IHSG turun 3,64% ke 4.996,61 dengan net foreign sell jumbo Rp1,72 triliun di seluruh pasar, namun asing memborong saham-saham tertentu terutama BBNI (Rp95,87 miliar), INDF (Rp71,78 miliar), dan saham tambang seperti EMAS, MEDC, ANTM, INCO.
IHSG ditutup turun 3,64% ke 4.996,61 dengan net sell asing Rp2,28 triliun, namun analis BNI Sekuritas Fanny Suherman memproyeksikan technical rebound ke 5.020-5.160 dengan catatan potensi koreksi lanjutan masih terbuka akibat ketidakpastian MSCI.
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mempercepat proyek CIL fase 2 di Tambang Emas Pani untuk menggandakan kapasitas produksi menjadi 500.000-700.000 ons per tahun. Fasilitas berkapasitas 12 Mtpa tersebut dirancang untuk melipatgandakan pengolahan bijih sekaligus mempercepat realisasi arus kas perusahaan.
IHSG anjlok 1,33% ke level 5.863,78 dengan 567 saham melemah, meski investor asing justru melakukan net buy Rp567,96 miliar. 10 saham yang paling banyak dilepas asing antara lain ITMG (Rp33,83 miliar), GOTO (Rp22,51 miliar), dan TLKM (Rp17,92 miliar).
IHSG ditutup naik 0,39% ke level 5.948,83 namun asing melakukan net sell jumbo Rp1,13 triliun. BBRI menjadi saham paling banyak dilepas asing sebesar Rp56,86 miliar, diikuti BMRI Rp35,97 miliar dan saham-saham tambang seperti ADMR, ITMG, PTBA.
IHSG naik 0,29% ke 5.948,83 namun asing melakukan net sell jumbo Rp1,13 triliun. BBRI menjadi saham paling banyak dilepas asing sebesar Rp56,86 miliar, diikuti BMRI Rp35,97 miliar dan saham-saham tambang seperti ADMR, ITMG, PTBA.
IHSG ditutup menguat 1,04% ke level 6.093,76 dengan net foreign buy sesi kedua mencapai Rp30,4 miliar, dipimpin aksi beli pada saham ENRG sebesar Rp34 miliar dan EMAS senilai Rp17 miliar.
IHSG ditutup naik 1,04% ke 6.093,76 Jumat (9/10/2026), menguat 0,94% sepekan; 10 saham penopang utama dipimpin MORA (+11,88%, 9,24 poin) dan ASII (+4,10%, 7,71 poin), di tengah net sell asing Rp2,54 triliun.
IHSG sesi I Jumat (9/10/2026) naik 0,35% ke 6.052,51 meski asing net sell Rp32,05 miliar; net buy terbesar SINI Rp15,94 miliar, CUAN Rp12,80 miliar, ARCI Rp9,52 miliar, BBCA Rp9,11 miliar, EMAS Rp8,96 miliar; net sell terbesar GOTO Rp27,91 miliar, BUMI Rp21,98 miliar, BBRI Rp20,63 miliar.
IHSG menguat 1,26% ke level 6.196,09 di akhir Sesi I didorong oleh lonjakan sektor energi sebesar 3,08% dan teknologi 2,1% dengan nilai transaksi mencapai Rp5,62 triliun. Saham BYAN, BBRI, MORA, GOTO, dan DCII tampil sebagai pendorong utama kenaikan indeks.
IHSG melesat 1,01% ke level 6.180,43 pada sesi I ditopang lonjakan sektor energi sebesar 2,5% serta penguatan saham BYAN, BBRI, dan GOTO dengan nilai transaksi mencapai Rp4,03 triliun.
EMAS menyiapkan aksi dual listing di Hong Kong dengan menawarkan 89,66 juta HDR di harga penawaran HK$ 26,60 per unit untuk mendanai ekspansi tambang emas Pani. Didukung tren harga emas global yang kuat, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk saham EMAS dengan target harga Rp7.450.
Setelah reli 17,09% dalam lima hari perdagangan, IHSG sesi I terkoreksi 0,84% ke level 6.202,47 akibat aksi ambil untung dengan sektor utilitas anjlok 8,05%. Pelemahan indeks terutama ditekan oleh kejatuhan saham BREN sebesar 10,59% serta BMRI dan AMMN, kendati laju koreksi tertahan oleh penguatan BBRI dan BBCA.
