan Menkeu dan OJK batal karena konferensi pers penegakan hukum di BEI dianggap sudah cukup merespons konsultasi reklasifikasi MSCI.
OJK menelusuri transaksi saham DSSA periode 2023-2026 dengan indikasi manipulasi pasar yang melibatkan nasabah perorangan dan institusi, serta memeriksa proses penjatahan saham IPO BREN dan CUAN terkait konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC). OJK telah memanggil 12 direksi perusahaan efek, 15 pihak perorangan, dan 11 badan hukum asing.
OJK menemukan indikasi pelanggaran pidana pasar modal pada 31 dari 61 emiten HSC, serta menjatuhkan denda total Rp2,1 triliun kepada DSSA (Rp1,5 triliun), BREN (Rp500 miliar), dan CUAN (Rp100 miliar) atas dugaan manipulasi pasar.
OJK menjatuhkan denda administratif sangat besar kepada tiga emiten: DSSA Rp1,5 triliun, BREN Rp500 miliar, dan CUAN Rp100 miliar, total denda mencapai Rp2,1 triliun.
Saham CUAN (Petrindo Jaya Kreasi), BREN (Barito Renewables) dan DSSA serentak mencapai auto reject atas (ARB) atau naik limit, dipicu pemberitaan terkait adanya ancaman pidana di pasar modal. Pergerakan naik limit ketiganya menandakan tekanan beli yang kuat meski terselubung kabar berbau hukum.
OJK menjatuhkan denda total Rp2,1 triliun kepada tiga emiten, yaitu DSSA, BREN, dan CUAN, yang langsung menekan sentimen dan prospek saham ketiga perusahaan tersebut.
OJK tengah menelusuri dugaan pelanggaran pada pergerakan saham BREN (Barito Renewables), CUAN (Petrindo Jaya Kreasi), dan DSSA (Dian Swastatama Sentosa). Ketiga saham tersebut menjadi sorotan karena dicurigai adanya pelanggaran aturan di pasar modal.
IHSG turun 2,16% ke level 5.814,72 dengan net foreign sell Rp182,94 miliar. TLKM paling banyak dijual asing (Rp34,93 M), sementara BBCA paling banyak dibeli asing (Rp104,89 M).
Kejatuhan saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu seperti BREN (-9,26%), TPIA (-6,87%), dan BRPT (-3,56%) menekan IHSG anjlok 1,94% ke level 5.975,28. Koreksi tajam ini turut menyeret 559 saham ke zona merah dengan nilai transaksi mencapai Rp6,03 triliun.
IHSG sesi I Jumat (9/10/2026) naik 0,35% ke 6.052,51 meski asing net sell Rp32,05 miliar; net buy terbesar SINI Rp15,94 miliar, CUAN Rp12,80 miliar, ARCI Rp9,52 miliar, BBCA Rp9,11 miliar, EMAS Rp8,96 miliar; net sell terbesar GOTO Rp27,91 miliar, BUMI Rp21,98 miliar, BBRI Rp20,63 miliar.
Investor asing mencatatkan net sell Rp976,66 miliar pada sesi I pasca peninjauan klasifikasi MSCI, memicu IHSG anjlok 1,62% ke 6.002,20 dengan tekanan jual terbesar pada BBRI dan TPIA, meski BREN dibeli Rp107,79 miliar.
IHSG ambruk 3,56% ke level 5.883,88 tertekan net sell asing sebesar Rp 1,17 triliun, meski saham BREN dan ANTM tetap diborong asing masing-masing Rp 219,49 miliar dan Rp 39,13 miliar. Sebanyak 611 saham ditutup di zona merah dengan koreksi terdalam dipimpin oleh sektor barang baku yang merosot 6,64%.
Pasar menunjukkan konsolidasi dengan pergerakan netral di tengah dominasi sektor energi. Likuiditas tetap terjaga meski IHSG cenderung bergerak terbatas.
Pergerakan saham energi dan komoditas cenderung stagnan dengan minimnya katalis baru di pasar. Sentimen investor saat ini wait-and-see menunggu arah kebijakan moneter global.
Pasar berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas rendah di tengah stabilitas nilai tukar Rupiah. Sentimen investor cenderung wait-and-see menunggu arah kebijakan moneter global lebih lanjut.
Pasar menunjukkan stabilitas dengan volatilitas rendah dan aliran modal asing yang netral. Fokus investor tetap pada sektor energi di tengah kondisi makro yang stabil.
IHSG merosot 1,22% ke level 6.130,19 dengan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp 1,6 triliun, di mana saham TPIA dilepas Rp 386,04 miliar dan BBCA dilepas Rp 359,76 miliar.
IHSG dibuka menguat 0,14% ke level 6.214,95 pada perdagangan Selasa pagi, ditopang kenaikan 330 saham dengan CUAN (+8,02%), BRPT (+5,41%), dan EMTK (+2,31%) sebagai top gainers LQ45.
IHSG anjlok 1,23% ke level 6.130,19 akibat eskalasi geopolitik AS-Iran dan depresiasi rupiah ke Rp 17.796 per dolar AS. Tekanan jual membebani 447 saham, dipimpin kejatuhan saham INCO (-10,68%), ASII (-8,48%), dan AMRT (-8,11%).
