Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akan melakukan relaksasi terbatas produksi batu bara melebihi target RKAB 2026 (~600 juta ton) karena harga batu bara tembus US$154/ton (kalori 6.330 kcal/kg GAR), guna meningkatkan devisa negara. Selain itu, pabrik ekosistem baterai mobil listrik CATL-IBC di Karawang akan segera diresmikan.
BUMI menjadi saham paling sering diperdagangkan di September 2026 dengan frekuensi 1.103.000 kali (naik 8,89% MoM), diikuti CUAN (834.000 kali, +1,58% MoM) dan DSSA (717.000 kali, turun 35,42% MoM).
Harga batu bara naik mencapai 154 dolar AS per ton untuk kalori 6322, Menko Bahlil Lahadalia berharap produksi dinaikkan dengan relaksasi terbatas untuk mendorong penerimaan devisa. Pemerintah juga akan meresmikan pabrik ekosistem baterai kendaraan listrik di Karawang kerja sama CATL dan BUMN.
Eks Mendag Muhammad Lutfi mengkritik Singapura terkait karhutla, menyebut perusahaan sawit seperti First Resources dan Bumitama Agri yang terdaftar di SGX senilai total SGD 10 miliar (Rp 141 triliun) sebagai pelaku, serta menyoroti praktik transfer pricing dan penghindaran pajak melalui family office di Singapura.
Kementerian ESDM mengalokasikan 154 juta ton batu bara untuk pembangkit listrik PLN pada 2026 melalui kebijakan DMO, ditambah 5 juta ton untuk industri semen, dengan total produksi nasional ditargetkan 700-an juta ton dari revisi RKAB 2026.
Kementerian ESDM menyetujui revisi RKAB 2026 dengan target produksi batu bara 700 juta ton (naik dari rencana awal 600-an juta ton namun turun dari realisasi 2025 sebesar 817,48 juta ton) dan nikel 290-an juta ton (turun dari realisasi 2025 sebesar 379 juta ton), dengan DMO PLN sebesar 154 juta ton. Kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan pasokan-permintaan dan mendongkrak harga komoditas global.
IHSG naik 0,29% ke 5.948,83 namun asing melakukan net sell jumbo Rp1,13 triliun. BBRI menjadi saham paling banyak dilepas asing sebesar Rp56,86 miliar, diikuti BMRI Rp35,97 miliar dan saham-saham tambang seperti ADMR, ITMG, PTBA.
IHSG melemah lebih dari 1% ke level 5.800-an dengan Rupiah merosot ke Rp 17.948/USD, sementara harga batu bara mendekati USD 150/ton dan minyak mentah bertahan di atas USD 100/barel akibat risiko gangguan pasokan.
IHSG ditutup naik 0,39% ke level 5.948,83 namun asing melakukan net sell jumbo Rp1,13 triliun. BBRI menjadi saham paling banyak dilepas asing sebesar Rp56,86 miliar, diikuti BMRI Rp35,97 miliar dan saham-saham tambang seperti ADMR, ITMG, PTBA.
BUMI merespons rumor akuisisi Kideco Jaya Agung milik INDY dengan menyatakan tidak dapat berkomentar atas spekulasi pasar, sambil menegaskan arah strategis diversifikasi ke luar batu bara termal, sementara Kideco justru bergerak di bisnis batu bara termal.
IHSG turun 0,17% ke level 5.925,98 pada 13/10/2026, namun asing mencatatkan net buy Rp561,60 miliar dengan ASII (Rp44,73 miliar), TINS (Rp35,28 miliar), dan BRMS (Rp34,45 miliar) sebagai saham paling banyak diborong asing.
BUMI memberikan klarifikasi kepada BEI bahwa perseroan tidak dapat memverifikasi rumor pasar mengenai akuisisi tambang Kideco milik INDY dan menegaskan fokus strategis perseroan saat ini adalah diversifikasi di luar batu bara termal.
MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG rawan terkoreksi sepekan ke depan menguji level support 5.973 dan resistance 6.227 akibat rilis data inflasi AS, arah suku bunga The Fed, serta potensi pelemahan nilai tukar Rupiah.
IHSG anjlok 2,6% ke level 5.936,15 akibat aksi jual masif pada saham konglomerasi seperti DSSA (-15%), PTRO (-15%), TPIA (-10%), BUMI (-8%), dan BRMS (-6%). Penurunan tajam ini dipicu rumor sanksi serta kekhawatiran pembekuan (freeze) perlakuan saham Indonesia oleh MSCI pada akhir Oktober 2026.
