Harga Emas Tertekan Dolar dan Imbal Hasil US Treasury
Harga emas tertekan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury, berpotensi menekan saham-saham emiten emas di Indonesia.
PT Amman Mineral Internasional Tbk
Harga Terakhir
3.740
Perubahan
+10 (+0.27%)
Lot
640.46K
Val
239.53B
Avg Val (20H)
255.18B
Penanda ▲/▼ = hari dengan berita bullish/bearish dominan (angka = jumlah berita). Klik chart pada tanggal itu untuk menyorot beritanya.
Harga emas tertekan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury, berpotensi menekan saham-saham emiten emas di Indonesia.
IHSG masih terkoreksi 3,53% ke level 5.002,28 namun memangkas pelemahan dari -5% di akhir Sesi I berkat kabar Danantara akan masuk membeli saham BUMN yang jatuh dalam. Saham penopang pemulihan antara lain BSIM, BMRI, AADI, PTBA, DSSA, sementara BBCA, BBRI, BYAN, TLKM, AMMN masih jadi pemberat.
IHSG ambruk 11,57% ke level 5.185 akibat rencana MSCI mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan 812 saham melemah dan hanya 11 saham menguat. Saham pemberat utama adalah BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan AMMN, sementara sektor infrastruktur anjlok 14,3%, material dasar 13,3%, dan kesehatan 13,1%.
UNTR memimpin penggerak IHSG September 2026 dengan kenaikan 11,88% dan kontribusi 8,51 poin, diikuti AMMN (+4,16%, 7,59 poin) dan FORU yang melonjak 76,38% dengan kontribusi 5,34 poin.
IHSG ditutup menguat 1,04% ke 6.093,76 pada Jumat (9/10/2026), ditopang BBRI +2,31%, AMMN +4,01%, TLKM +2,65% sebagai leading movers dengan net buy asing keseluruhan Rp29,63 miliar (net sell reguler Rp141,50 miliar); PT Mandiri Herindo Adiperkasa (MAHA) meraih kontrak transportasi batu bara Rp2,20 triliun hingga 2030 dengan pendapatan semester I 2026 tumbuh 34,13% YoY menjadi Rp1,65 triliun dan laba bersih melonjak 1.002,01%.
IHSG ditutup naik 1,04% ke 6.093,76 Jumat (9/10/2026), menguat 0,94% sepekan; 10 saham penopang utama dipimpin MORA (+11,88%, 9,24 poin) dan ASII (+4,10%, 7,71 poin), di tengah net sell asing Rp2,54 triliun.
Kajian BRIN menyimpulkan komunitas CBSR belum memenuhi kriteria yuridis masyarakat hukum adat; kajian jadi dasar kebijakan Bupati Sumbawa untuk sengketa klaim lahan ~28.975 ha dan tuntutan Rp7 T terhadap PT Amman Mineral Nusa Tenggara (Blok Elang).
IHSG terkoreksi 0,75% ke level 6.146,72 diiringi aksi jual bersih asing senilai Rp871,36 miliar di seluruh pasar. Tekanan jual asing paling besar tercatat pada saham BBCA sebesar Rp299,69 miliar dan GOTO senilai Rp147,37 miliar.
Fed macro event berdampak pada sektor banking dengan sentimen netral
Fed macro event berdampak pada IHSG
Fed macro event berdampak pada IHSG bearish
Tim Analis Bareksa merekomendasikan quick trade untuk AADI (target Rp12.750–13.100), DSSA (target Rp1.225–1.260), dan ENRG (target Rp1.135–1.170) didukung proyeksi IHSG bergerak positif di rentang 6.119–6.232.
Fed macro event berdampak pada saham BYAN
Fed macro event berdampak pada IHSG bullish
IHSG ditutup menguat 1,21% ke level 6.192,93 ditopang lonjakan sektor energi sebesar 4,14% serta penguatan saham BYAN, AMMN, dan GOTO dengan total transaksi Rp10,97 triliun. Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan jual pada BBCA dan BBRI serta lonjakan imbal hasil US Treasury 10-tahun ke 5,307%.
