Direksi TPIA Raymond membeli 1 juta saham senilai Rp1,205 miliar pada harga Rp1.205 per saham melalui 4 transaksi pada 16 Oktober 2026, meningkatkan kepemilikannya dari 9,62 juta menjadi 10,62 juta saham.
TPIA (Chandra Asri Pacific) milik Prajogo Pangestu berencana buyback saham maksimal Rp 1 triliun (800 juta lembar atau 0,92% total saham) pada rentang harga Rp 1.250-Rp 3.000 selama Oktober 2026-Januari 2027, menyusul aksi serupa oleh BREN dan CUAN.
IHSG turun 2,16% ke level 5.814,72 dengan net foreign sell Rp182,94 miliar. TLKM paling banyak dijual asing (Rp34,93 M), sementara BBCA paling banyak dibeli asing (Rp104,89 M).
Danantara (DIM) dan INA resmi menuntaskan investasi strategis di proyek CA-EDC milik Chandra Asri (TPIA) di Cilegon, dengan kapasitas 400 KTA soda kaustik dan 500 KTA EDC, konstruksi sudah 80% dan target operasi komersial 2027.
Danantara (DIM), INA, dan Chandra Asri (TPIA) merampungkan investasi strategis proyek CA-EDC berkapasitas 400.000 ton soda kaustik dan 500.000 ton EDC per tahun, ditargetkan beroperasi komersial 2027 untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia.
KONI Pusat di bawah Marciano Norman mengumumkan terobosan multi-kejuaraan termasuk PON Pantai di Ancol, PON Bela Diri, PON Indoor, dan PON Remaja, serta kemitraan strategis dengan Chandra Asri untuk kompetisi panahan dan panjat tebing 2027.
Indonesia mengimpor 7-8 juta ton LPG per tahun dengan subsidi mencapai hampir Rp 100 triliun saat ICP di US$ 90-100/barel, membebani devisa negara. Kilang LPG Cilamaya (PT Energi Nusantara Perkasa & Pertamina) diresmikan dengan kapasitas 160 ton/hari untuk memasok 10-12% kebutuhan Jakarta-Jabar.
IHSG turun 0,17% ke level 5.925,98 pada 13/10/2026, namun asing mencatatkan net buy Rp561,60 miliar dengan ASII (Rp44,73 miliar), TINS (Rp35,28 miliar), dan BRMS (Rp34,45 miliar) sebagai saham paling banyak diborong asing.
Proyeksi produksi bahan baku baterai Indonesia diperkirakan meningkat 2 kali lipat pada 2027, sejalan dengan ekspansi hilirisasi nikel dan downstream battery materials di dalam negeri.
IHSG anjlok 1,70% ke level 5.835,14 pada Selasa pagi, memperpanjang pelemahan tajam akibat tekanan jual pada 533 saham khususnya emiten konglomerasi seperti DSSA, TPIA, BRPT, BREN, BYAN, dan MORA.
IHSG ditutup menguat 1,04% ke level 6.093,76 dengan net foreign buy sesi kedua mencapai Rp30,4 miliar, dipimpin aksi beli pada saham ENRG sebesar Rp34 miliar dan EMAS senilai Rp17 miliar.
IHSG terperosok 1,93% ke level 5.975,78 pada sesi I akibat tekanan jual sektor infrastruktur (-6,70%) dan energi (-3,65%) serta net foreign sell senilai Rp166,22 miliar. Tekanan jual asing terbesar melanda saham BUMI sebesar Rp44,40 miliar dan BBCA senilai Rp38,65 miliar, meskipun saham GOTO masih diborong asing Rp133,02 miliar.
IHSG anjlok 2,6% ke level 5.936,15 akibat aksi jual masif pada saham konglomerasi seperti DSSA (-15%), PTRO (-15%), TPIA (-10%), BUMI (-8%), dan BRMS (-6%). Penurunan tajam ini dipicu rumor sanksi serta kekhawatiran pembekuan (freeze) perlakuan saham Indonesia oleh MSCI pada akhir Oktober 2026.
Kejatuhan saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu seperti BREN (-9,26%), TPIA (-6,87%), dan BRPT (-3,56%) menekan IHSG anjlok 1,94% ke level 5.975,28. Koreksi tajam ini turut menyeret 559 saham ke zona merah dengan nilai transaksi mencapai Rp6,03 triliun.
IHSG sesi I Jumat (9/10/2026) naik 0,35% ke 6.052,51 meski asing net sell Rp32,05 miliar; net buy terbesar SINI Rp15,94 miliar, CUAN Rp12,80 miliar, ARCI Rp9,52 miliar, BBCA Rp9,11 miliar, EMAS Rp8,96 miliar; net sell terbesar GOTO Rp27,91 miliar, BUMI Rp21,98 miliar, BBRI Rp20,63 miliar.
