Realisasi investasi Indonesia Q3-2026 mencapai Rp528,7 triliun (tumbuh 7,6% yoy), dengan industri logam dasar menjadi primadona asing terbesar senilai Rp111,6 triliun (41,3% dari PMA) dan pusat data di posisi kedua Rp44,1 triliun (16,3% PMA).
Realisasi investasi Indonesia kuartal III-2026 mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6% yoy, dengan sektor logam dasar sebagai penyumbang terbesar senilai Rp118,8 triliun dan penyerapan tenaga kerja 745.634 orang.
World Gold Council dan BCG memproyeksikan potensi permintaan emas digital global mencapai US$700 miliar, yang dapat mendorong minat terhadap aset emas dan perusahaan terkait emas.
Prabowo mendorong investasi berkualitas melalui hilirisasi dan perbaikan perizinan, yang berpotensi meningkatkan iklim investasi Indonesia meskipun detail spesifik kebijakan belum tersedia.
Xi Jinping mengundang Prabowo ke pertemuan APEC di Shenzhen bulan depan, dengan akumulasi investasi China di Indonesia mencapai US$34,4 miliar (Rp619,2 triliun) sepanjang 2021-2025 di sektor pengolahan mineral, rantai pasok baterai EV, dan manufaktur. Terdapat 264 penerbangan langsung per minggu dan 1,11 juta wisatawan China ke Indonesia dalam 7 bulan pertama tahun ini.
Bea Cukai DJBC Jawa Tengah dan DIY mengamankan 4.266 gram (4,2 kg) emas padat 24 karat senilai Rp11 miliar dari dua WN Tiongkok yang hendak menyelundupkannya ke Singapura melalui YIA, dengan potensi kerugian bea keluar Rp1,6 miliar.
Realisasi investasi Januari-September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun (75,4% dari target tahunan), menyerap 2,19 juta tenaga kerja baru, dengan PMA Rp777,8 triliun didominasi Singapura (US$14 miliar), Hong Kong (US$12,8 miliar), dan Tiongkok (US$5 miliar). Sektor hilirisasi mineral menyumbang Rp335,1 triliun dari total Rp480 triliun investasi hilirisasi.
Sekjen PBB Antonio Guterres menegaskan negara berkembang termasuk Indonesia harus mendapat porsi nilai ekonomi lebih besar dari mineral kritis, serta mengapresiasi proyek PLTS 100 GW Presiden Prabowo dan target swasembada energi Indonesia.
Menteri Bahlil menargetkan nilai ekspor nikel Indonesia menembus 45-50 miliar dolar AS pada 2026, naik dari 34 miliar dolar AS pada 2023, didorong oleh kebijakan hilirisasi 28 komoditas dengan kebutuhan investasi 618 miliar dolar AS hingga 2040.
Maraknya penyelundupan emas Indonesia ke luar negeri (Malaysia dan India) menunjukkan potensi kebocoran sumber daya mineral dan lemahnya pengawasan ekspor komoditas emas nasional.
Survei terbaru menunjukkan persaingan sangat ketat antara Lula dan Bolsonaro dalam pilpres Brasil, sehingga hasil pemilu sulit diprediksi dan menimbulkan ketidakpastian politik di salah satu eksportir komoditas terbesar dunia.
MSCI mengusulkan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang berpotensi memicu arus keluar dana asing besar-besaran karena Indonesia akan keluar dari indeks MSCI Emerging Market yang menjadi acuan banyak fund global.
Kepala Danantara Bahlil Lahadalia menegaskan tidak ada moratorium bijih nikel dan justru mendorong industrialisasi nikel hilir, memperkuat prospek hilirisasi bagi produsen nikel Indonesia.
Menko Bidang Perekonomian Bahlil Lahadalia mendorong pembangunan industri penyerap produk hilirisasi nikel di dalam negeri, memperkuat strategi hilirisasi nikel Indonesia agar nilai tambah dinikmati domestik.
Pembatasan kuota produksi nikel Indonesia (RKAB 3 tahun) belum mendorong kenaikan harga nikel karena tekanan dari sisi permintaan global yang lemah dan tingginya pasokan stok, sehingga harga LME masih tertekan meski pasokan terbatas.
PPATK mengidentifikasi perputaran dana tambang dan ekspor emas ilegal mencapai Rp992 triliun selama 2023-2025, dengan transaksi terkait PETI senilai Rp185,03 triliun. PPATK menggandeng MIND ID untuk memperkuat pemberantasan pencucian uang di sektor pertambangan.
Pemerintah menargetkan ekspor nikel tembus 45 miliar dolar AS pada 2026, naik dari 3,3 miliar dolar AS pada 2017-2018 menjadi lebih dari 40 miliar dolar AS pada 2025 berkat hilirisasi, dengan master plan investasi 618 miliar dolar AS hingga 2040.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengambil langkah untuk membatasi/menghentikan banjirnya pasokan nikel Indonesia di pasar global, yang diharapkan menekan kelebihan pasokan (oversupply) dan menopang harga nikel dunia. Aksi ini berpotensi menguntungkan produsen nikel nasional seperti ANTM dan INCO melalui pemulihan harga komoditas.
