BEI akan mengeluarkan 80 saham HSC (18% bobot IHSG) dari perhitungan IHSG, termasuk DCII (Rp472T), BYAN (Rp393T), BREN (Rp388T), MORA (Rp220T), dan DSSA (Rp206T). Kebijakan ini muncul setelah MSCI mengumumkan rencana mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market, memicu IHSG ambles 11,6% dan lanjut turun 3% ke level terendah 6 tahun.
IHSG anjlok 3,64% ke 4.996,61 dengan net sell asing Rp2,28 triliun; BEI akan mengeluarkan 83 saham HSC (bobot ~18% IHSG, kapitalisasi Rp3.076,5 triliun) dari perhitungan indeks setelah pertemuan dengan MSCI. DMAS menaikkan target marketing sales 41,83% menjadi Rp2,95 triliun didorong permintaan data center.
Menteri ESDM Bahlil mengumumkan relaksasi terbatas produksi batu bara Indonesia, yang berpotensi meningkatkan volume produksi dan pendapatan emiten batu bara.
Bank Mandiri (BMRI) menjelaskan bahwa kredit kepada Jhonlin Baratama bukan untuk trading saham melainkan pengembangan usaha batu bara, dengan agunan saham JARR dan PGUN dinilai konservatif sesuai POJK 40/2017 sebagai second way out.
IHSG masih terkoreksi 3,53% ke level 5.002,28 namun memangkas pelemahan dari -5% di akhir Sesi I berkat kabar Danantara akan masuk membeli saham BUMN yang jatuh dalam. Saham penopang pemulihan antara lain BSIM, BMRI, AADI, PTBA, DSSA, sementara BBCA, BBRI, BYAN, TLKM, AMMN masih jadi pemberat.
Direktur BYAN Lim Chai Hock menjual 100 juta saham BYAN senilai Rp1,12 triliun di harga Rp11.200/saham sebagai divestasi, sementara pemilik utama Low Tuck Kwong membeli saham dalam jumlah dan harga yang sama, meningkatkan kepemilikannya dari 9,95% menjadi 10,25%.
IHSG ambruk 11,57% ke level 5.185 akibat rencana MSCI mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan 812 saham melemah dan hanya 11 saham menguat. Saham pemberat utama adalah BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan AMMN, sementara sektor infrastruktur anjlok 14,3%, material dasar 13,3%, dan kesehatan 13,1%.
Low Tuck Kwong melepas 650 juta lembar saham BYAN di harga Rp2.588 (jauh di bawah harga pasar Rp11.200) senilai Rp1,68 triliun, mengurangi kepemilikannya dari 10,25% menjadi 8,30%, sebagai bagian dari akuisisi Rp26,1 triliun oleh PT Jhonlin Baratama (entitas Haji Isam) yang kini menguasai 30,25% BYAN.
BYAN akan menggelar RUPSLB pada 23 November 2026 setelah PT Jhonlin Baratama (Haji Isam) mengakuisisi 30,25% saham senilai ~Rp26,1 triliun dari Low Tuck Kwong dengan harga Rp2.588/saham (di bawah harga pasar). Agenda belum diumumkan, namun pasar mencermati potensi perombakan direksi dan komisaris.
Konglomerat Low Tuck Kwong menambah kepemilikan saham BYAN sebanyak 100 juta saham senilai Rp1,12 triliun melalui transaksi crossing di harga Rp11.200/saham, meningkatkan hak suaranya dari 9,95% menjadi 10,25%.
Low Tuck Kwong membeli kembali 500.000 saham BYAN senilai Rp5,6 miliar di harga Rp11.200/saham pada 13 Oktober 2026, setelah sebelumnya menjual 30,25% saham BYAN senilai Rp26,1 triliun ke PT Jhonlin Baratama (entitas Haji Isam) di harga Rp2.588/saham.
IHSG menguat 0,29% ke level 5.943 ditopang rebound saham teknologi dan properti seperti GOTO, WIFI, PANI, dan PWON di tengah total transaksi Rp8,81 triliun. Terdapat pula transaksi jumbo di pasar negosiasi senilai Rp1,12 triliun atas divestasi 33 juta saham BYAN oleh Low Tuck Kwong.
Terjadi transaksi tutup sendiri (crossing) saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di pasar negosiasi senilai Rp1,12 triliun sebanyak 1 juta lot pada harga Rp11.200 per saham. Di pasar reguler, BYAN menguat 1,33% ke level Rp11.400 per saham dengan likuiditas yang relatif sepi senilai Rp3,7 miliar.
Saham BYAN mencatatkan transaksi crossing jumbo di pasar negosiasi senilai Rp1,12 triliun dengan volume 100 juta saham pada harga rata-rata Rp11.200 per unit.
