World Gold Council dan BCG memproyeksikan potensi permintaan emas digital global mencapai US$700 miliar, yang dapat mendorong minat terhadap aset emas dan perusahaan terkait emas.
Bea Cukai DJBC Jawa Tengah dan DIY mengamankan 4.266 gram (4,2 kg) emas padat 24 karat senilai Rp11 miliar dari dua WN Tiongkok yang hendak menyelundupkannya ke Singapura melalui YIA, dengan potensi kerugian bea keluar Rp1,6 miliar.
Maraknya penyelundupan emas Indonesia ke luar negeri (Malaysia dan India) menunjukkan potensi kebocoran sumber daya mineral dan lemahnya pengawasan ekspor komoditas emas nasional.
MNC Sekuritas memperingatkan potensi koreksi IHSG ke rentang 5.744-5.794, dengan support di 5.887 dan 5.744 serta resistance di 6.216 dan 6.296; volume pembelian cenderung mengecil meski IHSG sempat menguat 0,29% ke 5.943.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengambil langkah untuk membatasi/menghentikan banjirnya pasokan nikel Indonesia di pasar global, yang diharapkan menekan kelebihan pasokan (oversupply) dan menopang harga nikel dunia. Aksi ini berpotensi menguntungkan produsen nikel nasional seperti ANTM dan INCO melalui pemulihan harga komoditas.
IHSG turun 0,17% ke level 5.925,98 pada 13/10/2026, namun asing mencatatkan net buy Rp561,60 miliar dengan ASII (Rp44,73 miliar), TINS (Rp35,28 miliar), dan BRMS (Rp34,45 miliar) sebagai saham paling banyak diborong asing.
Proyeksi produksi bahan baku baterai Indonesia diperkirakan meningkat 2 kali lipat pada 2027, sejalan dengan ekspansi hilirisasi nikel dan downstream battery materials di dalam negeri.
Kebijakan Menteri Investasi/BKPM Bahlil Lahadalia terkait pengaturan industri nikel dinilai tak terduga namun berdampak signifikan terhadap pasar nikel dunia, mengindikasikan kebijakan hilirisasi nikel Indonesia yang berpotensi memperkuat harga dan dominasi pasokan global.
MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG rawan melanjutkan koreksi ke rentang 5.850-5.911 usai anjlok 2,59% ke 5.936 akibat tekanan jual yang menembus area support. Saham BRMS direkomendasikan Buy on Weakness setelah terkoreksi 5,93% ke level Rp555.
IHSG anjlok 2,59% ke level 5.975,78 dengan 602 saham terkoreksi, namun investor asing mencatatkan net foreign buy sebesar Rp128,89 miliar. Saham GOTO (Rp134,35 miliar), BBRI (Rp80,31 miliar), dan ASII (Rp78,32 miliar) menjadi incaran utama beli bersih asing di tengah tekanan jual pasar.
IHSG anjlok 2,6% ke level 5.936,15 akibat aksi jual masif pada saham konglomerasi seperti DSSA (-15%), PTRO (-15%), TPIA (-10%), BUMI (-8%), dan BRMS (-6%). Penurunan tajam ini dipicu rumor sanksi serta kekhawatiran pembekuan (freeze) perlakuan saham Indonesia oleh MSCI pada akhir Oktober 2026.
IHSG ditutup naik 1,04% ke 6.093,76 Jumat (9/10/2026), menguat 0,94% sepekan; 10 saham penopang utama dipimpin MORA (+11,88%, 9,24 poin) dan ASII (+4,10%, 7,71 poin), di tengah net sell asing Rp2,54 triliun.
IHSG terkoreksi 0,75% ke 6.146,72 dengan total net foreign sell mencapai Rp871,36 miliar, namun investor asing tetap memborong sejumlah saham defensif dan komoditas. Aksi beli bersih asing terbesar tercatat pada BBRI sebesar Rp129,58 miliar, disusul ULTJ senilai Rp25,92 miliar dan TLKM sebesar Rp22,26 miliar.
Tim Analis Bareksa merekomendasikan saham SMIL, HRTA, ASII, PTBA, MAPI, AADI, BRMS, dan BMRI seiring proyeksi IHSG yang berpeluang melanjutkan penguatan dan bertahan di zona positif.
Investor asing mencatatkan net sell Rp976,66 miliar pada sesi I pasca peninjauan klasifikasi MSCI, memicu IHSG anjlok 1,62% ke 6.002,20 dengan tekanan jual terbesar pada BBRI dan TPIA, meski BREN dibeli Rp107,79 miliar.
