BEI mencabut status High Shareholding Concentration (HSC) dari FILM (MD Entertainment) dan MGLV (NexAI Digital Infrastruktur) karena sebaran kepemilikan saham dinilai sudah tidak lagi terpusat, sementara 19 emiten lainnya masih berstatus HSC.
BEI merilis 19 emiten berstatus High Shareholding Concentration (HSC) seperti SSMS, MTEL, dan TBIG, sementara OJK bersiap melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap saham HSC yang aktif demi mengantisipasi manipulasi harga.
BEI resmi mengeluarkan saham FILM dan MGLV dari daftar High Shareholding Concentration (HSC) setelah sebelumnya mencatatkan konsentrasi kepemilikan masing-masing sebesar 92,98% dan 95,94%. Evaluasi ini mengindikasikan adanya perbaikan pada sebaran dan likuiditas kepemilikan saham publik di kedua emiten tersebut.
BEI memperbarui daftar High Shareholding Concentration (HSC) menjadi total 80 saham per 13 Oktober, dengan mendepak LUCY, MGLV, dan FILM serta memasukkan belasan emiten termasuk SSMS, TBIG, BMAS, dan PSAB.
MGLV (NexAI Digital Infrastruktur) salurkan shareholder loan Rp4 triliun ke dua anak usaha: NAC Rp1,5 triliun untuk data center Jababeka Cikarang dan NGC Rp2,5 triliun untuk KITB Batang; bunga 7% per tahun hingga 31 Desember 2028.
MSCI mempertahankan status Emerging Market Indonesia tetapi memperingatkan potensi penurunan ke Frontier Market pada November 2026 akibat isu transparansi dan free float, serta menyoroti 13 saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) termasuk BREN (97,31%) dan DSSA (95,76%).
Pengumuman dividen dari delapan emiten ini mencerminkan upaya perusahaan untuk menjaga kepercayaan investor di tengah kondisi pasar yang stabil. Aksi korporasi ini berpotensi meningkatkan minat beli jangka pendek pada saham-saham terkait.
BEI berdiskusi dengan salah satu emiten High Shareholding Concentration (HSC) terkait upaya peningkatan distribusi saham ke publik, di mana sejumlah emiten tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan sangat tinggi seperti BREN (97,31%) dan DSSA (95,76%).