Penjualan PT Sepatu Bata Tbk (BATA) turun 16,6% YoY menjadi Rp113,46 miliar pada Q1 2024 dengan rugi bersih Rp13,85 miliar serta mencatatkan ekuitas negatif sebesar Rp117,76 miliar pasca penutupan pabrik Purwakarta.
PT Sepatu Bata Tbk (BATA) menutup pabriknya di Purwakarta setelah 30 tahun beroperasi karena pembengkakan biaya operasional, dengan dua penyebab utama yaitu efek domino krisis Pandemi Covid-19 dan beban operasional yang tinggi akibat upah minimum yang tinggi di daerah tersebut
BATA rugi Rp190,28 miliar pada 2023, naik hampir 80% yoy; penjualan turun 5,25% sementara beban pemasaran dan administrasi meningkat. Tekanan kinerja negatif bagi saham BATA.
Sepatu Bata (BATA) menghadapi tantangan bisnis selama empat tahun terakhir karena perubahan perilaku konsumen, sehingga melakukan transformasi operasional bisnis dengan menutup fasilitas produksi dan menjalin kemitraan dengan produsen lokal
BATA beralih ke produksi melalui mitra lokal setelah rugi empat tahun dan menutup pabrik Purwakarta. Efisiensi berpotensi membaik, tetapi keberhasilan transformasi belum pasti.
IHSG turun 0,64%, nilai transaksi menyusut 20,74%, kapitalisasi pasar turun 0,81%; investor asing jual bersih Rp1,10 triliun. Tekanan terkonsentrasi pada saham tertentu, dipimpin TGUK dan SURI.
Bata menutup pabrik di Purwakarta karena menurunnya penjualan, Sekretaris Jenderal Kemenperin Eko S.A. Cahyanto menyarankan tiga hal untuk industri bertahan yaitu suntikan investasi, teknologi, dan modal usaha
PT Sepatu Bata Tbk (BATA) mengumumkan penutupan pabrik di Purwakarta karena kerugian yang membengkak, dengan rugi tahun berjalan sebesar Rp190,29 miliar pada 2023