IHSG Hari Ini Berpeluang Lanjut Melemah, Simak Analisa MYOR, ACES, INDF, dan COIN
IHSG diperkirakan melanjutkan pelemahan hari ini. Analisis teknikal mencakup saham MYOR, ACES, INDF, dan COIN sebagai saham yang perlu dicermati.
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk
Harga Terakhir
338
Perubahan
+4 (+1.20%)
Lot
350.28K
Val
11.84B
Avg Val (20H)
14.04B
Penanda ▲/▼ = hari dengan berita bullish/bearish dominan (angka = jumlah berita). Klik chart pada tanggal itu untuk menyorot beritanya.
IHSG diperkirakan melanjutkan pelemahan hari ini. Analisis teknikal mencakup saham MYOR, ACES, INDF, dan COIN sebagai saham yang perlu dicermati.
Ketua APPBI Alphonzus Widjaja memproyeksikan industri ritel modern akan mendapat momentum penjualan kuat pada Q4 2026 hingga Q1 2027, didorong rangkaian Natal, Tahun Baru, kenaikan UMP, Imlek, Ramadan, THR, Idulfitri, dan bonus kinerja perusahaan.
ACES (Aspirasi Hidup Indonesia) mencatat pertumbuhan penjualan AZKO sebesar 6,5% YTD hingga Juli 2026, ditopang 29 Distribution Center dan 283 toko di 100+ kota. Hingga September 2026, telah dibuka 19 toko AZKO baru dan 21 toko NEKA baru, dengan target 25-30 toko AZKO dan 40-50 toko NEKA di 2026.
HIPPINDO menilai kewajiban sertifikat halal untuk produk nonmakanan (sepatu, dompet, ikat pinggang, tisu) yang berlaku 18 Oktober berpotensi memperlambat ekspansi ritel dan menghambat pembukaan gerai baru. Ketua Umum HIPPINDO Budiharjo Iduansjah menyatakan kebijakan ini akan 'mengerem ekonomi'.
IHSG turun 2,16% ke level 5.814,72 dengan net foreign sell Rp182,94 miliar. TLKM paling banyak dijual asing (Rp34,93 M), sementara BBCA paling banyak dibeli asing (Rp104,89 M).
Ketua APPBI Alphonzus Widjaja mengungkapkan fenomena 'Rojali' (rombongan jarang beli) masih berlanjut di Q3-2026, di mana kunjungan mal stabil namun transaksi belanja tidak meningkat seiring, diperparah low season pasca-Ramadan yang lebih panjang karena Idulfitri jatuh di Q1 2026.
Ketua APPBI Alphonzus Widjaja mengungkapkan penjualan fesyen di pusat perbelanjaan mengalami tekanan di periode low season paruh kedua 2026, karena Ramadan/Idulfitri yang lebih awal di Q1 memperpanjang jarak ke momentum belanja besar berikutnya meski kunjungan mal relatif stabil.
Analisis rekomendasi beli ACES, ESSA, JPFA, PGAS meski IHSG diprediksi lanjut koreksi. Pilihan saham defensif/konsumer di tengah tekanan indeks.
Dividen ACES bullish
Kinerja emiten ritel menunjukkan stabilitas di tengah kondisi pasar yang netral. Fokus investor akan tertuju pada efisiensi margin di tengah tekanan daya beli.
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) mengerek alokasi capex 2026 menjadi Rp 400-450 miliar untuk ekspansi toko AZKO dan NEKA serta penguatan omnichannel, didukung perolehan laba bersih kuartal I-2026 sebesar Rp 163,52 miliar.
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) membukukan pertumbuhan laba bersih 18,3% YoY menjadi Rp163,59 miliar dan penjualan naik 10,1% menjadi Rp2,35 triliun pada Q1-2026, didukung SSSG 4,3% serta target penambahan 65-80 gerai baru AZKO dan NEKA.
ACES turun 10,47% dalam sebulan, meski masih naik 18,75% YtD; pergerakan pemodal besar berbalik arah.
Laba ACES naik 29,34% YoY, ditopang penjualan yang tumbuh 17,05%. Kinerja kuat, tetapi dampak pasar terbatas pada satu emiten.