Inflasi AS yang lebih panas dari ekspektasi menekan saham-saham chip (seperti Nvidia) dan mengerek imbal hasil obligasi AS, sehingga aset berisiko tertekan sementara emas serta instrumen obligasi ritel seperti SBR015 diminati investor sebagai pelindung nilai.
Menko Bahlil Lahadalia mendorong ekspor bernilai tambah tinggi melalui hilirisasi SDA pada Trade Expo Indonesia 2026, dengan fokus perluasan pasar ke Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Eropa Timur serta penyederhanaan prosedur ekspor.
Menko Bahlil menegaskan Indonesia tidak akan lagi ekspor bahan baku mentah, dengan masterplan hilirisasi nasional hingga 2040 senilai US$618 miliar (Rp11.062 triliun) mencakup mineral, migas, kehutanan, perikanan, dan pertanian. Nilai ekspor nikel naik dari US$3,3 miliar menjadi US$40 miliar di 2025 dan ditargetkan US$45 miliar di 2026.
Menteri Bahlil mengkaji moratorium pembangunan smelter nikel produk setengah jadi karena oversupply global mencapai 2,5 juta ton yang menekan harga nikel. Pemerintah akan mengatur volume produksi nasional agar harga tidak semakin jatuh.
Menko Bahlil menargetkan nilai hilirisasi Indonesia mencapai 618 miliar dolar AS pada 2040, dengan contoh sukses nikel yang nilai ekspornya melonjak dari 3,3 miliar dolar AS (2017-2018) menjadi lebih dari 40 miliar dolar AS (2025) dan target 45 miliar dolar AS pada 2026.
Menko Bahlil beberkan masterplan hilirisasi Indonesia dengan target US$618 miliar (Rp11.065 triliun) di 2040, dengan ekspor nikel sudah naik dari US$3,3 miliar (2017-2018) menjadi US$40 miliar (2025) dan target US$45 miliar di 2026.
Produksi nikel hasil hilirisasi Indonesia diramal turun pada tahun ini, mengancam kinerja produsen nikel dan capaian nilai tambah industri smelter nasional.
Proyeksi produksi bahan baku baterai Indonesia diperkirakan meningkat 2 kali lipat pada 2027, sejalan dengan ekspansi hilirisasi nikel dan downstream battery materials di dalam negeri.
Kebijakan Menteri Investasi/BKPM Bahlil Lahadalia terkait pengaturan industri nikel dinilai tak terduga namun berdampak signifikan terhadap pasar nikel dunia, mengindikasikan kebijakan hilirisasi nikel Indonesia yang berpotensi memperkuat harga dan dominasi pasokan global.
IHSG anjlok 2,59% ke level 5.975,78 dengan 602 saham terkoreksi, namun investor asing mencatatkan net foreign buy sebesar Rp128,89 miliar. Saham GOTO (Rp134,35 miliar), BBRI (Rp80,31 miliar), dan ASII (Rp78,32 miliar) menjadi incaran utama beli bersih asing di tengah tekanan jual pasar.
MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG rawan terkoreksi sepekan ke depan menguji level support 5.973 dan resistance 6.227 akibat rilis data inflasi AS, arah suku bunga The Fed, serta potensi pelemahan nilai tukar Rupiah.
IHSG ditutup naik 1,04% ke 6.093,76 Jumat (9/10/2026), menguat 0,94% sepekan; 10 saham penopang utama dipimpin MORA (+11,88%, 9,24 poin) dan ASII (+4,10%, 7,71 poin), di tengah net sell asing Rp2,54 triliun.
Anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Mining Servis, meraih kontrak penyediaan jasa konstruksi senilai Rp2,9 triliun untuk pengembangan proyek Tambang Emas Pani di Gorontalo. Kontrak berdurasi dua tahun tersebut dijalin bersama tiga entitas anak MDKA guna mengakselerasi kesiapan operasional aset emas strategis perseroan.
Saham EMAS mencatatkan transaksi jumbo di pasar negosiasi senilai Rp 2,81 triliun (455,11 juta saham) pada harga rata-rata Rp 6.170, memicu koreksi harga regulernya sebesar 3,57% ke level 6.750.
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menggelar bookbuilding IPO di Bursa Hong Kong dengan dukungan 50% porsi penawaran dasar dari investor raksasa seperti Glencore dan Trafigura. Induk usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tetap mempertahankan kepemilikan strategisnya atas proyek Tambang Emas Pani yang memiliki sumber daya 7,0 juta ounces emas.
IHSG terkoreksi 1,22% ke level 6.130,19 diiringi net sell jumbo asing senilai Rp 1,6 triliun, meskipun saham JPFA dan FILM tetap diborong asing masing-masing Rp 264,97 miliar dan Rp 238,62 miliar.
