IHSG anjlok 3,64% ke 4.996,61 dengan asing net sell jumbo Rp1,72 triliun di seluruh pasar. BBRI menjadi saham paling banyak dijual asing senilai Rp1,08 triliun, diikuti BBCA Rp986,87 miliar dan TLKM Rp367,48 miliar.
IHSG anjlok 3,64% ke 4.996,61 dengan net sell asing Rp2,28 triliun; BEI akan mengeluarkan 83 saham HSC (bobot ~18% IHSG, kapitalisasi Rp3.076,5 triliun) dari perhitungan indeks setelah pertemuan dengan MSCI. DMAS menaikkan target marketing sales 41,83% menjadi Rp2,95 triliun didorong permintaan data center.
MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguat jangka pendek menguji 5.046-5.133 setelah terkoreksi 3,64% ke 4.996, namun waspadai pembalikan ke 4.766-4.846. Rekomendasi Trading Buy untuk AADI di Rp9.900-10.075 dengan target Rp10.400-10.650.
AADI mulai melaksanakan buyback saham secara bertahap pada 20/10/2026, berdasarkan persetujuan RUPST 22 Mei 2026, dengan periode pelaksanaan hingga 22 Mei 2027 untuk mendukung stabilisasi pasar dan mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental bisnis.
IHSG ditutup turun 3,64% ke 4.996,61 dengan net sell asing Rp2,28 triliun, namun analis BNI Sekuritas Fanny Suherman memproyeksikan technical rebound ke 5.020-5.160 dengan catatan potensi koreksi lanjutan masih terbuka akibat ketidakpastian MSCI.
IHSG ditutup turun 3,64% ke 4.996,61 di bawah level psikologis 5.000, tertekan kekhawatiran reklasifikasi MSCI ke Standalone Market dan rencana BEI mengeluarkan 80 saham HSC (bobot ~18% indeks) dari perhitungan IHSG. Support Fibonacci di 4.953 dan 4.757.
Asing net sell Rp1,05 triliun di sesi I dengan IHSG anjlok 5,05% ke level 4.923,26. BBCA menjadi saham paling banyak dilepas asing senilai Rp670,83 miliar, diikuti BBRI Rp515,17 miliar, sementara total net sell di dua saham bank tersebut (Rp1,19 T) melebihi total net sell seluruh pasar.
IHSG masih terkoreksi 3,53% ke level 5.002,28 namun memangkas pelemahan dari -5% di akhir Sesi I berkat kabar Danantara akan masuk membeli saham BUMN yang jatuh dalam. Saham penopang pemulihan antara lain BSIM, BMRI, AADI, PTBA, DSSA, sementara BBCA, BBRI, BYAN, TLKM, AMMN masih jadi pemberat.
IHSG turun 2,16% ke level 5.814,72 dengan net foreign sell Rp182,94 miliar. TLKM paling banyak dijual asing (Rp34,93 M), sementara BBCA paling banyak dibeli asing (Rp104,89 M).
IHSG ditutup naik 0,39% ke level 5.948,83 namun asing melakukan net sell jumbo Rp1,13 triliun. BBRI menjadi saham paling banyak dilepas asing sebesar Rp56,86 miliar, diikuti BMRI Rp35,97 miliar dan saham-saham tambang seperti ADMR, ITMG, PTBA.
IHSG naik 0,29% ke 5.948,83 namun asing melakukan net sell jumbo Rp1,13 triliun. BBRI menjadi saham paling banyak dilepas asing sebesar Rp56,86 miliar, diikuti BMRI Rp35,97 miliar dan saham-saham tambang seperti ADMR, ITMG, PTBA.
Harga emas Antam (logam mulia) turun Rp13.000 per gram menjadi Rp2,561 juta per gram pada Kamis, menandakan pelemahan harga emas lokal yang dapat menekan margin bisnis logam mulia.