Saham-saham konglomerasi menekan pergerakan IHSG, sementara Mirae Asset menyoroti struktur pembiayaan akuisisi yang dilakukan Bayan Resources (BYAN), yang berpotensi menambah beban neraca dan menekan valuasi saham tersebut.
PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam resmi merampungkan pembelian 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dari Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low pada harga negosiasi Rp2.588 per saham. Manajemen memastikan belum ada perubahan operasional, target RKAB, maupun pembahasan rencana sinergi bisnis pascatransaksi tersebut.
Arus kas dividen dari 30,25 persen kepemilikan saham BYAN diproyeksikan menopang utang Jhonlin Baratama ke BMRI, namun Mirae Asset Sekuritas menilai ruang amannya tipis karena sangat bergantung pada siklus harga batu bara.
IHSG anjlok 1,70% ke level 5.835,14 pada Selasa pagi, memperpanjang pelemahan tajam akibat tekanan jual pada 533 saham khususnya emiten konglomerasi seperti DSSA, TPIA, BRPT, BREN, BYAN, dan MORA.
Perusahaan milik Haji Isam (Grup Adaro/Dharma Satya Nusantara terkait) menggelontorkan dana Rp 26,09 triliun untuk mengambil alih (caplok) saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), salah satu produsen batu bara besar Indonesia.
IHSG ditutup menguat 1,04% ke 6.093,76 pada Jumat (9/10/2026), ditopang BBRI +2,31%, AMMN +4,01%, TLKM +2,65% sebagai leading movers dengan net buy asing keseluruhan Rp29,63 miliar (net sell reguler Rp141,50 miliar); PT Mandiri Herindo Adiperkasa (MAHA) meraih kontrak transportasi batu bara Rp2,20 triliun hingga 2030 dengan pendapatan semester I 2026 tumbuh 34,13% YoY menjadi Rp1,65 triliun dan laba bersih melonjak 1.002,01%.
Bank Jatim (BJTM) meresmikan kantor cabang di Balikpapan dan membuka ruang kolaborasi dengan Bankaltimtara guna menggarap potensi PDRB Kaltim sebesar Rp850 triliun serta nilai perdagangan bilateral Jatim-Kaltim yang mencapai Rp20,18 triliun.
PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam menambah porsi rencana akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dari 10 miliar lembar (30%) menjadi 10,084 miliar lembar saham (30,252%) dari Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low. BEI mengonfirmasi tengah menelaah aspek keterbukaan informasi, kepatuhan, serta status pengendalian terkait perubahan PJBS tersebut.
Tim Analis Bareksa merekomendasikan quick trade untuk AADI (target Rp12.750–13.100), DSSA (target Rp1.225–1.260), dan ENRG (target Rp1.135–1.170) didukung proyeksi IHSG bergerak positif di rentang 6.119–6.232.
Terjadi transaksi pasar negosiasi saham BYAN senilai Rp 26,10 triliun terkait akuisisi kepemilikan oleh PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam dari Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Di pasar reguler, harga saham BYAN justru merosot 6,51% ke Rp 12.575 per saham dan menjadi pemberat utama laju IHSG.
Terjadi transaksi crossing saham BYAN di pasar negosiasi senilai Rp26,1 triliun (10,08 miliar saham di harga Rp2.588 per saham) yang merealisasikan akuisisi oleh PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam.
Laporan registrasi pemegang efek BYAN per akhir September 2026 menegaskan Haji Isam dan PT Jhonlin Baratama belum resmi masuk, di tengah proses perjanjian jual beli bersyarat 30% saham (10 miliar lembar) dari Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Spekulasi transaksi ini telah mendorong lonjakan investor pemilik SID BYAN sebesar 65% menjadi 8.187 investor.
Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low menambah porsi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang dilepas ke PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam menjadi 10.084.088.370 saham dari sebelumnya 10.000.000.500 saham. Perubahan perjanjian jual beli saham bersyarat (PJBS) ini ditandatangani pada 1 Oktober 2026 dan dipastikan tidak berdampak material negatif terhadap operasional perseroan.
IHSG menguat 1,26% ke level 6.196,09 di akhir Sesi I didorong oleh lonjakan sektor energi sebesar 3,08% dan teknologi 2,1% dengan nilai transaksi mencapai Rp5,62 triliun. Saham BYAN, BBRI, MORA, GOTO, dan DCII tampil sebagai pendorong utama kenaikan indeks.
IHSG ditutup menguat 1,21% ke level 6.192,93 ditopang lonjakan sektor energi sebesar 4,14% serta penguatan saham BYAN, AMMN, dan GOTO dengan total transaksi Rp10,97 triliun. Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan jual pada BBCA dan BBRI serta lonjakan imbal hasil US Treasury 10-tahun ke 5,307%.