IHSG dibuka menguat tipis 0,03% ke level 6.208,45 didorong penguatan saham CUAN (+5,97%) dan BRPT (+4,05%). Namun, penguatan indeks tertahan oleh koreksi saham big banks seperti BBRI, BBCA, dan BBNI seiring antisipasi rebalancing MSCI serta tensi geopolitik global.
IHSG anjlok 1,23% ke level 6.130,19 terbebani koreksi tajam saham big cap seperti INCO (-10,68%), ASII (-8,48%), dan AMRT (-8,11%). Sebanyak 461 saham ditutup melemah di tengah ketidakpastian negosiasi Iran-AS dan sentimen rebalancing indeks MSCI.
IHSG tertekan 0,91% ke level 6.149,68 pada sesi I seiring pelemahan 396 saham, dipicu koreksi terdalam sektor perindustrian (-2,08%). Saham AMRT (-8,9%), ASII (-5,4%), dan MBMA (-4,4%) menjadi penekan utama dalam jajaran top losers LQ45.
IHSG dibuka menguat 0,29% ke level 6.179,67 didorong reli saham SCMA (+2,73%), ISAT (+2,44%), dan BBRI (+2,30%). Namun, sektor energi seperti CUAN (-5,63%) dan DEWA (-4,23%) tertekan oleh volatilitas jelang implementasi ekspor komoditas Danantara per 1 Juni 2026.
IHSG dibuka menguat 36,29 poin (0,59%) ke level 6.199,02 didorong oleh kenaikan seluruh indeks sektoral, terutama sektor infrastruktur (+1,74%). Saham SCMA, ISAT, dan BBRI menjadi top gainers LQ45, sementara CUAN, BUMI, dan DEWA berada di jajaran top losers.
Meskipun net sell asing melandai menjadi Rp809,1 miliar menjelang efektif indeks MSCI, IHSG anjlok 8,35% ke level 6.162,04 akibat kejatuhan saham grup Prajogo Pangestu seperti TPIA (-53,49%) dan aksi jual asing terbesar pada BBCA (Rp1,03 triliun).
IHSG menguat 0,93% ke level 6.219,34 pada penutupan Sesi I didorong kenaikan 511 saham dan lonjakan sektor transportasi sebesar 4,19%, dengan ADMR, MDKA, dan SCMA memimpin penguatan di indeks LQ45.
IHSG ambruk 8,35% dalam sepekan, dengan net sell asing Rp2,03 triliun, terutama di saham blue chip seperti BBCA, AMMN, dan ANTM. Tekanan jual asing yang masif menunjukkan sentimen negatif investor global terhadap pasar Indonesia, meskipun ada rebound tipis di akhir pekan.
Tekanan jual masif pada saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu dan emiten komoditas menjadi katalis utama pelemahan IHSG secara mingguan. Koreksi tajam pada konstituen berkapitalisasi besar (big caps) seperti TPIA, BREN, dan AMMN mengindikasikan adanya aksi profit taking atau rebalancing portofolio institusi yang signifikan.
IHSG rebound 1,10% setelah turun delapan hari, tetapi masih melemah 8,35% sepekan. Asing tetap net sell Rp2,03 triliun sepekan; BBCA dan BMRI paling banyak dijual.
Pasar mengalami tekanan jual signifikan dengan pelemahan IHSG sebesar 8,35% akibat rebalancing MSCI dan penyesuaian portofolio dana pasif global. Koreksi tajam pada saham-saham berkapitalisasi besar dan emiten afiliasi Prajogo Pangestu (TPIA, CUAN) mencerminkan volatilitas teknikal tinggi, meskipun fundamental ekonomi domestik tetap resilien dengan pertumbuhan PDB 5,61%.
Review kuartalan indeks FTSE Russell membayangi pergerakan dana asing pada saham BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMMN, sementara bank besar (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) dinilai relatif aman dengan IHSG menguji level support 5.900-6.000.
IHSG berhasil rebound 1,10% ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat ditopang reli sektor energi dan basic materials, meski secara kumulatif masih anjlok 8,35% dalam sepekan. Penguatan didorong rumor penundaan kebijakan ekspor komoditas strategis hingga 1 Januari 2027 yang mengerek saham MDKA, INCO, DEWA, dan BUMI.
IHSG menguat 1,10% ke level 6.162,04 didorong sektor barang baku yang melesat 6,85% dan lonjakan saham MDKA (+24,77%) serta INCO (+18,84%). Nilai transaksi bursa tercatat mencapai Rp 19,82 triliun dengan 449 saham mengalami kenaikan.
IHSG sesi I menguat 0,30% ke level 6.113,44 didorong lonjakan sektor barang baku sebesar 3,78% dan energi 2,31% dengan total transaksi Rp 10,17 triliun. Penguatan LQ45 dipimpin oleh MDKA (+16,97%), HRTA (+7,04%), dan INCO (+5,14%), meskipun tertahan pelemahan CUAN, AMMN, dan ASII.