Emiten ritel mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba kuat pada kuartal I 2024, dipacu belanja hari raya. Sinyal positif, tetapi dorongan musiman dapat membatasi keberlanjutan.
Kinerja Q1 emiten LQ45 beragam: 22 dari 38 mencatat pertumbuhan pendapatan, 19 mencatat pertumbuhan laba. GOTO memimpin pertumbuhan pendapatan; ESSA memimpin pertumbuhan laba.
Direktur PT Ace Hardware Indonesia Tbk. (ACES) Suharno melepas 400.000 lembar sahamnya pada 25 April 2024, saat harga saham ACES berada di level Rp 980 per saham, dan harga saham ACES turun 7,18% menjadi Rp 905 per saham
IHSG turun 1,15% ke 7.205 akibat tekanan arus keluar modal, meski data manufaktur dan inflasi domestik solid. Besok berpeluang menguat terbatas; rupiah dan libur Lebaran tetap menjadi risiko.
Prospek ACES positif, ditopang SSSG Februari 15,3% dan penjualan naik 20% YoY. Belanja Ramadan dan Lebaran berpotensi menjaga pertumbuhan, tetapi proyeksi tetap bergantung pada daya beli.
Ekspansi ACES ke Garut menambah jangkauan toko; SSSG Februari 15,3% dan penjualan indikatif Jan–Feb Rp1,26 triliun mendukung prospek pertumbuhan. Dampak gerai baru bergantung pada produktivitas dan biaya operasional.
ACES berprospek tumbuh, ditopang penjualan Februari yang naik 20% YoY dan belanja Ramadan-Lebaran. Dampak positif terutama pada saham ACES; katalis musiman.
IHSG turun tipis 0,08%, tetapi investor asing mencatat net buy Rp354,40 miliar; akumulasi sepekan mencapai Rp8,25 triliun. Arus masuk asing menopang sentimen, meski pelemahan lebih luas daripada kenaikan saham.
Asing net buy Rp354,38 miliar jelang pengumuman hasil pemilu, sinyal dukungan jangka pendek pada saham unggulan. Risiko volatilitas tetap ada hingga kepastian politik.
Belanja Ramadan dan THR mendukung penjualan ritel serta prospek kinerja kuartal I. Inflasi pangan 8,47% membatasi daya beli.
IHSG turun tipis 0,08% meski asing net buy Rp354,4 miliar; tekanan teknologi mengimbangi penguatan saham pilihan. Aliran asing beragam: beli BBRI, ASII, ACES; jual BBCA, BMRI, MDKA.
Momentum Ramadan dan THR diperkirakan meningkatkan daya beli, penjualan ritel, serta kinerja AMRT, ACES, dan MAPI. Efek musiman; realisasi penjualan tetap perlu dipantau.
ACES memperkirakan penjualan Ramadan naik, didukung belanja rumah tangga, ekspansi gerai, dan kanal omnichannel. Tanpa target kuantitatif, dampak laba belum pasti.
Promo Ramadan berpotensi mengerek penjualan ACES, didukung belanja musiman. Diskon besar berpotensi menekan margin; dampak bersifat jangka pendek.
Prospek emiten ritel menguat saat Ramadan, didukung keyakinan konsumen tinggi, penjualan ritel kuat, dan inflasi terkendali. Konsumsi berpotensi mendorong kinerja kuartal II/2024.
Ramadan–Lebaran diperkirakan mengangkat penjualan ritel secara musiman. ACES dan MAPI lebih tahan; RALS dan LPPF tetap rentan terhadap inflasi pangan dan daya beli.
Ramadan-Lebaran berpotensi mengangkat penjualan ritel; emiten segmen menengah atas lebih resilien, sementara daya beli menengah bawah tertekan inflasi pangan.
Permintaan ritel berpotensi menguat selama Ramadan-Lebaran; ACES mencatat SSSG Januari naik 5,6%.
IHSG turun tipis 0,13%; asing berbalik net sell Rp253,07 miliar setelah net buy sembilan hari. Tekanan terbesar pada BMRI, BBRI, dan BBCA.