Investor asing mencatatkan net sell Rp976,66 miliar pada sesi I pasca peninjauan klasifikasi MSCI, memicu IHSG anjlok 1,62% ke 6.002,20 dengan tekanan jual terbesar pada BBRI dan TPIA, meski BREN dibeli Rp107,79 miliar.
Setelah reli 17,09% dalam lima hari perdagangan, IHSG sesi I terkoreksi 0,84% ke level 6.202,47 akibat aksi ambil untung dengan sektor utilitas anjlok 8,05%. Pelemahan indeks terutama ditekan oleh kejatuhan saham BREN sebesar 10,59% serta BMRI dan AMMN, kendati laju koreksi tertahan oleh penguatan BBRI dan BBCA.
Kondisi makroekonomi saat ini cenderung stabil dengan volatilitas rendah dan aliran modal asing yang netral. Tidak ada katalis signifikan dari kebijakan The Fed yang memicu pergerakan pasar secara drastis.
Pasar menunjukkan stabilitas dengan volatilitas rendah dan aliran modal asing yang netral. Fokus investor tetap tertuju pada sektor energi di tengah kondisi makro yang stabil.
IHSG merosot 1,22% ke level 6.130,19 dengan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp 1,6 triliun, di mana saham TPIA dilepas Rp 386,04 miliar dan BBCA dilepas Rp 359,76 miliar.
IHSG dibuka menguat tipis 0,03% ke level 6.208,45 didorong penguatan saham CUAN (+5,97%) dan BRPT (+4,05%). Namun, penguatan indeks tertahan oleh koreksi saham big banks seperti BBRI, BBCA, dan BBNI seiring antisipasi rebalancing MSCI serta tensi geopolitik global.
Investor asing membukukan net sell sebesar Rp 823,3 miliar di sesi 1 yang menekan IHSG turun 0,91% ke level 6.149,68. Tekanan jual asing terbesar terkonsentrasi pada saham perbankan jumbo, yakni BBCA sebesar Rp 232,2 miliar dan BBRI senilai Rp 138,1 miliar.
Pasar dalam mode risk-off dengan volatilitas rendah, IHSG dan foreign flow netral, USD/IDR melemah. Sektor energi menjadi top sektor.
IHSG menguat 0,72% (44,30 poin) ke level 6.206,35 dengan transaksi Rp 16,88 triliun, ditopang kenaikan saham perbankan besar BBRI, BBCA, BMRI serta emiten ASII dan AMMN.
Meskipun net sell asing melandai menjadi Rp809,1 miliar menjelang efektif indeks MSCI, IHSG anjlok 8,35% ke level 6.162,04 akibat kejatuhan saham grup Prajogo Pangestu seperti TPIA (-53,49%) dan aksi jual asing terbesar pada BBCA (Rp1,03 triliun).
IHSG dibuka menguat 0,29% ke level 6.179,67 didorong reli saham SCMA (+2,73%), ISAT (+2,44%), dan BBRI (+2,30%). Namun, sektor energi seperti CUAN (-5,63%) dan DEWA (-4,23%) tertekan oleh volatilitas jelang implementasi ekspor komoditas Danantara per 1 Juni 2026.
Market in risk-off mode with low volatility and weak USD/IDR, energy sector leading.
Asing net sell Rp1,1 triliun, banyak lepas saham komoditas seperti AMMN. Tekanan jual asing signifikan.
IHSG ambruk 8,35% dalam sepekan, dengan net sell asing Rp2,03 triliun, terutama di saham blue chip seperti BBCA, AMMN, dan ANTM. Tekanan jual asing yang masif menunjukkan sentimen negatif investor global terhadap pasar Indonesia, meskipun ada rebound tipis di akhir pekan.
Ketidakpastian skema satu pintu ekspor menekan sentimen pada emiten batu bara dan CPO; perluasan ke logam serta LNG menambah risiko kebijakan. Investor menunggu rincian implementasi dan dampaknya pada arus dana eksportir.