Permintaan emas batangan dan koin Indonesia naik 47% YoY pada Q1 2026; kenaikan BI Rate 50 bps memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Suku bunga lebih tinggi menekan kredit dan saham sensitif bunga.
IHSG anjlok 1,23% ke level 6.130,19 terbebani koreksi tajam saham big cap seperti INCO (-10,68%), ASII (-8,48%), dan AMRT (-8,11%). Sebanyak 461 saham ditutup melemah di tengah ketidakpastian negosiasi Iran-AS dan sentimen rebalancing indeks MSCI.
Investor asing membukukan net sell sebesar Rp 823,3 miliar di sesi 1 yang menekan IHSG turun 0,91% ke level 6.149,68. Tekanan jual asing terbesar terkonsentrasi pada saham perbankan jumbo, yakni BBCA sebesar Rp 232,2 miliar dan BBRI senilai Rp 138,1 miliar.
Rupiah di pasar spot melemah 0,05% ke level Rp 17.725 per dolar AS pada Senin (25/5) siang akibat eskalasi geopolitik AS-Iran dan serangan Israel di Lebanon Selatan. Analis Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.710 hingga Rp 17.760 per dolar AS.
Saham MDKA menguat ke Rp 2.850 terdorong rencana private placement 10%, sedangkan EMAS naik ke Rp 7.425 didukung pencapaian first gold pour Tambang Pani dan rencana dual listing di Hong Kong. Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga teknikal untuk MDKA di Rp 3.080 dan EMAS di Rp 7.900.
Pasar obligasi tertekan seiring kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 50 bps ke 5,25% dan yield SUN 10 tahun di level 6,85%. Analis Anugerah Sekuritas menyarankan investor memilih SUN tenor pendek atau strategi cicil beli (DCA) guna mengantisipasi pembengkakan biaya pendanaan dan volatilitas pasar.
IHSG diproyeksikan rawan melanjutkan koreksi pada rentang support 5.899–5.996 jelang effective date rebalancing MSCI 29 Mei 2026, meski IPOT merekomendasikan buy selektif pada MDKA (target Rp3.000) dan BTPN (target Rp2.530).
Meskipun IHSG ambles 8,35% ke level 6.162,04 tertekan anjloknya saham TPIA (-53,49%) dan DSSA (-47,34%), investor asing tercatat selektif memborong saham mineral dan komoditas dengan net buy terbesar pada MDKA (Rp691,1 miliar), BRMS (Rp414,3 miliar), dan BUMI (Rp413,1 miliar).
IHSG naik 1,10% ke level 6.162,04 didorong lonjakan saham tambang seperti MDKA (+24,77%), namun dibayangi net sell asing Rp1,07 triliun serta ancaman outflow hingga US$2,86 miliar akibat dikeluarkannya DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks FTSE Russell. Di sisi lain, SINI bersiap rights issue Rp5.000 per saham untuk akuisisi anak usaha PTRO senilai Rp1,73 triliun.
Pasar global memasuki fase risk-off dengan beralihnya investor ke mata uang safe haven seperti yen (158,9/USD) dan franc Swiss akibat ketidakpastian geopolitik serta arah suku bunga The Fed. Sentimen pelarian modal ini memperberat tekanan terhadap aset pasar berkembang hingga rupiah merosot ke Rp 17.744 per dolar AS.
IHSG menguat 0,93% ke level 6.219,34 pada penutupan Sesi I didorong kenaikan 511 saham dan lonjakan sektor transportasi sebesar 4,19%, dengan ADMR, MDKA, dan SCMA memimpin penguatan di indeks LQ45.
Meski IHSG anjlok 8,35% dalam sepekan ke level 6.162,04 dan mencatat net sell asing Rp 2,03 triliun, investor asing terpantau mengakumulasi saham tambang dan energi seperti MDKA (Rp 691,09 miliar), BRMS (Rp 414,27 miliar), dan BUMI (Rp 413,08 miliar).
Rupiah terus melemah menembus level Rp17.726 per dolar AS akibat tekanan eksternal yang persisten. Pelemahan mata uang domestik ini meningkatkan beban biaya impor dan risiko inflasi bagi emiten.
Rupiah terus melemah menembus level Rp17.726 per dolar AS akibat tekanan eksternal yang persisten. Pelemahan mata uang domestik ini meningkatkan beban biaya impor dan risiko inflasi bagi emiten.
Tekanan jual asing yang masif mencapai Rp 43,85 triliun year-to-date, diperburuk oleh rebalancing indeks global (MSCI/FTSE) dan sentimen makro seperti pelemahan Rupiah serta kenaikan BI Rate. Investor institusi kini melakukan rotasi portofolio ke saham blue chip yang defensif dan likuid, sementara pasar tetap dalam fase wait-and-see terhadap kebijakan fiskal domestik.
Kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menciptakan ketidakpastian regulasi dan risiko birokrasi yang menekan margin emiten komoditas. Sentimen ini memperburuk risk premium pasar di tengah tekanan outflow asing dan pelemahan Rupiah, memicu volatilitas tinggi pada saham sektor energi dan batubara.