IHSG turun 0,17% ke level 5.925,98 meninggalkan level 6.000. Meski asing net buy Rp561,60 miliar secara keseluruhan, 10 saham mengalami net foreign sell besar dipimpin BMRI (Rp120,07 miliar), TLKM (Rp74,76 miliar), dan BBRI (Rp65,31 miliar).
Tim Analis Bareksa merekomendasikan quick trade untuk AADI (target Rp12.750–13.100), DSSA (target Rp1.225–1.260), dan ENRG (target Rp1.135–1.170) didukung proyeksi IHSG bergerak positif di rentang 6.119–6.232.
Tim Analis Bareksa merekomendasikan saham SMIL, HRTA, ASII, PTBA, MAPI, AADI, BRMS, dan BMRI seiring proyeksi IHSG yang berpeluang melanjutkan penguatan dan bertahan di zona positif.
IHSG tercatat melemah 3,28% dalam sepekan di tengah lonjakan imbal hasil obligasi AS hingga 5,3%, namun tim analis Bareksa memproyeksikan potensi penguatan dengan merekomendasikan saham PTBA, MAPI, AADI, SMIL, HRTA, dan ASII.
Pasar menunjukkan stabilitas dengan volatilitas rendah dan aliran modal asing yang netral. Fokus investor tetap tertuju pada sektor energi di tengah kondisi makro yang stabil.
Pasar menunjukkan stabilitas dengan aliran modal asing yang netral dan volatilitas rendah. Sektor energi tetap menjadi penggerak utama di tengah kondisi makro yang stabil.
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menetapkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 senilai US$ 200 juta atau mencerminkan Dividend Payout Ratio (DPR) 26,30% dari laba bersih US$ 760,18 juta. Tanggal cum dividen di pasar reguler ditetapkan pada 4 Juni 2026 dengan pembayaran pada 18 Juni 2026.
IHSG anjlok 1,23% ke level 6.130,19 terbebani koreksi tajam saham big cap seperti INCO (-10,68%), ASII (-8,48%), dan AMRT (-8,11%). Sebanyak 461 saham ditutup melemah di tengah ketidakpastian negosiasi Iran-AS dan sentimen rebalancing indeks MSCI.
Kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menimbulkan ketidakpastian baru bagi emiten batubara, CPO, dan logam/mineral di IDX. Kekhawatiran pasar meliputi potensi perubahan fungsi DSI dari verifikator menjadi trader, serta perluasan komoditas ke nikel, tembaga, bauksit, timah, dan LNG. Sentimen negatif diperkuat oleh sikap wait and see investor dan kewaspadaan lembaga pemeringkat internasional.
AADI mengumumkan pembagian dividen final sebesar US$450 juta dengan yield menarik sekitar 5,5%, mencerminkan komitmen pengembalian modal kepada pemegang saham meski laba bersih mengalami penurunan tahunan. Keputusan ini memberikan sentimen positif bagi investor yang berorientasi pada dividen (dividend play) di tengah volatilitas sektor batu bara.
Kebijakan ekspor batu bara satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) per September 2026 memicu aksi jual masif yang menekan saham BUMI (-6,99%), INDY (-6,15%), HRUM (-5,16%), dan ADRO (-4,29%). Tekanan dipicu oleh potensi penurunan margin, hilangnya fleksibilitas negosiasi ASP langsung, dan risiko kurs transaksi.
IHSG ambruk 1,87% ke level 5.980,85 menembus ke bawah level psikologis 6.000 dengan 473 saham memerah di awal perdagangan. Pelemahan LQ45 dipimpin oleh anjloknya CUAN sebesar 10,65%, MEDC 7,20%, dan EMTK 5,97%.
Setelah ditutup melemah 0,82% ke level 6.318,50 tertekan saham BRPT dan CUAN, IHSG dibuka rebound 0,55% ke 6.353,09 didorong penguatan saham perbankan seperti BBCA dan BMRI. MNC Sekuritas memproyeksikan rentang support indeks di 6.148-6.092 serta merekomendasikan buy on weakness untuk AADI, HRTA, dan MBMA.