IHSG anjlok 3,64% ke 4.996,61 dengan asing net sell jumbo Rp1,72 triliun di seluruh pasar. BBRI menjadi saham paling banyak dijual asing senilai Rp1,08 triliun, diikuti BBCA Rp986,87 miliar dan TLKM Rp367,48 miliar.
IHSG anjlok 1,33% ke level 5.863,78 dengan 567 saham melemah, meski investor asing justru melakukan net buy Rp567,96 miliar. 10 saham yang paling banyak dilepas asing antara lain ITMG (Rp33,83 miliar), GOTO (Rp22,51 miliar), dan TLKM (Rp17,92 miliar).
MNC Sekuritas memperingatkan potensi koreksi IHSG ke rentang 5.744-5.794, dengan support di 5.887 dan 5.744 serta resistance di 6.216 dan 6.296; volume pembelian cenderung mengecil meski IHSG sempat menguat 0,29% ke 5.943.
IHSG ditutup naik 0,39% ke level 5.948,83 namun asing melakukan net sell jumbo Rp1,13 triliun. BBRI menjadi saham paling banyak dilepas asing sebesar Rp56,86 miliar, diikuti BMRI Rp35,97 miliar dan saham-saham tambang seperti ADMR, ITMG, PTBA.
IHSG naik 0,29% ke 5.948,83 namun asing melakukan net sell jumbo Rp1,13 triliun. BBRI menjadi saham paling banyak dilepas asing sebesar Rp56,86 miliar, diikuti BMRI Rp35,97 miliar dan saham-saham tambang seperti ADMR, ITMG, PTBA.
ADMR melalui anak usaha PT Maruwai Coal menerbitkan obligasi Rp2 triliun (peringkat idAA) untuk membiayai pembangunan CHPP 2 di Murung Raya, Kalimantan Tengah, guna mendukung peningkatan produksi batu bara metalurgi. Sekitar 92% dana dialokasikan untuk capex dengan bunga 8-8,75% per tahun.
IHSG turun 0,17% ke level 5.925,98 meninggalkan level 6.000. Meski asing net buy Rp561,60 miliar secara keseluruhan, 10 saham mengalami net foreign sell besar dipimpin BMRI (Rp120,07 miliar), TLKM (Rp74,76 miliar), dan BBRI (Rp65,31 miliar).
Menko Bahlil menegaskan Indonesia tidak akan lagi ekspor bahan baku mentah, dengan masterplan hilirisasi nasional hingga 2040 senilai US$618 miliar (Rp11.062 triliun) mencakup mineral, migas, kehutanan, perikanan, dan pertanian. Nilai ekspor nikel naik dari US$3,3 miliar menjadi US$40 miliar di 2025 dan ditargetkan US$45 miliar di 2026.
Pergerakan saham energi dan komoditas cenderung stagnan dengan minimnya katalis baru di pasar. Sentimen investor saat ini wait-and-see menunggu arah kebijakan moneter global.
Pasar berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas rendah di tengah stabilitas nilai tukar Rupiah. Sentimen investor cenderung wait-and-see menunggu arah kebijakan moneter global lebih lanjut.
Pasar menunjukkan stabilitas dengan aliran modal asing yang netral dan volatilitas rendah. Sektor energi tetap menjadi penggerak utama di tengah kondisi makro yang stabil.
Rupiah di pasar spot melemah 0,05% ke level Rp 17.725 per dolar AS pada Senin (25/5) siang akibat eskalasi geopolitik AS-Iran dan serangan Israel di Lebanon Selatan. Analis Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.710 hingga Rp 17.760 per dolar AS.
Harga aluminium global melesat 47,67% YoY ke level US$ 3.650 per ton akibat disrupsi pasokan di Timur Tengah dan pembatasan produksi China. Lonjakan ini mendongkrak proyeksi margin laba dan keekonomian proyek hilirisasi smelter milik ADMR, CITA, serta ANTM.
IHSG menguat 0,93% ke level 6.219,34 pada penutupan Sesi I didorong kenaikan 511 saham dan lonjakan sektor transportasi sebesar 4,19%, dengan ADMR, MDKA, dan SCMA memimpin penguatan di indeks LQ45.
IHSG dibuka menguat 0,29% ke level 6.179,67 didorong reli saham SCMA (+2,73%), ISAT (+2,44%), dan BBRI (+2,30%). Namun, sektor energi seperti CUAN (-5,63%) dan DEWA (-4,23%) tertekan oleh volatilitas jelang implementasi ekspor komoditas Danantara per 1 Juni 2026.
Rupiah terus melemah menembus level Rp17.726 per dolar AS akibat tekanan eksternal yang persisten. Pelemahan mata uang domestik ini meningkatkan beban biaya impor dan risiko inflasi bagi emiten.
Rupiah terus melemah menembus level Rp17.726 per dolar AS akibat tekanan eksternal yang persisten. Pelemahan mata uang domestik ini meningkatkan beban biaya impor dan risiko inflasi bagi emiten.
