PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk. menggelar IPO melepas 2,52 miliar saham (20,02%) di rentang harga Rp135-Rp170 per saham, dengan kepemilikan strategis dari Raffi Ahmad (78,68%), SCMA melalui IEG (9,04%), dan anak usaha BOLA (0,76%).
IHSG dibuka menguat 0,29% ke level 6.179,67 didorong reli saham SCMA (+2,73%), ISAT (+2,44%), dan BBRI (+2,30%). Namun, sektor energi seperti CUAN (-5,63%) dan DEWA (-4,23%) tertekan oleh volatilitas jelang implementasi ekspor komoditas Danantara per 1 Juni 2026.
IHSG menguat 0,93% ke level 6.219,34 pada penutupan Sesi I didorong kenaikan 511 saham dan lonjakan sektor transportasi sebesar 4,19%, dengan ADMR, MDKA, dan SCMA memimpin penguatan di indeks LQ45.
Rupiah di pasar spot melemah 0,05% ke level Rp 17.725 per dolar AS pada Senin (25/5) siang akibat eskalasi geopolitik AS-Iran dan serangan Israel di Lebanon Selatan. Analis Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.710 hingga Rp 17.760 per dolar AS.
IHSG dibuka menguat 36,29 poin (0,59%) ke level 6.199,02 didorong oleh kenaikan seluruh indeks sektoral, terutama sektor infrastruktur (+1,74%). Saham SCMA, ISAT, dan BBRI menjadi top gainers LQ45, sementara CUAN, BUMI, dan DEWA berada di jajaran top losers.
Rupiah terus melemah menembus level Rp17.726 per dolar AS akibat tekanan eksternal yang persisten. Pelemahan mata uang domestik ini meningkatkan beban biaya impor dan risiko inflasi bagi emiten.
Rupiah terus melemah menembus level Rp17.726 per dolar AS akibat tekanan eksternal yang persisten. Pelemahan mata uang domestik ini meningkatkan beban biaya impor dan risiko inflasi bagi emiten.
Penurunan IHSG sebesar 28,22% YTD mencerminkan sentimen pasar yang sangat tertekan akibat arus keluar dana asing (foreign outflow) yang masif dan ketidakpastian makro global. Analis menekankan pentingnya manajemen risiko yang ketat dan selektivitas sektor di tengah volatilitas tinggi, menandakan fase distribusi atau konsolidasi bearish yang berkepanjangan.
Berita ini menyoroti tekanan jangka pendek pada IHSG akibat volatilitas minyak, ekspektasi suku bunga global tinggi, pelemahan rupiah, dan perlambatan domestik. Potensi koreksi menuju level 6.000 dinilai terbuka, meskipun ada harapan rebound setelah valuasi diskon ekstrem.
IHSG menghadapi tekanan jual masif akibat kombinasi arus keluar asing pasca-rebalancing FTSE/MSCI, pelemahan Rupiah ke level Rp17.700, dan kenaikan BI Rate. Meskipun valuasi secara fundamental sudah terdiskon (undervalue), sentimen makro dan risiko kebijakan domestik terus memicu aksi jual pada saham-saham big caps.
SCMA mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 762,06 miliar dengan yield menarik di level 5,45%. Keputusan ini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap pemegang saham di tengah tantangan industri media, yang berpotensi memicu aksi beli investor berbasis dividen menjelang tanggal cum date.
Rupiah tertekan ke level Rp 17.717 per dolar AS akibat eskalasi tensi AS-Iran dan aturan ketat ekspor komoditas, mendorong Bank Indonesia menaikkan BI Rate 50 bps ke level 5,25%.
PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) menyetujui pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 762,06 miliar atau Rp 12 per saham dengan estimasi dividend yield 5,45%. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 3 Juni 2026 dan pembayaran dividen dilaksanakan pada 18 Juni 2026.
Laba SCMA naik 185,78% YoY, ditopang pertumbuhan pendapatan dan laba usaha. Biaya program tumbuh lebih cepat dari pendapatan, membatasi keberlanjutan margin.
Vidio menyiapkan strategi pertumbuhan di tengah rumor IPO, tetapi rencana belum dekat karena bisnis belum profitabel. Dampak pasar terbatas; profitabilitas tetap menjadi katalis utama EMTK dan SCMA.
Belanja iklan TV tergerus pergeseran ke media sosial dan OTT; dampak positif Pemilu dan Ramadan terbatas, sehingga prospek emiten media tetap tertekan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka peluang untuk melakukan rebalancing indeks LQ45 selama tiga bulan sekali, dan empat saham baru masuk dalam indeks LQ45, yaitu MBMA, MTEL, PGEO, dan PTMP