Pasar menunjukkan konsolidasi dengan pergerakan netral di tengah dominasi sektor energi. Likuiditas tetap terjaga meski IHSG cenderung bergerak terbatas.
IHSG terkoreksi 1,22% ke level 6.130,19 diiringi net sell jumbo asing senilai Rp 1,6 triliun, meskipun saham JPFA dan FILM tetap diborong asing masing-masing Rp 264,97 miliar dan Rp 238,62 miliar.
Permintaan emas batangan dan koin Indonesia naik 47% YoY pada Q1 2026; kenaikan BI Rate 50 bps memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Suku bunga lebih tinggi menekan kredit dan saham sensitif bunga.
Meskipun IHSG ambles 8,35% ke level 6.162,04 tertekan anjloknya saham TPIA (-53,49%) dan DSSA (-47,34%), investor asing tercatat selektif memborong saham mineral dan komoditas dengan net buy terbesar pada MDKA (Rp691,1 miliar), BRMS (Rp414,3 miliar), dan BUMI (Rp413,1 miliar).
IHSG naik 1,10% ke level 6.162,04 didorong lonjakan saham tambang seperti MDKA (+24,77%), namun dibayangi net sell asing Rp1,07 triliun serta ancaman outflow hingga US$2,86 miliar akibat dikeluarkannya DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks FTSE Russell. Di sisi lain, SINI bersiap rights issue Rp5.000 per saham untuk akuisisi anak usaha PTRO senilai Rp1,73 triliun.
Indeks Bisnis-27 dibuka melemah tipis 0,08% ke level 440,74 tertekan anjloknya saham BUMI (-5,41%), TAPG (-4,94%), dan DEWA (-4,76%). Koreksi indeks komoditas tertahan oleh penguatan saham perbankan besar seperti BBRI (+1,97%) dan BBCA (+1,69%) di tengah sentimen ketegangan Selat Hormuz dan penantian rebalancing MSCI.
Meski IHSG anjlok 8,35% dalam sepekan ke level 6.162,04 dan mencatat net sell asing Rp 2,03 triliun, investor asing terpantau mengakumulasi saham tambang dan energi seperti MDKA (Rp 691,09 miliar), BRMS (Rp 414,27 miliar), dan BUMI (Rp 413,08 miliar).
OCBC Sekuritas merekomendasikan Buy MDKA dengan target harga Rp 4.000 didukung ekspansi segmen emas dan nikel MBMA, sementara laba bersih BRMS melesat 21% YoY menjadi US$ 18 juta di Q1-2026.
Kinerja emiten emas Q1-2026 melonjak solid didorong kenaikan ASP, ditunjukkan oleh laba bersih ANTM yang melesat hampir 60% menjadi Rp 3,41 triliun dan ARCI yang meroket 187,9% ke US$ 30,19 juta. Meski dibayangi volatilitas harga global, kenaikan harga jual rata-rata mampu mengimbangi penurunan volume produksi pada emiten seperti BRMS dan menopang ekspansi MDKA.
Emiten produsen emas menghadapi tekanan laba pada kuartal I-2026 akibat penurunan volume penjualan seperti BRMS yang anjlok lebih dari 30% YoY, lonjakan biaya operasional, valuasi tinggi, serta ketidakpastian implementasi aturan DHE per 1 Juni 2026.
Kinerja kuartal I-2026 emiten emas melonjak ditopang lonjakan harga jual rata-rata (ASP), ditandai laba bersih ANTM yang melesat 60% menjadi Rp 3,41 triliun dan laba ARCI meroket 187,9% menjadi US$ 30,19 juta. Kinerja solid juga ditopang oleh BRMS yang mencatat ASP US$ 4.512 per ounce serta potensi akselerasi produksi MDKA dari proyek Pani.
Tekanan jual masif pada saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu dan emiten komoditas menjadi katalis utama pelemahan IHSG secara mingguan. Koreksi tajam pada konstituen berkapitalisasi besar (big caps) seperti TPIA, BREN, dan AMMN mengindikasikan adanya aksi profit taking atau rebalancing portofolio institusi yang signifikan.
IHSG menghadapi tekanan jual masif akibat kombinasi arus keluar asing pasca-rebalancing FTSE/MSCI, pelemahan Rupiah ke level Rp17.700, dan kenaikan BI Rate. Meskipun valuasi secara fundamental sudah terdiskon (undervalue), sentimen makro dan risiko kebijakan domestik terus memicu aksi jual pada saham-saham big caps.