IHSG melesat 1,01% ke level 6.180,43 pada sesi I ditopang lonjakan sektor energi sebesar 2,5% serta penguatan saham BYAN, BBRI, dan GOTO dengan nilai transaksi mencapai Rp4,03 triliun.
IHSG naik 1,10% ke level 6.162,04 didorong lonjakan saham tambang seperti MDKA (+24,77%), namun dibayangi net sell asing Rp1,07 triliun serta ancaman outflow hingga US$2,86 miliar akibat dikeluarkannya DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks FTSE Russell. Di sisi lain, SINI bersiap rights issue Rp5.000 per saham untuk akuisisi anak usaha PTRO senilai Rp1,73 triliun.
Tekanan jual masif pada saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu dan emiten komoditas menjadi katalis utama pelemahan IHSG secara mingguan. Koreksi tajam pada konstituen berkapitalisasi besar (big caps) seperti TPIA, BREN, dan AMMN mengindikasikan adanya aksi profit taking atau rebalancing portofolio institusi yang signifikan.
Kebijakan ekspor batu bara satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) per September 2026 memicu aksi jual masif yang menekan saham BUMI (-6,99%), INDY (-6,15%), HRUM (-5,16%), dan ADRO (-4,29%). Tekanan dipicu oleh potensi penurunan margin, hilangnya fleksibilitas negosiasi ASP langsung, dan risiko kurs transaksi.
IHSG ditutup menguat 1,10% ke level 6.162,05 ditopang lonjakan sektor bahan baku sebesar 3,38% serta dorongan saham MDKA dan BRMS, meski asing mencatatkan net sell Rp340,5 miliar di sesi I.
IHSG anjlok tajam 3,54% (-223,56 poin) ke level 6.094,94 dengan nilai transaksi mencapai Rp18,03 triliun dan 700 saham tercatat melemah. Tekanan jual masif ini dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti ASII, BRMS, BYAN, dan MORA saat bursa Asia lainnya justru mayoritas menguat.
Kekayaan Prajogo Pangestu anjlok 52,45% (US$15 miliar) sepanjang tahun akibat rontoknya saham Grup Barito, dipimpin BREN yang ambles 62,27% dalam sebulan usai didepak dari indeks MSCI karena isu konsentrasi kepemilikan saham (HSC) 97,31%. Kejatuhan saham-saham seperti CUAN (-65,15%), TPIA (-47,21%), dan BRPT (-27,64%) telah memangkas total kapitalisasi pasar grup Barito lebih dari Rp1.400 triliun dari titik tertingginya.
IHSG anjlok 3,46% ke level 6.370,68 dan diproyeksikan MNC Sekuritas rawan melanjutkan pelemahan menuju kisaran 6.084-6.148. Tekanan jual berat dipimpin oleh saham CUAN (-13,33%), MBMA (-11,85%), dan DEWA (-11,82%).
Kebijakan baru Presiden Prabowo terkait ekspor satu pintu via BUMN untuk komoditas batu bara, CPO, dan paduan besi senilai US$65 miliar menekan saham swasta seperti ADRO (-6%) dan BYAN (-2,18%), sedangkan emiten BUMN PTBA melonjak 6,79%.
Prajogo Pangestu, pemilik Grup Barito Pacific, memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 71,1 miliar atau Rp1.134 triliun dan menjadi orang terkaya ke-24 di dunia
Harga batubara naik 13,96% sebulan, ditopang permintaan China. Kenaikan berpotensi terbatas dekat US$135–150/ton akibat suku bunga tinggi dan harga minyak melemah.
BREN naik 7,05% dan menjadi emiten bermarket cap terbesar, menyalip BBCA. Pergeseran kapitalisasi mencerminkan harga saham, bukan selalu penguatan fundamental.
Harga batubara naik 5,98% sepekan, ditopang ketegangan Timur Tengah dan impor China. Kenaikan berisiko sementara; harga masih tertekan hingga akhir tahun.
Prajogo Pangestu menjadi orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan sebesar Rp771,53 triliun, didorong oleh kenaikan harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
Kinerja emiten konglomerasi beragam: laba emiten batubara turun tajam seiring melemahnya harga, sementara INDF, ICBP, dan ASII menunjukkan daya tahan lewat diversifikasi.
IHSG turun 0,16% ke 7.365,66; saham melemah lebih banyak daripada menguat. Tekanan pada TLKM, AMMN, dan saham konsumer dibatasi kenaikan beberapa saham energi dan bank.
IHSG naik 0,47% ke 7.336,74, tetapi penguatan pasar terbatas dengan jumlah saham naik dan turun hampir seimbang. GOTO melemah 1,37% menjelang laporan keuangan 2023; BREN dan TPIA menguat.
Prajogo Pangestu menjadi orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan bersih sebesar US$43,3 miliar, didorong oleh kenaikan harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)