Tekanan jual masif pada saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu dan emiten komoditas menjadi katalis utama pelemahan IHSG secara mingguan. Koreksi tajam pada konstituen berkapitalisasi besar (big caps) seperti TPIA, BREN, dan AMMN mengindikasikan adanya aksi profit taking atau rebalancing portofolio institusi yang signifikan.
IHSG rebound 1,10% setelah turun delapan hari, tetapi masih melemah 8,35% sepekan. Asing tetap net sell Rp2,03 triliun sepekan; BBCA dan BMRI paling banyak dijual.
IHSG ditutup menguat 1,10% ke level 6.162,05 ditopang lonjakan sektor bahan baku sebesar 3,38% serta dorongan saham MDKA dan BRMS, meski asing mencatatkan net sell Rp340,5 miliar di sesi I.
IHSG menguat 1,10% ke level 6.162,04 didorong sektor barang baku yang melesat 6,85% dan lonjakan saham MDKA (+24,77%) serta INCO (+18,84%). Nilai transaksi bursa tercatat mencapai Rp 19,82 triliun dengan 449 saham mengalami kenaikan.
IHSG berhasil rebound 1,10% ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat ditopang reli sektor energi dan basic materials, meski secara kumulatif masih anjlok 8,35% dalam sepekan. Penguatan didorong rumor penundaan kebijakan ekspor komoditas strategis hingga 1 Januari 2027 yang mengerek saham MDKA, INCO, DEWA, dan BUMI.
Review kuartalan indeks FTSE Russell membayangi pergerakan dana asing pada saham BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMMN, sementara bank besar (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) dinilai relatif aman dengan IHSG menguji level support 5.900-6.000.
IHSG anjlok 3,54% ke level 6.094,94 tertekan asumsi RAPBN 2027 dan rencana kebijakan ekspor SDA satu pintu via BUMN yang memicu kejatuhan saham MEDC (-14,84%), DEWA (-11,64%), dan BRPT (-11,05%).
IHSG sesi I menguat 0,30% ke level 6.113,44 didorong lonjakan sektor barang baku sebesar 3,78% dan energi 2,31% dengan total transaksi Rp 10,17 triliun. Penguatan LQ45 dipimpin oleh MDKA (+16,97%), HRTA (+7,04%), dan INCO (+5,14%), meskipun tertahan pelemahan CUAN, AMMN, dan ASII.
IHSG anjlok signifikan 3,54% atau 223,55 poin ke level 6.094,94 dengan 663 saham melemah dan sektor energi anjlok paling dalam sebesar 6,91%. Saham MEDC (-14,84%), DEWA (-11,64%), dan BRPT (-11,05%) memimpin pelemahan sebagai top losers di indeks LQ45.
IHSG anjlok 3,54% ke level 6.094,94 di tengah penguatan bursa Asia akibat isu transparansi MSCI dan kenaikan suku bunga BI 50 bps, dengan saham TPIA, DSSA, BREN, dan AMMN anjlok hingga 23%-52%.
IHSG anjlok 3,54% ke level 6.094,94 dengan 700 saham memerah akibat sentimen asumsi makro RAPBN 2027 dan kebijakan ekspor komoditas SDA satu pintu via BUMN. Saham energi dan konglomerasi seperti MEDC, MBMA, DEWA, dan BRPT memimpin pelemahan dengan koreksi tajam di atas 11% hingga 14%.
IHSG anjlok tajam 3,54% (-223,56 poin) ke level 6.094,94 dengan nilai transaksi mencapai Rp18,03 triliun dan 700 saham tercatat melemah. Tekanan jual masif ini dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti ASII, BRMS, BYAN, dan MORA saat bursa Asia lainnya justru mayoritas menguat.
IHSG anjlok 2,76% ke level 6.144,35 pada Sesi I tertekan kejatuhan seluruh sektor, terutama barang baku (-6,49%) dan energi (-5,02%). Sebanyak 601 saham terkoreksi dengan BRPT (-12,50%), CUAN (-9,32%), dan MEDC (-9,03%) memimpin jajaran top losers di LQ45.