IHSG terkoreksi 0,75% ke level 6.146,72 diiringi aksi jual bersih asing senilai Rp871,36 miliar di seluruh pasar. Tekanan jual asing paling besar tercatat pada saham BBCA sebesar Rp299,69 miliar dan GOTO senilai Rp147,37 miliar.
IHSG naik 1,26% ke level 6.196,09 pada sesi I meski asing mencatatkan net sell Rp273,81 miliar dengan pelepasan terbesar pada GOTO dan BMRI, sementara BBRI dan TPIA paling banyak diborong.
Investor asing mencatatkan net sell Rp976,66 miliar pada sesi I pasca peninjauan klasifikasi MSCI, memicu IHSG anjlok 1,62% ke 6.002,20 dengan tekanan jual terbesar pada BBRI dan TPIA, meski BREN dibeli Rp107,79 miliar.
Kondisi makroekonomi saat ini cenderung stabil dengan volatilitas rendah dan aliran modal asing yang netral. Tidak ada katalis signifikan dari kebijakan The Fed yang memicu pergerakan pasar secara drastis.
IHSG merosot 1,22% ke level 6.130,19 dengan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp 1,6 triliun, di mana saham TPIA dilepas Rp 386,04 miliar dan BBCA dilepas Rp 359,76 miliar.
TPIA mengonfirmasi BRPT dan Prajogo Pangestu menjaminkan total 3,67 miliar saham (4,25%) kepada BBNI, BBTN, dan HSBC untuk jaminan fasilitas kredit perbankan non-margin. Manajemen menegaskan hal ini tidak berdampak material terhadap struktur kepemilikan perseroan dan pinjaman BRPT dari Bangkok Bank telah dilunasi.
Investor asing membukukan net sell sebesar Rp 823,3 miliar di sesi 1 yang menekan IHSG turun 0,91% ke level 6.149,68. Tekanan jual asing terbesar terkonsentrasi pada saham perbankan jumbo, yakni BBCA sebesar Rp 232,2 miliar dan BBRI senilai Rp 138,1 miliar.
Meskipun net sell asing melandai menjadi Rp809,1 miliar menjelang efektif indeks MSCI, IHSG anjlok 8,35% ke level 6.162,04 akibat kejatuhan saham grup Prajogo Pangestu seperti TPIA (-53,49%) dan aksi jual asing terbesar pada BBCA (Rp1,03 triliun).
Meskipun IHSG ambles 8,35% ke level 6.162,04 tertekan anjloknya saham TPIA (-53,49%) dan DSSA (-47,34%), investor asing tercatat selektif memborong saham mineral dan komoditas dengan net buy terbesar pada MDKA (Rp691,1 miliar), BRMS (Rp414,3 miliar), dan BUMI (Rp413,1 miliar).
IHSG ambruk 8,35% dalam sepekan, dengan net sell asing Rp2,03 triliun, terutama di saham blue chip seperti BBCA, AMMN, dan ANTM. Tekanan jual asing yang masif menunjukkan sentimen negatif investor global terhadap pasar Indonesia, meskipun ada rebound tipis di akhir pekan.
Tekanan jual masif pada saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu dan emiten komoditas menjadi katalis utama pelemahan IHSG secara mingguan. Koreksi tajam pada konstituen berkapitalisasi besar (big caps) seperti TPIA, BREN, dan AMMN mengindikasikan adanya aksi profit taking atau rebalancing portofolio institusi yang signifikan.
IHSG rebound 1,10% setelah turun delapan hari, tetapi masih melemah 8,35% sepekan. Asing tetap net sell Rp2,03 triliun sepekan; BBCA dan BMRI paling banyak dijual.
Pasar mengalami tekanan jual signifikan dengan pelemahan IHSG sebesar 8,35% akibat rebalancing MSCI dan penyesuaian portofolio dana pasif global. Koreksi tajam pada saham-saham berkapitalisasi besar dan emiten afiliasi Prajogo Pangestu (TPIA, CUAN) mencerminkan volatilitas teknikal tinggi, meskipun fundamental ekonomi domestik tetap resilien dengan pertumbuhan PDB 5,61%.
IHSG ditutup menguat 1,10% ke level 6.162,05 ditopang lonjakan sektor bahan baku sebesar 3,38% serta dorongan saham MDKA dan BRMS, meski asing mencatatkan net sell Rp340,5 miliar di sesi I.
TPIA mengklarifikasi bahwa BRPT dan Prajogo Pangestu menjaminkan 3,675 miliar saham (4,24%) ke BBNI, BBTN, dan HSBC untuk fasilitas kredit perbankan biasa, bukan fasilitas margin. Manajemen menegaskan transaksi tersebut tidak berdampak material terhadap struktur kepemilikan dan pengendalian perseroan.
IHSG dibuka anjlok 1,21% ke level 6.020,98 tertekan koreksi tajam saham big caps seperti TPIA (-12,78%), BREN (-3,11%), dan BMRI (-1,44%) akibat sentimen konflik Timur Tengah serta peringatan Fitch Ratings dan S&P.
