IHSG ditutup turun 3,64% ke 4.996,61 di bawah level psikologis 5.000, tertekan kekhawatiran reklasifikasi MSCI ke Standalone Market dan rencana BEI mengeluarkan 80 saham HSC (bobot ~18% indeks) dari perhitungan IHSG. Support Fibonacci di 4.953 dan 4.757.
BEI menetapkan harga teoritis saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) sebesar Rp520 per saham menyusul pelaksanaan rights issue senilai Rp1,54 triliun setelah penutupan cum-date di Rp590.
BUVA berencana menggelar rights issue sebanyak 6,15 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham untuk menghimpun dana Rp1,54 triliun, di mana Happy Hapsoro bertindak sebagai pembeli siaga. Rasio yang ditetapkan adalah 4 saham lama berhak atas 1 HMETD dengan tanggal pencatatan DPS pada 15 Oktober 2026.
BUVA bersiap menggelar rights issue 6,15 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham guna meraup dana Rp1,54 triliun. Aksi korporasi ini didukung oleh Hapsoro, Ferry Sudjono, dan Henan Putihrai Sekuritas yang bertindak sebagai pembeli siaga.
Pasar menunjukkan stabilitas dengan volatilitas rendah dan aliran modal asing yang netral. Fokus investor tetap tertuju pada sektor energi di tengah kondisi makro yang stabil.
Pasar menunjukkan stabilitas dengan aliran modal asing yang netral dan volatilitas rendah. Sektor energi tetap menjadi penggerak utama di tengah kondisi makro yang stabil.
IHSG berhasil rebound 1,10% ke level 6.162,04 setelah terkoreksi delapan hari berturut-turut dengan total transaksi mencapai Rp 21,56 triliun. Kendati investor asing masih mencatat net sell harian Rp 309,45 miliar, saham MDKA dan BRMS memimpin aksi beli bersih asing masing-masing sebesar Rp 173,62 miliar dan Rp 171,23 miliar.