IHSG dibuka naik 0,55% ke 6.353,09 ditopang penguatan saham big caps seperti BBCA (+1,26%) dan lonjakan MORA (+10,88%), kendati dibayangi kenaikan BI Rate 50 bps menjadi 5,25% serta paparan RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo.
Setelah ditutup melemah 0,82% ke level 6.318,50 tertekan saham BRPT dan CUAN, IHSG dibuka rebound 0,55% ke 6.353,09 didorong penguatan saham perbankan seperti BBCA dan BMRI. MNC Sekuritas memproyeksikan rentang support indeks di 6.148-6.092 serta merekomendasikan buy on weakness untuk AADI, HRTA, dan MBMA.
IHSG berbalik anjlok 2,16% ke level 6.181,77 pada pukul 09.45 WIB akibat tekanan jual masif di hampir seluruh sektor, terutama saham komoditas seperti MEDC yang anjlok 9,03%, BRPT turun 8,72%, dan CUAN melemah 8,47%.
IHSG melemah 0,82% ke level 6.318,50 tertekan kekhawatiran kebijakan ekspor komoditas SDA satu pintu melalui BUMN untuk batu bara, kelapa sawit, dan feroalloy yang diumumkan Presiden Prabowo. Saham komoditas swasta seperti BRPT (-10,18%), CUAN (-9,23%), dan BUMI (-6,99%) anjlok akibat potensi penurunan margin, meski emiten BUMN PTBA justru naik 6,42%.
IHSG naik 3,22% sepekan dengan transaksi menguat; asing memborong TPIA dan BBNI. Namun, investor asing masih mencatat jual bersih tipis sepanjang 2024.
Harga tembaga dan platinum naik akibat kendala pasokan, permintaan kuat, suku bunga turun, dan risiko geopolitik. Prospek tembaga lebih kuat; kenaikan platinum berpotensi terbatas oleh persaingan paladium dan tren EV.
IHSG naik 1,36% ke 7.179,83 dengan transaksi Rp12,01 triliun. Asing tetap net sell Rp136,09 miliar, tetapi memburu TPIA, TLKM, dan AMMN.
IHSG naik 1,36% ke 7.179,83, ditopang delapan sektor. Asing net sell Rp136,09 miliar; beli TPIA, jual BBRI terbesar.
IHSG naik 1,36%, ditopang surplus dagang, optimisme suku bunga AS, dan reli saham Prajogo Pangestu serta bank BUMN. Kenaikan relatif terkonsentrasi; 257 saham melemah.
Harga tembaga rekor tertinggi sejak 2022 akibat defisit pasokan global. Prospek pendapatan emiten tembaga menguat, tetapi harga komoditas tetap volatil.
IHSG naik 0,15% meski asing net sell Rp 2,01 triliun; tekanan jual terkonsentrasi di TAPG, BBRI, dan BBCA. Sektor teknologi memimpin kenaikan, sementara EXCL dan ASII mencatat net buy asing terbesar.
IHSG naik tipis 0,15% ke 7.099,26, meski saham melemah lebih banyak daripada yang menguat. Kenaikan UNVR, AMMN, dan BBNI mengimbangi tekanan BREN, BMRI, dan ASII.
Logam masih berpeluang menguat ditopang ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan permintaan industri; kenaikan jangka pendek terbatas, dengan risiko koreksi perak.
Emas berpeluang naik terbatas ditopang ekspektasi penurunan suku bunga AS; tembaga ditopang risiko pasokan meski harga melemah harian.
IHSG turun 0,17% dengan saham melemah melampaui saham menguat; tekanan terkonsentrasi pada bank besar dan teknologi. Pertumbuhan ekonomi kuat belum mengimbangi kekhawatiran biaya pendanaan.
Rotasi investor dari perbankan ke energi terbarukan dan komoditas mengangkat BREN serta AMMN; AMMN menyalip BBRI berdasarkan kapitalisasi pasar.
IHSG naik tipis 0,02% ke 7.135,89; penguatan BMRI, AMMN, dan BBRI tertahan koreksi BREN dan TLKM.