Ketua APPBI Alphonzus Widjaja memproyeksikan industri ritel modern akan mendapat momentum penjualan kuat pada Q4 2026 hingga Q1 2027, didorong rangkaian Natal, Tahun Baru, kenaikan UMP, Imlek, Ramadan, THR, Idulfitri, dan bonus kinerja perusahaan.
HIPPINDO menilai kewajiban sertifikat halal untuk produk nonmakanan (sepatu, dompet, ikat pinggang, tisu) yang berlaku 18 Oktober berpotensi memperlambat ekspansi ritel dan menghambat pembukaan gerai baru. Ketua Umum HIPPINDO Budiharjo Iduansjah menyatakan kebijakan ini akan 'mengerem ekonomi'.
Ketua APPBI Alphonzus Widjaja mengungkapkan fenomena 'Rojali' (rombongan jarang beli) masih berlanjut di Q3-2026, di mana kunjungan mal stabil namun transaksi belanja tidak meningkat seiring, diperparah low season pasca-Ramadan yang lebih panjang karena Idulfitri jatuh di Q1 2026.
Ketua APPBI Alphonzus Widjaja mengungkapkan penjualan fesyen di pusat perbelanjaan mengalami tekanan di periode low season paruh kedua 2026, karena Ramadan/Idulfitri yang lebih awal di Q1 memperpanjang jarak ke momentum belanja besar berikutnya meski kunjungan mal relatif stabil.
Mendag Budi Santoso mengubah kebijakan kuota wajib 30% produk UMKM di ritel modern menjadi pola kemitraan, karena aturan kuota dinilai bertentangan dengan ketentuan WTO. Aprindo menyebut sekitar 80% produk lokal sudah tersedia di ritel modern.
Hippindo membagikan 4.100 barcode SKU berstandar internasional kepada UMKM dalam TEI 2026 untuk mempermudah akses produk ke ritel modern, mendukung pertumbuhan sektor ritel dan peluang ekspor UMKM.
Emiten ritel mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba kuat pada kuartal I 2024, dipacu belanja hari raya. Sinyal positif, tetapi dorongan musiman dapat membatasi keberlanjutan.
Ramadan–Lebaran diperkirakan mengangkat penjualan ritel secara musiman. ACES dan MAPI lebih tahan; RALS dan LPPF tetap rentan terhadap inflasi pangan dan daya beli.
Ramadan-Lebaran berpotensi mengangkat penjualan ritel; emiten segmen menengah atas lebih resilien, sementara daya beli menengah bawah tertekan inflasi pangan.
Ramadan–Lebaran menopang penjualan ritel sementara; pemulihan penuh tertahan daya beli lemah dan kebijakan moneter ketat. Prospek membaik pada paruh kedua jika suku bunga turun.