IHSG terperosok 1,93% ke level 5.975,78 pada sesi I akibat tekanan jual sektor infrastruktur (-6,70%) dan energi (-3,65%) serta net foreign sell senilai Rp166,22 miliar. Tekanan jual asing terbesar melanda saham BUMI sebesar Rp44,40 miliar dan BBCA senilai Rp38,65 miliar, meskipun saham GOTO masih diborong asing Rp133,02 miliar.
Riset MNC Sekuritas: IHSG pekan depan berpeluang menguat menguji gap 6.227-6.231 (tutup Jumat +1,04% ke 6.093 dengan volume pembelian; weekly +0,94% namun belum break MA20); waspadai koreksi ke 5.850-5.911 jika break 5.973; saham dicermati: BRPT Buy on Weakness 1.300-1.390 (target 1.505, 1.630; stoploss di bawah 1.270) dan BUMI Trading Buy 174-177 (target 192, 208; stoploss di bawah 171).
BUMI dikabarkan menjadi kandidat terkuat mengakuisisi Kideco Jaya Agung milik INDY dengan valuasi di atas USD1 miliar (Rp18 triliun); pesaing Rio Tinto dan Emirates Global Aluminium, kedua pihak menolak berkomentar.
IHSG sesi I Jumat (9/10/2026) naik 0,35% ke 6.052,51 meski asing net sell Rp32,05 miliar; net buy terbesar SINI Rp15,94 miliar, CUAN Rp12,80 miliar, ARCI Rp9,52 miliar, BBCA Rp9,11 miliar, EMAS Rp8,96 miliar; net sell terbesar GOTO Rp27,91 miliar, BUMI Rp21,98 miliar, BBRI Rp20,63 miliar.
IHSG terkoreksi 0,75% ke level 6.146,72 diiringi aksi jual bersih asing senilai Rp871,36 miliar di seluruh pasar. Tekanan jual asing paling besar tercatat pada saham BBCA sebesar Rp299,69 miliar dan GOTO senilai Rp147,37 miliar.
IHSG naik 1,26% ke level 6.196,09 pada sesi I meski asing mencatatkan net sell Rp273,81 miliar dengan pelepasan terbesar pada GOTO dan BMRI, sementara BBRI dan TPIA paling banyak diborong.
Investor asing mencatatkan net sell Rp976,66 miliar pada sesi I pasca peninjauan klasifikasi MSCI, memicu IHSG anjlok 1,62% ke 6.002,20 dengan tekanan jual terbesar pada BBRI dan TPIA, meski BREN dibeli Rp107,79 miliar.
Indeks Bisnis-27 dibuka melemah tipis 0,08% ke level 440,74 tertekan anjloknya saham BUMI (-5,41%), TAPG (-4,94%), dan DEWA (-4,76%). Koreksi indeks komoditas tertahan oleh penguatan saham perbankan besar seperti BBRI (+1,97%) dan BBCA (+1,69%) di tengah sentimen ketegangan Selat Hormuz dan penantian rebalancing MSCI.
IHSG dibuka menguat 0,29% ke level 6.179,67 didorong reli saham SCMA (+2,73%), ISAT (+2,44%), dan BBRI (+2,30%). Namun, sektor energi seperti CUAN (-5,63%) dan DEWA (-4,23%) tertekan oleh volatilitas jelang implementasi ekspor komoditas Danantara per 1 Juni 2026.
Meskipun IHSG ambles 8,35% ke level 6.162,04 tertekan anjloknya saham TPIA (-53,49%) dan DSSA (-47,34%), investor asing tercatat selektif memborong saham mineral dan komoditas dengan net buy terbesar pada MDKA (Rp691,1 miliar), BRMS (Rp414,3 miliar), dan BUMI (Rp413,1 miliar).
IHSG dibuka menguat 36,29 poin (0,59%) ke level 6.199,02 didorong oleh kenaikan seluruh indeks sektoral, terutama sektor infrastruktur (+1,74%). Saham SCMA, ISAT, dan BBRI menjadi top gainers LQ45, sementara CUAN, BUMI, dan DEWA berada di jajaran top losers.
IHSG menguat 0,93% ke level 6.219,34 pada penutupan Sesi I didorong kenaikan 511 saham dan lonjakan sektor transportasi sebesar 4,19%, dengan ADMR, MDKA, dan SCMA memimpin penguatan di indeks LQ45.
Meski IHSG anjlok 8,35% dalam sepekan ke level 6.162,04 dan mencatat net sell asing Rp 2,03 triliun, investor asing terpantau mengakumulasi saham tambang dan energi seperti MDKA (Rp 691,09 miliar), BRMS (Rp 414,27 miliar), dan BUMI (Rp 413,08 miliar).
Kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menciptakan ketidakpastian regulasi dan risiko birokrasi yang menekan margin emiten komoditas. Sentimen ini memperburuk risk premium pasar di tengah tekanan outflow asing dan pelemahan Rupiah, memicu volatilitas tinggi pada saham sektor energi dan batubara.
IHSG ditutup menguat 1,10% ke level 6.162,05 ditopang lonjakan sektor bahan baku sebesar 3,38% serta dorongan saham MDKA dan BRMS, meski asing mencatatkan net sell Rp340,5 miliar di sesi I.
Kebijakan ekspor batu bara satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) per September 2026 memicu aksi jual masif yang menekan saham BUMI (-6,99%), INDY (-6,15%), HRUM (-5,16%), dan ADRO (-4,29%). Tekanan dipicu oleh potensi penurunan margin, hilangnya fleksibilitas negosiasi ASP langsung, dan risiko kurs transaksi.
IHSG berhasil rebound 1,10% ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat ditopang reli sektor energi dan basic materials, meski secara kumulatif masih anjlok 8,35% dalam sepekan. Penguatan didorong rumor penundaan kebijakan ekspor komoditas strategis hingga 1 Januari 2027 yang mengerek saham MDKA, INCO, DEWA, dan BUMI.
Setelah ditutup melemah 0,82% ke level 6.318,50 tertekan saham BRPT dan CUAN, IHSG dibuka rebound 0,55% ke 6.353,09 didorong penguatan saham perbankan seperti BBCA dan BMRI. MNC Sekuritas memproyeksikan rentang support indeks di 6.148-6.092 serta merekomendasikan buy on weakness untuk AADI, HRTA, dan MBMA.
IHSG melemah 0,82% ke level 6.318,50 tertekan kekhawatiran kebijakan ekspor komoditas SDA satu pintu melalui BUMN untuk batu bara, kelapa sawit, dan feroalloy yang diumumkan Presiden Prabowo. Saham komoditas swasta seperti BRPT (-10,18%), CUAN (-9,23%), dan BUMI (-6,99%) anjlok akibat potensi penurunan margin, meski emiten BUMN PTBA justru naik 6,42%.
IHSG anjlok 3,46% ke level 6.370,68 dan diproyeksikan MNC Sekuritas rawan melanjutkan pelemahan menuju kisaran 6.084-6.148. Tekanan jual berat dipimpin oleh saham CUAN (-13,33%), MBMA (-11,85%), dan DEWA (-11,82%).
PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) membatalkan RUPSLB 28 Juni 2024 karena terganjal parameter regulasi rata-rata laba 3 tahun terakhir yang belum memenuhi batas 10 kali laba ditahan, meski RUPST tetap berlangsung. Corporate Secretary Dileep Srivastava menegaskan komitmen perseroan untuk tetap memprioritaskan kemampuan pembayaran dividen di masa depan.
Artikel menyoroti perjalanan jatuh bangun Grup Bakrie sejak 1936 hingga restrukturisasi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) lewat private placement senilai Rp24 triliun bersama Grup Salim yang menyehatkan kembali produsen batu bara tersebut.
Artikel mengidentifikasi 17 saham yang terafiliasi dengan pendukung Prabowo-Gibran, termasuk emiten milik Aburizal Bakrie (VKTR, BNBR, BUMI, BRMS, ENRG, DEWA, VIVA, MDIA, UNSP, ELTY, JGLE, BTEL), Kaesang (PMMP), keluarga Prabowo (WIRG), Pandu Sjahrir (TOBA, GOTO), serta Aguan (PANI) dan MKTR milik mertua Menpora Dito Ariotedjo.
Haji Isam, seorang konglomerat dari Kalimantan Selatan, memulai usahanya dari nol dan berhasil membangun gurita bisnis dengan omzet sekitar Rp 40 miliar per bulan dari penambangan batu bara
PT Kaltim Prima Coal (KPC) menyambut aturan baru pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang menjadi tiga tahun, bukan setiap tahun, karena dianggap lebih efektif dan meringankan perusahaan
PT Bumi Resources TBK (BUMI) berencana untuk menggarap proyek hilirisasi batu bara dan gasifikasi batu bara menjadi amonia, dengan target kapasitas gasifikasi batubara sebesar 100 juta ton pada tahun 2030
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menargetkan produksi batu bara sebesar 80 juta ton pada tahun 2024 setelah mengantongi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah
Target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sektor Minerba pada 2024 diturunkan menjadi Rp 227,3 Triliun, produksi batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) diperkirakan meningkat 5% dari produksi 2023 yang mencapai 78 Juta ton