IHSG berhasil rebound 1,10% ke level 6.162,04 setelah terkoreksi delapan hari berturut-turut dengan total transaksi mencapai Rp 21,56 triliun. Kendati investor asing masih mencatat net sell harian Rp 309,45 miliar, saham MDKA dan BRMS memimpin aksi beli bersih asing masing-masing sebesar Rp 173,62 miliar dan Rp 171,23 miliar.
IHSG ditutup menguat 1,10% ke level 6.162,05 ditopang lonjakan sektor bahan baku sebesar 3,38% serta dorongan saham MDKA dan BRMS, meski asing mencatatkan net sell Rp340,5 miliar di sesi I.
IHSG anjlok tajam 3,54% (-223,56 poin) ke level 6.094,94 dengan nilai transaksi mencapai Rp18,03 triliun dan 700 saham tercatat melemah. Tekanan jual masif ini dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti ASII, BRMS, BYAN, dan MORA saat bursa Asia lainnya justru mayoritas menguat.
Harga emas Antam dan UBS di Pegadaian naik, mengindikasikan penguatan harga emas ritel. Dampak langsung ke saham IDX terbatas; belum cukup untuk menyimpulkan tren harga emas global.
Emas menembus US$2.400/oz didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan stimulus properti China. Sentimen positif bagi penambang emas IDX, tetapi dampak pasar luas terbatas.
Emas mendekati rekor, didorong harapan penurunan suku bunga AS dan stimulus properti China. Sentimen positif bagi penambang emas, tetapi dampak ke IHSG terbatas.
Emas dan perak menguat karena ekspektasi penurunan suku bunga; harga emas tinggi menopang margin penambang, tetapi pembelian bank sentral berpotensi melambat.
Emas turun 0,73% menjelang data inflasi AS dan pidato Powell, tetapi prospek akhir tahun tetap positif berkat pembelian bank sentral, potensi pemangkasan suku bunga, dan risiko geopolitik.
Buyback emas Antam mendekati rekor, didukung kenaikan harga emas global. Sentimen positif terbatas bagi saham terkait emas; pasar saham luas terdampak minim.
Emas reli 2,6% sepekan, didukung data tenaga kerja AS melemah dan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed. Sentimen positif bagi penambang emas; arah suku bunga tetap bergantung pada data lanjutan.
Harga emas Antam dan UBS di Pegadaian naik 1,5–1,8% untuk ukuran 0,5 gram. Sinyal positif terbatas bagi emiten emas; belum cukup untuk menyimpulkan tren harga global.
Emas naik 1,5% karena data tenaga kerja AS memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed. Harga emas lebih tinggi mendukung saham penambang emas, tetapi volatilitas tetap tinggi.
Emas naik ke level tertinggi lebih dari dua pekan, didorong data tenaga kerja AS yang melemah dan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed. Data inflasi AS pekan depan menjadi katalis utama.
Emas spot naik 0,95% ke US$2.330,51/ons setelah klaim pengangguran AS melampaui perkiraan, menguatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Dolar melemah; sentimen mendukung saham terkait emas.
Logam masih berpeluang menguat ditopang ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan permintaan industri; kenaikan jangka pendek terbatas, dengan risiko koreksi perak.
Emas terkoreksi 0,40% akibat penguatan dolar, tetapi konflik Timur Tengah menopang harga di atas US$2.300. Arah selanjutnya bergantung pada ekspektasi suku bunga The Fed.
Emas spot naik 0,8% ke US$2.320,33/ons akibat dolar melemah dan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed meningkat. Ketegangan Timur Tengah menambah dukungan.
Emas menguat ditopang dolar AS melemah, ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed, dan risiko geopolitik. Momentum berlanjut selama harga bertahan di atas US$2.280.
Emas diperkirakan konsolidasi; data tenaga kerja AS yang melemah mendukung prospek pelonggaran suku bunga, tetapi suku bunga tinggi dan meredanya ketegangan Timur Tengah membatasi kenaikan.
Emas turun tipis setelah data tenaga kerja AS yang lemah gagal mengubah ekspektasi pemangkasan suku bunga. Dolar melemah, tetapi harga emas kembali ke kisaran US$2.300 per troy ounce.
Kinerja emiten emas kuartal I/2024 beragam: ANTM, AMMN, ARCI mencatat laba bersih turun, sementara BRMS meningkat. Harga emas tinggi belum merata mendorong kinerja.