Saham EMAS mencatatkan transaksi jumbo di pasar negosiasi senilai Rp 2,81 triliun (455,11 juta saham) pada harga rata-rata Rp 6.170, memicu koreksi harga regulernya sebesar 3,57% ke level 6.750.
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menggelar bookbuilding IPO di Bursa Hong Kong dengan dukungan 50% porsi penawaran dasar dari investor raksasa seperti Glencore dan Trafigura. Induk usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tetap mempertahankan kepemilikan strategisnya atas proyek Tambang Emas Pani yang memiliki sumber daya 7,0 juta ounces emas.
Rights issue PANI dengan skala ekstrem berpotensi memicu volatilitas harga saham terkait dan penyesuaian struktur modal. Aksi korporasi ini mencerminkan strategi ekspansi agresif di tengah sentimen pasar yang cenderung netral.
Kebijakan moneter Fed yang stabil menjaga sentimen pasar tetap netral dengan volatilitas rendah. Tidak ada perubahan signifikan pada arus modal asing maupun nilai tukar Rupiah.
Aksi buyback saham ANTM dan emiten emas lainnya mencerminkan upaya manajemen menjaga stabilitas harga di tengah tekanan harga komoditas. Langkah ini memberikan sinyal kepercayaan internal terhadap fundamental perusahaan.
IHSG terkoreksi 1,22% ke level 6.130,19 diiringi net sell jumbo asing senilai Rp 1,6 triliun, meskipun saham JPFA dan FILM tetap diborong asing masing-masing Rp 264,97 miliar dan Rp 238,62 miliar.
IHSG naik 1,10% ke level 6.162,04 didorong lonjakan saham tambang seperti MDKA (+24,77%), namun dibayangi net sell asing Rp1,07 triliun serta ancaman outflow hingga US$2,86 miliar akibat dikeluarkannya DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks FTSE Russell. Di sisi lain, SINI bersiap rights issue Rp5.000 per saham untuk akuisisi anak usaha PTRO senilai Rp1,73 triliun.
Saham MDKA menguat ke Rp 2.850 terdorong rencana private placement 10%, sedangkan EMAS naik ke Rp 7.425 didukung pencapaian first gold pour Tambang Pani dan rencana dual listing di Hong Kong. Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga teknikal untuk MDKA di Rp 3.080 dan EMAS di Rp 7.900.
Tekanan jual asing yang masif mencapai Rp 43,85 triliun year-to-date, diperburuk oleh rebalancing indeks global (MSCI/FTSE) dan sentimen makro seperti pelemahan Rupiah serta kenaikan BI Rate. Investor institusi kini melakukan rotasi portofolio ke saham blue chip yang defensif dan likuid, sementara pasar tetap dalam fase wait-and-see terhadap kebijakan fiskal domestik.
Kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menciptakan ketidakpastian regulasi dan risiko birokrasi yang menekan margin emiten komoditas. Sentimen ini memperburuk risk premium pasar di tengah tekanan outflow asing dan pelemahan Rupiah, memicu volatilitas tinggi pada saham sektor energi dan batubara.
Emiten produsen emas menghadapi tekanan laba pada kuartal I-2026 akibat penurunan volume penjualan seperti BRMS yang anjlok lebih dari 30% YoY, lonjakan biaya operasional, valuasi tinggi, serta ketidakpastian implementasi aturan DHE per 1 Juni 2026.
Penurunan harga emas Antam sebesar Rp15.000 per gram mencerminkan volatilitas harga komoditas global yang wajar. Meskipun berdampak pada margin ritel emas, pergerakan ini tidak signifikan mengubah fundamental operasional ANTM yang lebih banyak didorong oleh volume produksi nikel dan emas tambang.
Penurunan harga emas Antam sebesar Rp15.000 per gram mencerminkan fluktuasi harga komoditas global yang wajar. Meskipun harga jual turun, harga buyback yang stagnan menunjukkan bahwa permintaan likuiditas emas fisik di pasar domestik tetap stabil dan belum terpengaruh secara signifikan oleh sentimen makro.