Review kuartalan indeks FTSE Russell membayangi pergerakan dana asing pada saham BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMMN, sementara bank besar (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) dinilai relatif aman dengan IHSG menguji level support 5.900-6.000.
Saham-saham grup Prajogo Pangestu seperti TPIA (-14,66%), BRPT (-9,59%), dan BREN (-9,32%) anjlok akibat sentimen keluarnya emiten dari indeks MSCI. Aksi jual ini memicu potensi passive fund outflow dan melenyapkan kapitalisasi pasar grup tersebut lebih dari Rp1.400 triliun dari puncaknya.
IHSG anjlok 3,54% ke level 6.094,94 di tengah penguatan bursa Asia akibat isu transparansi MSCI dan kenaikan suku bunga BI 50 bps, dengan saham TPIA, DSSA, BREN, dan AMMN anjlok hingga 23%-52%.
Kekayaan Prajogo Pangestu anjlok 52,45% (US$15 miliar) sepanjang tahun akibat rontoknya saham Grup Barito, dipimpin BREN yang ambles 62,27% dalam sebulan usai didepak dari indeks MSCI karena isu konsentrasi kepemilikan saham (HSC) 97,31%. Kejatuhan saham-saham seperti CUAN (-65,15%), TPIA (-47,21%), dan BRPT (-27,64%) telah memangkas total kapitalisasi pasar grup Barito lebih dari Rp1.400 triliun dari titik tertingginya.
Setelah ditutup melemah 0,82% ke level 6.318,50 tertekan saham BRPT dan CUAN, IHSG dibuka rebound 0,55% ke 6.353,09 didorong penguatan saham perbankan seperti BBCA dan BMRI. MNC Sekuritas memproyeksikan rentang support indeks di 6.148-6.092 serta merekomendasikan buy on weakness untuk AADI, HRTA, dan MBMA.
IHSG dibuka naik 0,55% ke 6.353,09 ditopang penguatan saham big caps seperti BBCA (+1,26%) dan lonjakan MORA (+10,88%), kendati dibayangi kenaikan BI Rate 50 bps menjadi 5,25% serta paparan RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo.
IHSG anjlok tajam 3,54% (-223,56 poin) ke level 6.094,94 dengan nilai transaksi mencapai Rp18,03 triliun dan 700 saham tercatat melemah. Tekanan jual masif ini dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti ASII, BRMS, BYAN, dan MORA saat bursa Asia lainnya justru mayoritas menguat.
IHSG ambruk 2,76% ke level 6.144,36 pada sesi I terseret kejatuhan saham grup Prajogo Pangestu seperti TPIA (-14,66%), BRPT (-12,5%), PTRO (-11,5%), dan BREN (-10,75%) akibat delisting dari indeks MSCI. Tekanan jual kian diperberat oleh kenaikan BI Rate 50 bps menjadi 5,25% serta kekhawatiran regulasi terkait pembentukan badan ekspor komoditas.
Saham-saham terkait Prajogo melonjak 11–37% dalam sepekan, mengangkat nilai kekayaannya. Reli terkonsentrasi pada grup usaha, bukan sinyal penguatan pasar luas.
Cum dividen besar PTBA dan ANTM berpotensi menarik minat investor, tetapi harga biasanya terkoreksi saat ex-date. Pekan bursa pendek dapat meningkatkan volatilitas dan risiko salah timing.
Lima saham Prajogo mencapai kapitalisasi Rp2.455,62 triliun, hampir 19,77% total BEI, ditopang rekor harga. Kenaikan memperkuat sentimen, tetapi konsentrasi dan valuasi tinggi meningkatkan risiko koreksi.
Lima saham Prajogo Pangestu menguasai 19,77% kapitalisasi BEI; kenaikannya turut mengangkat IHSG 3,22%. Reli menopang indeks, tetapi konsentrasi tinggi memperbesar risiko koreksi dan distorsi kinerja pasar.
IHSG naik 3,22% sepekan dengan transaksi menguat; asing memborong TPIA dan BBNI. Namun, investor asing masih mencatat jual bersih tipis sepanjang 2024.
Kekayaan Prajogo melonjak US$4,4 miliar, mencerminkan reli kuat saham-saham grup Barito. BRPT aktif diperdagangkan; kenaikan kekayaan bukan sinyal fundamental pasar luas.
IHSG naik 3,22% sepekan, didukung inflasi AS yang melandai, rupiah menguat, dan net buy asing harian Rp866,61 miliar. Tren bullish, tetapi akumulasi asing masih net sell Rp1,54 triliun.
IHSG berpeluang menguat terbatas, didukung inflasi AS yang melandai, rupiah menguat, dan sinyal teknikal bullish. Risiko koreksi tetap ada dekat resistance 7.250–7.266.
IHSG naik 0,93% ke 7.246,7, didukung net buy asing Rp526,62 miliar dan penguatan seluruh sektor. Aliran dana berotasi: ASII, BBNI, TPIA dibeli; BBRI dan BMRI dijual.