Pemerintah RI mendorong percepatan ratifikasi IEU-CEPA agar berlaku awal 2027, dengan potensi peningkatan ekspor hingga US$10,9 miliar. Komoditas unggulan meliputi kelapa sawit, kendaraan bermotor, kopi, kakao, karet, besi baja, kayu olahan, dan perikanan.
Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyatakan pabrik peleburan besi dan baja tidak boleh berada di Jabodetabek, menyusul insiden kontaminasi Cesium-137 dari PT Peter Metal Technology di Kawasan Industri Cikande, Serang, Banten. Kebijakan ini berpotensi memaksa relokasi industri smelter dan menambah biaya operasional perusahaan baja.
Cleveland-Cliffs berencana PHK 500+ pekerja di Stelco Kanada akibat tarif AS terhadap Kanada, memicu ancaman pemerintah Kanada untuk memaksa penjualan aset. Ketegangan dagang AS-Kanada di sektor baja meningkat dengan potensi tarif balasan terhadap 700+ jenis barang AS.
Uni Eropa dan Inggris menetapkan tarif 50% untuk produk baja Indonesia, berpotensi menurunkan daya saing dan akses pasar ekspor baja nasional. Kemendag mengantisipasi dampak termasuk CBAM dan ketidakpastian pasar global terhadap industri baja dengan produksi 18 juta ton/tahun.
Industri baja nasional hanya bisa menggunakan 60% kuota gas dari PGN, sementara utilisasi pabrik hanya 43-57% dan menghadapi ancaman kelebihan pasokan baja dunia 640 juta ton dengan gempuran impor terutama dari China yang memproduksi 1,2 miliar ton vs Indonesia 18 juta ton.
IISIA melaporkan kelebihan pasokan baja dunia 640 juta ton (120 juta ton dari China) dan utilisasi industri baja nasional hanya 43-57%, sementara impor baja sudah mencapai 7 juta ton hingga Agustus 2026 (vs 8 juta ton sepanjang 2024-2025). Asosiasi mendesak Menperin Sarmuji membatasi impor baja untuk melindungi 189 perusahaan anggota dengan kapasitas produksi 18 juta ton/tahun.
Indikasi overheat pada sektor energi dan komoditas memicu konsolidasi teknikal pada saham terkait. Pasar cenderung wait-and-see terhadap rotasi sektor di tengah stabilitas makro.
Kebijakan suku bunga Fed yang stabil menjaga volatilitas pasar tetap rendah dengan aliran modal asing yang netral. Fokus investor beralih pada rilis kinerja emiten sebagai katalis utama pergerakan harga saham.
Kebijakan suku bunga Fed yang stabil menjaga volatilitas pasar tetap rendah dengan aliran modal asing yang netral. Fokus investor beralih pada rilis kinerja emiten sebagai katalis utama pergerakan harga saham.
PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) menyiapkan dana kas internal hingga Rp 200 miliar untuk membeli kembali (buyback) sekitar 83,33 juta saham atau setara 3,4% dari total saham yang diterbitkan. Manajemen melakukan aksi ini dengan pertimbangan harga pasar saat ini belum mencerminkan nilai wajar fundamental perseroan.
Penjualan ISSP turun 20,95% YoY, tetapi laba naik tipis; harga baja masih melemah tahunan. Pemulihan bergantung pada percepatan belanja pemerintah dan keberlanjutan kenaikan harga baja.
Permintaan baja lemah menekan penjualan ISSP 20,95% YoY, meski laba naik tipis. Prospek bergantung pada belanja proyek pemerintah dan keberlanjutan kenaikan harga baja.
Laba bersih ISSP naik 62,8% pada 2023, ditopang volume penjualan dan margin yang melampaui target. Persediaan serta piutang meningkat seiring penjualan proyek; normalisasi modal kerja perlu dipantau.
Harga baja turun menekan pembelian jangka pendek, tetapi stok siap jual dan belanja infrastruktur menopang prospek ISSP. Persaingan ekspor dari China dan India membatasi peluang.
ISSP menargetkan pendapatan tumbuh 10% pada 2024, didukung permintaan domestik dan anggaran infrastruktur. Harga baja turun dapat menekan harga jual serta menunda pembelian; ekspor menghadapi persaingan China dan India.