Penurunan IHSG sebesar 28,22% YTD mencerminkan sentimen pasar yang sangat tertekan akibat arus keluar dana asing (foreign outflow) yang masif dan ketidakpastian makro global. Analis menekankan pentingnya manajemen risiko yang ketat dan selektivitas sektor di tengah volatilitas tinggi, menandakan fase distribusi atau konsolidasi bearish yang berkepanjangan.
Setelah ditutup melemah 0,82% ke level 6.318,50 tertekan saham BRPT dan CUAN, IHSG dibuka rebound 0,55% ke 6.353,09 didorong penguatan saham perbankan seperti BBCA dan BMRI. MNC Sekuritas memproyeksikan rentang support indeks di 6.148-6.092 serta merekomendasikan buy on weakness untuk AADI, HRTA, dan MBMA.
IHSG melemah 0,82% ke level 6.318,50 tertekan kekhawatiran kebijakan ekspor komoditas SDA satu pintu melalui BUMN untuk batu bara, kelapa sawit, dan feroalloy yang diumumkan Presiden Prabowo. Saham komoditas swasta seperti BRPT (-10,18%), CUAN (-9,23%), dan BUMI (-6,99%) anjlok akibat potensi penurunan margin, meski emiten BUMN PTBA justru naik 6,42%.
Dividen Rp12,9 triliun mendukung daya tarik ADRO, tetapi saham melemah dan mendekati area puncak; analis menyarankan wait-and-see atau sell on strength. ADMR mendapat rekomendasi beli.
ADRO menargetkan pendapatan non-batubara thermal mencapai 50% pada 2030, ditopang ADMR, smelter aluminium, dan proyek EBT. Diversifikasi mendukung prospek jangka panjang, tetapi manfaat bergantung pada eksekusi proyek bertenggat panjang.
Adaro Minerals (ADMR) telah menjajaki kerja sama dengan tiga calon mitra pengganti Hyundai untuk proyek pengadaan aluminium, dengan dua di antaranya telah menandatangani nota kesepakatan (MoU)
ADMR lanjutkan rencana produksi aluminium berbasis PLTU; MoU Hyundai berakhir saat PLTA belum siap. Prospek tetap ada, tetapi transisi ke aluminium hijau tertunda.
ADMR menahan seluruh laba bersih 2023 untuk cadangan dan ekspansi, meski laba naik 32,75%. Investasi infrastruktur dan smelter mendukung pertumbuhan jangka panjang, tetapi meniadakan dividen dan menambah risiko eksekusi.
Smelter aluminium ADMR berkapasitas awal 500.000 ton ditargetkan beroperasi komersial bertahap mulai kuartal III-2025; konsolidasi produksi mulai 2026. MoU pembelian Hyundai berakhir tanpa kerugian, tetapi kepastian offtake belum ada.
Capex ADMR hingga US$250 juta mendukung ekspansi batu bara metalurgi dan smelter aluminium. Prospek produksi dan hilirisasi positif, dengan risiko tekanan arus kas serta eksekusi proyek.
Pelemahan rupiah berdampak terbatas pada ADMR karena pendapatan dan sebagian besar biaya berdenominasi dolar AS. Laba kuartal I naik 36%, dengan target penjualan batubara metalurgi meningkat hingga 21%.
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) mencetak laba bersih sebesar US$ 116 juta atau Rp1,88 triliun pada kuartal I-2024, dengan peningkatan pendapatan 24% dan efisiensi beban
ADRO mempertahankan target penjualan 65–67 juta ton sambil mengendalikan operasi dan biaya di tengah risiko La Niña. Cuaca basah dapat mengganggu produksi, tetapi target mencerminkan keyakinan operasional.
Proyek smelter aluminium ADMR menargetkan operasi bertahap mulai 2025, berpotensi menambah nilai hilirisasi dan pendapatan jangka panjang. Risiko eksekusi, kebutuhan listrik, dan investasi besar membatasi dampak jangka pendek.
Target penjualan 65–67 juta ton dan capex US$600–700 juta mendukung prospek pertumbuhan ADRO. Smelter aluminium dan PLTA memperkuat diversifikasi, dengan risiko eksekusi serta siklus harga batubara.
Target produksi dan penjualan batu bara ADRO 2024 berpotensi mencetak rekor. Positif bagi prospek ADRO dan ADMR, bergantung pada harga batu bara dan realisasi produksi.
Asing net sell Rp846,23 miliar saat IHSG turun 0,15%, tetapi selektif membeli BULL dan ADMR. Tekanan jual pada saham big cap mengimbangi minat beli terbatas.
IHSG turun 0,61% saat asing net sell Rp1,04 triliun, meski AMMN, ISAT, OASA, dan SIDO mencatat net buy. Arus beli selektif belum mengimbangi tekanan jual pasar.